Pariaman, pasbana - Di tengah deretan hidangan bersantan khas Minangkabau, ada satu menu yang tampil “berbeda sendiri” namun justru selalu dinanti saat Lebaran: Gulai Baga. Berasal dari kawasan Pariaman, sajian ini bukan sekadar makanan, melainkan bagian dari tradisi yang mengikat rasa dan kenangan.
Sekilas, namanya mungkin menipu. “Gulai” biasanya identik dengan kuah santan yang kental dan gurih. Namun Gulai Baga justru tampil sebagai sup berwarna merah pekat, dengan kuah yang relatif bening dan ringan. Rahasianya? Tidak ada santan sama sekali. Sebagai gantinya, rasa gurih dan kompleks dibangun dari perpaduan rempah yang kaya dan teknik memasak yang perlahan.
Daging sapi—biasanya bagian sandung lamur atau tetelan—menjadi bintang utama. Potongan daging ini dimasak bersama cabai merah giling dalam jumlah melimpah, menghasilkan warna merah menyala yang menggoda. Namun bukan sekadar pedas, Gulai Baga menghadirkan lapisan rasa yang dalam: hangat dari kayu manis, harum dari kapulaga, hingga sentuhan eksotis bunga lawang dan cengkeh.
Dalam tradisi masyarakat Padang Pariaman, Gulai Baga kerap hadir saat momen sakral seperti Idulfitri. Hidangan ini menjadi simbol kebersamaan—disajikan dalam porsi besar untuk dinikmati bersama keluarga dan tamu yang datang bersilaturahmi. Tak heran jika aromanya yang khas sering kali langsung membangkitkan suasana rumah kampung halaman.
Proses memasaknya pun mencerminkan kesabaran. Bumbu halus seperti bawang merah, bawang putih, jahe, lengkuas, kunyit, dan kemiri ditumis hingga harum, lalu dipadukan dengan daun kunyit, daun jeruk, serta serai. Setelah itu, daging dimasukkan dan dimasak perlahan (ungkep) hingga empuk dan bumbu meresap sempurna.
Beberapa versi modern menambahkan kentang sebagai pelengkap, bahkan ada yang menyiasati rasa gurih dengan kacang tanah halus —tanpa menghilangkan karakter utamanya yang ringan tanpa santan.
Menurut literatur kuliner Minangkabau dan catatan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia tentang warisan budaya tak benda, kekayaan rempah dan teknik memasak tradisional seperti ini merupakan bagian penting dari identitas kuliner Nusantara. Gulai Baga menjadi contoh bagaimana masyarakat lokal beradaptasi dengan bahan yang tersedia, tanpa kehilangan kekayaan rasa.
Pada akhirnya, Gulai Baga bukan hanya soal rasa pedas atau kuah merahnya. Ia adalah cerita tentang tradisi, tentang rumah, dan tentang bagaimana sebuah hidangan sederhana bisa menghadirkan kehangatan yang sulit tergantikan. Saat sendok pertama menyentuh lidah, yang terasa bukan hanya bumbu—melainkan juga nostalgia. Makin tahu Indonesia. (*)




