Notification

×

Iklan

Iklan

PBV: Cara Cerdas Menilai Saham Murah atau Mahal

18 Februari 2026 | 07:05 WIB Last Updated 2026-02-18T00:05:19Z


Pasbana - Di tengah fluktuasi IHSG dan derasnya arus dana asing yang kembali masuk ke pasar saham Indonesia awal 2026, banyak investor bertanya: apakah harga saham yang kita beli sudah wajar?

Di sinilah Price to Book Value (PBV) menjadi alat penting. PBV membantu investor menilai apakah suatu saham dihargai terlalu mahal, terlalu murah, atau sesuai dengan nilai aset bersih perusahaan.
Artikel ini akan membantu Anda memahami PBV secara sederhana, lengkap dengan contoh nyata di sektor perbankan Indonesia.

Apa Itu PBV dan Mengapa Penting?


Menurut Brigham dan Houston (2013), PBV adalah ukuran yang menunjukkan seberapa besar pasar menghargai nilai buku (ekuitas) perusahaan.

Sederhananya, bayangkan Anda membeli sebuah rumah. Nilai buku adalah nilai tanah dan bangunannya berdasarkan laporan keuangan. Harga pasar adalah berapa orang bersedia membayar rumah itu. PBV membandingkan keduanya.

Rumusnya sederhana:
Book Value = Total Ekuitas ÷ Jumlah Saham Beredar
PBV = Harga Saham ÷ Book Value per Saham
Jika PBV = 1, artinya harga saham sama dengan nilai bukunya.
Jika PBV < 1, saham dianggap murah (undervalued).
Jika PBV > 1, saham dinilai premium.
Namun, murah belum tentu bagus. Mahal pun belum tentu buruk.

Contoh Nyata: BBCA vs BBRI


Mari kita lihat dua raksasa perbankan Indonesia:

Bank Central Asia Tbk (BBCA)
Harga: Rp9.500
Book Value: Rp3.200
PBV: 2,97x
ROE: 19%

Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI)
Harga: Rp4.800
Book Value: Rp2.900
PBV: 1,66x
ROE: 15%

Apa artinya?
BBCA dihargai hampir 3 kali nilai bukunya karena konsisten mencetak laba tinggi (ROE 19%). Investor rela membayar lebih mahal karena kualitas bisnisnya stabil.

Sementara BBRI memiliki PBV lebih rendah, tetapi tetap solid secara fundamental. Ini bisa menjadi peluang bagi investor yang mencari valuasi lebih “diskon”.

Data laporan keuangan kuartal III 2024 menunjukkan kedua bank masih mencatat pertumbuhan laba dua digit, mencerminkan daya tahan sektor perbankan di tengah perlambatan global (Sumber: laporan publikasi emiten, BEI).

Faktor yang Membuat PBV Tinggi atau Rendah


Beberapa faktor utama memengaruhi PBV:

• ROE (Return on Equity)
Semakin tinggi ROE, biasanya PBV semakin premium.

• Prospek Pertumbuhan
Perusahaan teknologi atau konsumsi sering punya PBV tinggi karena ekspektasi pertumbuhan.

• Siklus Industri
Properti dan komoditas sering punya PBV rendah saat siklus melemah.

• Sentimen Pasar
Ketakutan atau optimisme investor sangat memengaruhi valuasi.

Menurut riset OCBC Sekuritas (2024), saham dengan ROE stabil di atas 15% cenderung diperdagangkan pada PBV premium di atas rata-rata sektor.

Strategi Praktis Menggunakan PBV


Agar tidak terjebak value trap, lakukan langkah berikut:

✔ Bandingkan PBV dengan rata-rata sektor
✔ Cek ROE minimal 12–15%
✔ Pastikan laba konsisten tumbuh
✔ Periksa kualitas aset dan utang

PBV rendah dengan ROE menurun bisa menjadi sinyal bahaya. Sebaliknya, PBV tinggi dengan pertumbuhan stabil bisa menjadi investasi jangka panjang yang sehat.

PBV Bukan Segalanya, Tapi Sangat Berguna


PBV adalah alat analisis yang sangat efektif, terutama untuk sektor perbankan dan perusahaan berbasis aset besar. Namun, jangan gunakan PBV sendirian. Kombinasikan dengan ROE, pertumbuhan laba, dan kondisi industri.

Ingat, dalam investasi saham, membeli murah itu penting — tetapi membeli bisnis berkualitas jauh lebih penting.

Jika Anda ingin memahami lebih dalam tentang strategi valuasi saham, analisis fundamental, dan cara membaca laporan keuangan, teruslah belajar dan tingkatkan literasi finansial Anda.
(*)

IKLAN

×
Kaba Nan Baru Update