Notification

×

Iklan

Iklan

Laili Roesad: Perempuan Minang yang Membuka Gerbang Diplomasi Indonesia

07 Februari 2026 | 08:30 WIB Last Updated 2026-02-07T10:33:32Z


Pasbana - Di sebuah masa ketika dunia diplomasi masih didominasi kaum lelaki—dan suara perempuan sering kali hanya menjadi gema di ruang domestik—lahirlah seorang perempuan Minangkabau yang kelak menembus batas itu dengan tenang namun pasti. Namanya Laili Roesad.

Ia lahir di Padang, 19 September 1916, dari pasangan Rusad Datuk Perpatih Baringek dan Hasnah. Ayahnya dikenal sebagai tokoh penting Minangkabau yang pernah menjabat Sekretaris Minangkabau Raad, sebuah lembaga perwakilan adat dan pemerintahan pada masa kolonial. 

Ibunya, Hasnah, perempuan asal Payakumbuh, tercatat dalam sejarah sebagai anak perempuan pertama lulusan MULO (Meer Uitgebreid Lager Onderwijs) di Padang—sebuah capaian langka bagi perempuan pribumi awal abad ke-20.

Dari rahim keluarga yang menempatkan pendidikan sebagai nilai utama itulah, Laili tumbuh.

Sekolah Modern dan Pikiran yang Terbuka


Jejak awal intelektual Laili Roesad dimulai di Perguruan Adabiah Padang, sekolah modern pertama di Sumatra Barat yang menjadi simbol kebangkitan pendidikan kaum bumiputra. Adabiah bukan sekadar sekolah; ia adalah ruang pertemuan gagasan modern, nasionalisme, dan kesadaran akan kesetaraan.

Lingkungan inilah yang menempa Laili menjadi perempuan Minang yang berpikir maju—tanpa tercerabut dari akar budayanya.




Kecintaannya pada ilmu hukum membawanya ke Jakarta. Pada tahun 1941, ia meraih gelar Meester in de Rechten (Mr.), gelar sarjana hukum yang prestisius pada masa Hindia Belanda. Tak heran jika dalam dokumen-dokumen resmi negara, namanya kerap tertulis sebagai “Mr. Laili Roesad”—sebuah penanda kompetensi, bukan sekadar simbol status.

Menembus Dunia Diplomasi yang Maskulin


Indonesia merdeka pada 1945, dan empat tahun kemudian, Laili Roesad memilih jalan yang tak biasa bagi perempuan sezamannya: diplomasi internasional. Pada 1949, ia resmi bergabung dengan Departemen Luar Negeri Republik Indonesia.

Di tengah struktur birokrasi yang masih sangat patriarkal, kehadiran Laili menjadi anomali yang perlahan berubah menjadi preseden. Ia bekerja bukan sebagai “pelengkap”, melainkan sebagai diplomat penuh—mewakili kepentingan negara di forum global.




Puncak kariernya datang pada 1959, ketika Presiden Soekarno melantiknya sebagai Duta Besar Republik Indonesia untuk Belgia dan Luksemburg. Dengan pelantikan itu, Laili Roesad mencatatkan sejarah sebagai perempuan pertama Indonesia yang menjabat sebagai duta besar.

Tak berhenti di sana. Pada periode 1967–1970, ia kembali dipercaya negara sebagai Duta Besar RI untuk Austria, salah satu pusat diplomasi Eropa dan markas berbagai organisasi internasional.

Perempuan Minang dan Diplomasi Dunia


Keberhasilan Laili Roesad kerap dibaca sebagai pengejawantahan nilai perempuan Minangkabau: mandiri, terdidik, dan tangguh dalam mengambil peran publik. Dalam sistem matrilineal Minangkabau, perempuan memang memegang posisi sentral dalam keluarga—namun Laili membuktikan bahwa peran itu dapat meluas hingga panggung global

Ia bukan sekadar “perempuan pertama”, melainkan simbol transisi zaman: dari tradisi ke modernitas, dari domestik ke diplomatik, dari lokal ke internasional.

Warisan yang Kerap Terlupa


Laili Roesad wafat pada tahun 2003, meninggalkan jejak yang sayangnya belum banyak dikenang secara luas. Padahal, kisah hidupnya menyimpan pesan penting bagi generasi hari ini: bahwa kesetaraan bukan hadiah, melainkan hasil dari keberanian, pendidikan, dan ketekunan.

Di tengah kembali menguatnya wacana peran perempuan dalam kepemimpinan publik, nama Laili Roesad seharusnya kembali disebut—bukan sebagai nostalgia, melainkan sebagai teladan. Makin tahu Indonesia.
(*)

IKLAN

×
Kaba Nan Baru Update