Padang, pasbana - Di sudut Kota Padang, jejak sejarah itu masih ada. Bangunan tua berdiri diam, lorong-lorong sempit menyimpan kisah perdagangan masa lampau, dan aroma sejarah terasa kuat di kawasan Pondok. Kini, kawasan yang dikenal sebagai Kota Tua Padang itu bersiap tampil dengan wajah baru.
Pemerintah Kota Padang tengah menggenjot revitalisasi kawasan Kota Tua sebagai salah satu motor penggerak pariwisata. Fokusnya bukan sekadar memperbaiki infrastruktur, melainkan menghidupkan kembali ruang sejarah agar kembali relevan dan menarik bagi wisatawan masa kini.
Salah satu langkah awalnya dimulai dari Jalan Klenteng, ruas jalan yang menjadi urat nadi kawasan Kota Tua. Jalan ini menghubungkan kawasan “Padang Old Town” hingga Klenteng lama—wilayah yang sarat nilai sejarah dan budaya multietnis.
“Ke depan, jalan tersebut tidak lagi dibalut aspal. Kita akan gunakan batu alam atau paving block agar suasananya lebih historis dan ramah pejalan kaki,” ujar Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Permukiman Rakyat (DPUPR) Kota Padang, Tri Hadiyanto, Jumat (30/1/2026).
Menurut Tri, konsep ini sengaja dipilih untuk menyesuaikan karakter kawasan cagar budaya. Penataan jalan dan trotoar dirancang agar kawasan Kota Tua tidak hanya menjadi jalur lalu lintas, tetapi juga ruang publik—tempat orang berjalan santai, berfoto, hingga menikmati suasana tempo dulu.
Revitalisasi ini bukan sekadar wacana. Detail Engineering Design (DED) untuk kawasan Kota Tua telah rampung dan berada di tangan pemerintah kota. DED tersebut menjadi peta jalan penataan kawasan, mulai dari infrastruktur dasar, estetika kawasan, hingga kenyamanan pengunjung.
“Dengan DED yang sudah siap, revitalisasi bisa dilakukan secara terarah. Harapannya, Kota Tua Padang bisa menjadi destinasi wisata sejarah yang benar-benar hidup,” kata Tri.
Upaya ini sejalan dengan tren pengembangan kota di berbagai daerah di Indonesia. Banyak kota besar—seperti Jakarta dengan Kota Tua, Semarang dengan Kota Lama, hingga Surabaya dengan kawasan Peneleh—membuktikan bahwa revitalisasi kawasan bersejarah mampu mendongkrak kunjungan wisata dan ekonomi lokal.
Tak hanya jalan dan trotoar, wajah bangunan tua pun ikut dibenahi. Kepala Dinas Pariwisata Kota Padang, Yudi Indrasyani, menyebut pihaknya berencana melakukan pengecatan ulang terhadap bangunan-bangunan cagar budaya di kawasan tersebut.
“Di kawasan Kota Tua terdapat sekitar 19 bangunan cagar budaya. Kita ingin tampilannya lebih segar tanpa menghilangkan nilai historisnya,” ujar Yudi.
Langkah ini dinilai penting karena tampilan visual menjadi daya tarik utama wisatawan, terutama di era media sosial. Bangunan tua dengan warna yang tepat dan penataan yang rapi bisa menjadi spot foto ikonik, sekaligus sarana edukasi sejarah.
Namun, keterbatasan anggaran membuat pemerintah kota membuka peluang kolaborasi.
Namun, keterbatasan anggaran membuat pemerintah kota membuka peluang kolaborasi.
“Saat ini kami sedang berupaya mencari donatur yang bersedia membantu pengecatan bangunan cagar budaya,” kata Yudi.
Model kolaborasi semacam ini bukan hal baru. Di sejumlah kota wisata, keterlibatan swasta, komunitas, hingga pemilik bangunan terbukti efektif dalam menjaga kelestarian kawasan heritage secara berkelanjutan.
Revitalisasi Kota Tua Padang sejatinya bukan hanya soal mempercantik kota. Lebih dari itu, ini adalah upaya merawat ingatan kolektif dan menjadikannya bagian dari kehidupan modern.
Kawasan Kota Tua menyimpan sejarah panjang Padang sebagai kota pelabuhan, pusat perdagangan, dan titik pertemuan berbagai budaya. Jika dikelola dengan tepat, kawasan ini berpotensi menjadi ruang belajar terbuka—tempat wisatawan tidak hanya berkunjung, tetapi juga memahami cerita di balik setiap bangunan dan jalan.
Dengan penataan yang lebih manusiawi, sentuhan estetika yang tepat, serta dukungan lintas sektor, Kota Tua Padang diharapkan bisa bangkit sebagai destinasi wisata sejarah unggulan Sumatra Barat—hidup, berwarna, dan relevan dengan zaman.
Dan ketika batu alam menggantikan aspal, serta warna baru menyapa bangunan lama, Kota Tua Padang seolah berkata: sejarah tak pernah usang, ia hanya menunggu untuk dirayakan kembali.
(*)




