Notification

×

Iklan

Iklan

Jejak Pamalayu di Pedalaman Minangkabau

15 Maret 2026 | 09:12 WIB Last Updated 2026-03-15T02:12:14Z



Pasbana - Di sebuah rumah gadang tua di pedalaman Sumatera Barat, tersimpan sebuah benda pusaka yang tak pernah dibuka sembarangan. Ia dibungkus kain, disimpan rapi di loteng, dan hanya disentuh dalam upacara adat tertentu.
Masyarakat setempat menyebutnya “pamanahan”.

Bagi keluarga yang menyimpannya, pusaka itu bukan sekadar benda lama. Ia dipercaya sebagai peninggalan masa lampau yang berkaitan dengan jejak ekspedisi Pamalayu, sebuah misi besar dari Jawa yang pernah mengguncang peta politik Nusantara pada abad ke-13.

Menariknya, catatan mengenai pusaka tersebut pernah ditulis oleh seorang peneliti Belanda pada awal abad ke-20. Dari sinilah kisah lama itu kembali dibaca ulang oleh para sejarawan.

Ekspedisi Besar dari Singasari


Sejarah mencatat, pada tahun 1275 M, Raja Singasari di Jawa Timur, Kertanegara mengirim sebuah ekspedisi militer dan diplomatik ke Sumatera.

Misi tersebut dikenal sebagai Ekspedisi Pamalayu, dan dipimpin oleh panglima perang Kebo Anabrang.

Ekspedisi ini bukan sekadar penaklukan wilayah. Para sejarawan menyebutnya sebagai strategi geopolitik besar.
Tujuannya antara lain: menjalin hubungan politik dengan kerajaan Melayu di Sumatera, memperluas pengaruh Singasari di Nusantara, membangun aliansi menghadapi ancaman ekspansi Mongol dari Dinasti Yuan. 

Sasaran utama ekspedisi tersebut adalah kerajaan Melayu di Sumatera yang saat itu berpusat di Dharmasraya.

Bukti sejarah paling terkenal dari hubungan ini adalah Prasasti Padang Roco (1286 M) yang menyebutkan pengiriman arca Amoghapasa dari Singasari ke Dharmasraya.

Jalur Pengaruh Hingga Pedalaman Minangkabau


Secara geografis, wilayah Rantau XII Koto, termasuk Nagari Abai dan Muaro Sangir di wilayah yang kini menjadi bagian dari
Solok Selatan, tidak jauh dari kawasan pusat kekuasaan Dharmasraya.

Para peneliti sejarah menyebut kawasan ini sebagai jalur rantau penting dalam jaringan budaya dan perdagangan Minangkabau masa lampau.

Karena kedekatan tersebut, tidak mengherankan jika pengaruh politik dan budaya dari hubungan Singasari–Dharmasraya juga sampai ke wilayah pedalaman Minangkabau.

Beberapa keluarga adat di daerah tersebut bahkan menyimpan benda pusaka yang diyakini berasal dari masa interaksi tersebut.

Catatan Peneliti Belanda


Awal abad ke-20, seorang pegawai kolonial Belanda sekaligus peneliti sejarah bernama F. Damsté melakukan perjalanan penelitian ke kawasan Rantau XII Koto.
Dalam laporannya, Damsté menuliskan temuan menarik: sebuah pusaka yang disebut pamanahan.

Menurut catatannya, pusaka itu: berupa senjata kuno dibungkus kain khusus disimpan di loteng rumah gadang
dianggap keramat oleh keluarga adat
Pusaka tersebut tidak boleh dibuka sembarangan. Pembukaannya harus melalui ritual adat, biasanya disertai pembakaran kemenyan dan doa-doa tertentu.

Tradisi ini memperlihatkan bagaimana benda sejarah sering kali hidup berdampingan dengan sistem kepercayaan lokal.

“Tumbak Majopait”


Dalam catatan yang sama, Damsté juga menyebut adanya senjata lain yang oleh masyarakat disebut “tumbak Majopait”.
Nama itu jelas merujuk pada Majapahit,
yang merupakan penerus pengaruh politik Singasari di Nusantara.

Walau sulit dibuktikan secara arkeologis tanpa penelitian lanjutan, keberadaan benda tersebut memperlihatkan bagaimana memori sejarah masyarakat sering tersimpan dalam bentuk pusaka keluarga.

Bagi masyarakat Minangkabau, pusaka bukan sekadar barang lama. Ia adalah penyimpan cerita.

Antara Sejarah dan Ingatan Kolektif


Para sejarawan modern menilai kisah-kisah seperti ini penting untuk diteliti lebih jauh.

Bukti tertulis memang menunjukkan bahwa hubungan antara Jawa dan Sumatera sudah terjalin sejak abad ke-13 melalui ekspedisi Pamalayu. Namun jejak-jejak di tingkat lokal sering kali tersembunyi dalam tradisi lisan, pusaka adat, atau cerita turun-temurun.

Di sinilah menariknya sejarah Nusantara.

Sering kali, sebuah kisah besar tentang kerajaan dan ekspedisi tidak hanya tertulis di prasasti atau kitab kuno. Ia juga tersimpan di loteng rumah gadang, dibungkus kain tua, dan dijaga oleh generasi yang percaya bahwa benda itu adalah bagian dari perjalanan panjang nenek moyang mereka. Makin tahu Indonesia. (*) 

IKLAN

×
Kaba Nan Baru Update