Dharmasraya, pasbana - Di sudut timur Sumatera Barat, tepatnya di Kabupaten Dharmasraya, ada kisah tentang perjumpaan dua kebudayaan besar Nusantara: Jawa dan Minangkabau.
Pertemuan itu bukan sekadar catatan sejarah, melainkan denyut kehidupan sehari-hari yang terasa hangat dan akrab.
Di wilayah transmigrasi seperti Sitiung, jejak pertemuan itu tampak jelas. Sejak program transmigrasi digulirkan pemerintah pada era 1970–1980-an, ribuan keluarga dari Pulau Jawa menetap dan membuka lembaran hidup baru di Dharmasraya.
Di wilayah transmigrasi seperti Sitiung, jejak pertemuan itu tampak jelas. Sejak program transmigrasi digulirkan pemerintah pada era 1970–1980-an, ribuan keluarga dari Pulau Jawa menetap dan membuka lembaran hidup baru di Dharmasraya.
Mereka datang membawa bahasa, adat, kesenian, dan tradisi. Di sisi lain, masyarakat Minangkabau sebagai penduduk asli menyambut dengan falsafah yang telah lama hidup: adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah—adat bersendi agama, agama bersendi kitab suci.
Hasilnya? Bukan benturan, melainkan percampuran yang lentur.
Bahasa yang Melebur, Identitas yang Tetap Utuh
Di pasar, di sawah, atau di warung kopi, percakapan sering terdengar unik. Satu kalimat bisa memadukan logat Jawa dengan kosakata Minang. Dialek campuran itu lahir alami dari interaksi sehari-hari.
Anak-anak generasi kedua dan ketiga bahkan tumbuh sebagai penutur dua budaya. Di rumah mereka bisa berbicara Jawa, di sekolah dan lingkungan sosial menggunakan Minang, kadang keduanya sekaligus. Inilah wujud nyata akulturasi: budaya baru tumbuh tanpa menanggalkan akar lama.
Secara sosiologis, proses ini mencerminkan apa yang disebut para ahli sebagai akulturasi—pertemuan dua kebudayaan yang saling memengaruhi tanpa menghilangkan ciri khas masing-masing. Peneliti sosial menyebut pola seperti ini sebagai integrasi kultural yang relatif harmonis, terutama ketika didukung nilai toleransi dan interaksi ekonomi yang kuat.
Ketika Pelaminan Menjadi Titik Temu
Momen paling menarik dari perjumpaan budaya itu sering terlihat dalam upacara pernikahan.
Bayangkan sepasang pengantin: sang mempelai perempuan mengenakan suntiang khas Minangkabau, sementara prosesi seserahan ala Jawa tetap dilaksanakan dengan khidmat. Dalam satu rangkaian acara, tamu bisa menyaksikan tari pasambahan sekaligus tradisi sungkeman.
Perkawinan lintas etnis menjadi ruang negosiasi budaya yang indah. Keluarga duduk bersama, menyepakati unsur adat mana yang akan dipakai, tanpa merasa identitasnya tergerus. Di sinilah toleransi bukan sekadar slogan, melainkan praktik nyata.
Wayang dan Kuda Lumping di Ranah Minang
Akulturasi juga hadir di panggung kesenian. Pertunjukan kuda lumping atau wayang kulit—yang identik dengan budaya Jawa—kadang digelar dalam acara kemasyarakatan di Dharmasraya. Menariknya, masyarakat Minang ikut menikmati dan bahkan terlibat dalam penyelenggaraannya.
Sebaliknya, kesenian Minang seperti randai atau saluang juga dikenal oleh komunitas Jawa setempat. Pertukaran ini memperkaya khazanah budaya lokal, menjadikan Dharmasraya sebagai ruang kebudayaan yang dinamis.
Menurut data Badan Pusat Statistik Sumatera Barat, Dharmasraya termasuk daerah dengan komposisi penduduk yang heterogen akibat program transmigrasi. Keragaman ini menjadi modal sosial penting dalam membangun kohesi masyarakat.
Dari Dapur hingga Meja Makan
Akulturasi paling mudah dirasakan justru di dapur. Gulai khas Minang berdampingan dengan pecel atau tempe bacem di meja makan keluarga. Teknik memasak, bumbu, hingga cara penyajian saling memengaruhi.
Tak jarang, hajatan kampung menyajikan rendang dan gudeg dalam satu pesta. Adaptasi kuliner ini menunjukkan bahwa identitas tidak perlu dipertentangkan—ia bisa berdampingan dan saling melengkapi.
Toleransi sebagai Warisan Bersama
Dharmasraya hari ini adalah potret Indonesia dalam skala kecil: beragam, namun menyatu. Akulturasi Jawa–Minangkabau di wilayah seperti Sitiung memperlihatkan bahwa keberagaman bisa menjadi kekuatan sosial.
Dalam konteks kebangsaan, kisah ini menjadi pengingat bahwa transmigrasi bukan hanya proyek demografis, tetapi juga proyek kebudayaan. Ia menciptakan ruang dialog antaretnis yang, jika dikelola dengan baik, melahirkan harmoni.
Di tengah berbagai isu intoleransi yang kerap menghiasi ruang publik nasional, Dharmasraya menawarkan narasi berbeda: bahwa perbedaan bukan alasan untuk menjauh, melainkan peluang untuk saling belajar.
Dan di sana, di antara logat yang bercampur dan pelaminan yang memadukan dua adat, Indonesia menemukan wajah aslinya—beragam, namun tetap satu. Makin tahu Indonesia.(*)







