Pasbana - Ketika pasar saham memerah, bukan hanya angka portofolio yang turun—mental investor ritel sering ikut terguncang. Timeline media sosial mendadak ramai dengan narasi ketakutan: “ARB semua”, “rungkad”, “habis sudah retail”. Padahal, di balik fluktuasi harga saham, ada satu faktor yang sering luput dibahas secara serius: mentalitas investor.
Mari kita pahami mengapa sikap mental—bukan sekadar modal atau strategi—sering menjadi pembeda antara investor yang bertahan dan yang menyerah di tengah jalan.
Dengan bahasa sederhana, kita akan membedah fenomena crab mentality, mengaitkannya dengan kondisi pasar saham terkini, serta memberi panduan praktis agar investor ritel tetap rasional dan sehat secara psikologis.
Ketika Pasar Bergejolak, Mentalitas Diuji
Dalam beberapa periode terakhir, pasar saham Indonesia memang menghadapi tekanan. Kombinasi faktor global seperti kebijakan suku bunga bank sentral dunia, ketegangan geopolitik, hingga perlambatan ekonomi global membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak volatil.
Data Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan, fluktuasi harian yang tajam bukan lagi hal langka, bahkan di saham-saham berkapitalisasi besar.
Namun, yang menarik bukan hanya pergerakan indeksnya, melainkan reaksi kolektif investor ritel. Sedikit merah, ketakutan menyebar lebih cepat dari informasi yang rasional.
Inilah yang dalam psikologi sosial disebut sebagai crab mentality—mentalitas “kepiting dalam ember”, saling menarik ke bawah agar tak ada yang keluar lebih dulu.
Di pasar saham, bentuknya sederhana:
Ketika ada yang masih bertahan atau mencoba belajar, justru ditakut-takuti.
Ketika ada yang salah ambil posisi, ditertawakan, bukan dibimbing.
Padahal, mayoritas pelaku di timeline itu sama-sama investor ritel. Sama-sama belajar. Sama-sama pernah salah.
Pasar Saham Itu Keras, Tapi Bukan Alasan Saling Menjatuhkan
Tidak ada investor yang selalu benar. Bahkan investor profesional pun mengenal istilah cut loss. Menurut Otoritas Jasa Keuangan (OJK), kesalahan paling umum investor pemula adalah keputusan emosional—panik saat turun, euforia saat naik.
Analogi sederhananya begini:
Pasar saham itu seperti laut. Ombaknya besar, arusnya kuat. Orang yang panik akan kehabisan tenaga sebelum sampai tujuan. Orang yang tenang, meski pelan, punya peluang lebih besar untuk selamat.
Masalahnya, panik massal sering kali diperparah oleh narasi negatif yang berlebihan. Padahal:
- Panik tidak membuat harga saham naik kembali.
- Menyebar ketakutan tidak memperbaiki portofolio siapa pun.
- Yang rusak justru mental dan disiplin investasi.
Studi perilaku keuangan (behavioral finance) yang banyak dirujuk CFA Institute menegaskan bahwa investor yang mampu mengendalikan emosi cenderung memiliki hasil investasi jangka panjang yang lebih baik dibanding mereka yang reaktif terhadap sentimen jangka pendek.
Evaluasi Lebih Sehat daripada Fear Mongering
Alih-alih menyebar ketakutan, ada beberapa langkah sederhana yang jauh lebih bermanfaat bagi investor ritel:
1. Evaluasi, Bukan Menyalahkan
Saat rugi, tanyakan:
Salah di analisis bisnisnya atau salah timing?
Terlalu besar ukuran posisi?
Tidak disiplin pada rencana awal?
Ini jauh lebih produktif daripada menyalahkan “bandar” atau pasar.
2. Belajar dari Kesalahan Sendiri dan Orang Lain
Setiap kesalahan adalah biaya belajar. Investor legendaris seperti Warren Buffett pun berkali-kali mengakui kesalahannya di publik. Bedanya, ia belajar, bukan larut dalam emosi.
3. Berbagi Insight yang Membangun
Diskusi soal risiko, manajemen modal, dan skenario terburuk jauh lebih berguna daripada teriakan “habis semua”. Edukasi membuat investor lebih siap, bukan lebih takut.
4. Jaga Kesehatan Mental
Sedikit cuan dengan mental sehat jauh lebih berharga daripada terlihat “jago” tapi penuh emosi dan FOMO. Pasar saham adalah maraton, bukan sprint.
Investor Ritel Butuh Solidaritas, Bukan Saling Tarik ke Bawah
Menurut data BEI, jumlah investor ritel Indonesia terus bertambah dalam beberapa tahun terakhir. Ini kabar baik bagi pendalaman pasar keuangan nasional. Namun, pertumbuhan kuantitas harus diiringi kedewasaan ekosistem.
Jika ada yang masih belajar, biarkan belajar.
Jika ada yang salah, bantu luruskan.
Karena hari ini kita menertawakan kesalahan orang lain, besok bisa jadi kita yang berada di posisi itu.
Pasar memang keras, tetapi komunitas investor seharusnya menjadi ruang belajar, bukan arena saling menjatuhkan.
Saatnya Timeline Lebih Sehat
Ke depan, semoga ruang diskusi investor dipenuhi oleh:
Lebih banyak edukasi
Lebih banyak diskusi berbasis data
Lebih sedikit fear mongering
Literasi finansial bukan hanya soal membaca laporan keuangan, tapi juga soal mengelola emosi dan sikap mental. Dengan mental yang sehat, investor ritel punya peluang lebih besar untuk bertahan dan berkembang, apa pun kondisi pasar.
(*)




