Notification

×

Iklan

Iklan

Flow Uang: Rahasia Saham Naik Lalu Ambruk atau Jadi Tenbagger

14 Februari 2026 | 19:37 WIB Last Updated 2026-02-15T06:34:20Z


Pasbana - Pasar saham sering terasa seperti pesta. Ada saham yang tiba-tiba melonjak tinggi, ramai dibicarakan, semua orang ingin ikut. Tapi tak lama kemudian, harganya kembali turun, bahkan ambruk. Di sisi lain, ada saham yang naik perlahan tapi konsisten, bahkan bisa menjadi multibagger atau tenbagger.

Apa bedanya?
Jawabannya sederhana: flow uang.

Mari kita pahami kenapa suatu saham bisa naik hanya untuk turun lagi, sementara yang lain mampu sustain. Kita akan membedah peran hot money, sentimen pasar, hingga konsep intrinsic value (nilai wajar perusahaan) dengan bahasa sederhana dan contoh nyata dari tren terbaru pasar.

80% Uang di Bursa Itu “Hot Money”


Beberapa analis pasar pernah menghitung bahwa sekitar 80% uang beredar di bursa bersifat hot money.

Apa itu hot money?
Bukan berarti uang hasil pinjaman bank atau gadai. Yang dimaksud adalah uang yang masuk ke saham hanya karena:

  • Saham sedang uptrend (tren naik),
  • Ada sentimen positif,
  • Atau sekadar FOMO (fear of missing out/ikut-ikutan).
Selama harga naik, uang terus masuk. Begitu tren berhenti atau sentimen basi, uang keluar.
Rumusnya sederhana:
  • Uang masuk → harga naik
  • Uang keluar → harga turun
  • Uang masuk = uang keluar → harga kembali ke titik awal
Inilah yang sering disebut pasar sebagai zero sum game. Yang untung satu pihak, biasanya ada pihak lain yang jadi korban di harga atas.

Kenapa Banyak Saham Naik Lalu Turun Lagi?


Bayangkan saham seperti balon udara. Jika terus ditiup (uang masuk), balon naik. Tapi kalau anginnya keluar, balon turun.

Saham yang naik karena:
  • Digoreng pelaku tertentu,
  • Dipompa sentimen,
  • Ramai karena rumor,
  • biasanya akan sulit sustain.

Semakin tinggi harga, semakin banyak investor ritel takut masuk. Apalagi jika sudah muncul notasi seperti UMA (Unusual Market Activity), FCA (Full Call Auction), atau bahkan suspensi dari Bursa Efek Indonesia.

Ketika kepercayaan hilang, uang keluar. Harga pun turun cepat.

Lalu Kenapa Ada Saham yang Naiknya Tahan Lama?


Jawabannya: intrinsic value naik.
Intrinsic value adalah nilai wajar perusahaan berdasarkan fundamentalnya — laba, aset, arus kas, prospek bisnis.
Jika nilai wajarnya naik, uang yang masuk cenderung tidak buru-buru keluar.

Contoh Nyata: Komoditas
Beberapa tahun lalu, harga batu bara dunia melonjak hingga di atas US$400 per ton. Dampaknya? Emiten batu bara mencetak laba jumbo. Laporan keuangan melonjak. Nilai intrinsik perusahaan naik drastis.

Hal yang sama pernah terjadi pada reli nikel ketika harga menembus level ekstrem. Namun, tidak semua reli itu fundamental. Ada fase harga nikel melonjak karena short squeeze — bukan karena fundamental murni.

Kini, emas global juga sempat menembus rekor baru mendekati US$2.400 per troy ounce pada 2024–2025, menurut laporan World Gold Council. Ketika harga emas naik signifikan, perusahaan tambang emas otomatis menikmati kenaikan laba, sehingga nilai intrinsiknya ikut terdongkrak.

Bedanya jelas:
  • Kenaikan karena fundamental → uang cenderung bertahan
  • Kenaikan karena spekulasi → uang cepat keluar

Cara Mencari Saham yang Uangnya “Ngendap”


Untuk mendapatkan multibagger atau bahkan tenbagger tanpa sekadar berharap masuk indeks MSCI, investor perlu mencari saham yang:
  • Uangnya masuk
  • Dan tidak keluar
  • Kenapa bisa tidak keluar?
  • Karena investor percaya nilai wajarnya meningkat.

Misalnya:
Awalnya fair value perusahaan Rp100.
Ada aksi korporasi: akuisisi strategis, injeksi modal, ekspansi besar.

Fair value naik jadi Rp300.
Investor yang beli di Rp100 tahu nilai wajarnya naik. Mereka tidak terburu-buru jual di Rp120 atau Rp150. Uang “ngendap”. Harga bisa naik perlahan menuju Rp300.
Jika nilai intrinsiknya naik ke Rp1.000?
Itulah potensi tenbagger.

Dan ini bukan zero sum game, karena nilai perusahaan memang benar-benar bertambah.

Value Investing: Bukan Sekadar Ikut Ramai


Konsep ini sejalan dengan pendekatan value investing — strategi yang dipopulerkan oleh Warren Buffett.

Prinsipnya sederhana:
Beli perusahaan bagus di harga wajar, lalu sabar menunggu nilainya tumbuh.

Alih-alih mengejar saham yang sedang viral, pendekatan ini fokus pada:
  • Pertumbuhan laba,
  • Keunggulan kompetitif,
  • Manajemen yang kredibel,
  • Prospek industri.

Menurut laporan tahunan Otoritas Jasa Keuangan, literasi keuangan masyarakat Indonesia masih terus ditingkatkan agar investor tidak terjebak spekulasi jangka pendek dan lebih memahami risiko investasi saham.

Tips Praktis Agar Tidak Terjebak “Flow Palsu”


Berikut panduan sederhana yang bisa langsung Anda terapkan:

✅ 1. Cek Laporan Keuangan
Lihat pertumbuhan laba, bukan hanya grafik harga.

✅ 2. Bedakan Sentimen dan Fundamental
Tanya: kenaikan ini karena cerita atau karena angka?

✅ 3. Perhatikan Aksi Korporasi
Akuisisi, ekspansi, atau rights issue bisa mengubah nilai intrinsik.

✅ 4. Jangan FOMO
Jika alasan beli hanya karena “semua orang beli”, itu tanda bahaya.

✅ 5. Pikirkan Seperti Pemilik Bisnis
Bayangkan Anda membeli seluruh perusahaan, bukan sekadar sahamnya.

Tidak Setiap Tahun Ada “Durian Runtuh”


Pasar tidak selalu memberi rally batu bara, emas, atau nikel setiap tahun. Momentum komoditas adalah siklus.

Karena itu, kadang investor harus mencari pertumbuhan yang inorganic — dari aksi korporasi, restrukturisasi, atau transformasi bisnis.

Saham yang bisa sustain bukan sekadar yang naik cepat, tapi yang nilainya memang bertambah.

Ikut Arus atau Pahami Arus?

Pasar saham pada akhirnya adalah soal aliran uang.

Anda bisa:
  • Ikut arus hot money dan berharap tidak terlambat keluar, atau
  • Memahami ke mana uang besar mengalir dan kenapa ia bertahan.

Investor yang memahami flow dan intrinsic value tidak hanya berburu kenaikan harga, tapi berburu kenaikan nilai.

Jika Anda ingin menjadi investor yang lebih matang dan tidak mudah terseret FOMO, teruslah membaca analisis saham, memahami laporan keuangan, dan meningkatkan literasi finansial Anda.

Karena di pasar saham, bukan yang paling cepat yang bertahan — tapi yang paling paham.(*)

IKLAN

×
Kaba Nan Baru Update