Notification

×

Iklan

Iklan

Lebaran di Ranah Minang: Istano Basa Pagaruyung Jadi Magnet Wisata Budaya yang Tak Pernah Sepi

26 Maret 2026 | 13:49 WIB Last Updated 2026-03-26T06:49:47Z
Image









Tanah Datar, pasbana - Libur Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah menjadi momentum kebangkitan wisata budaya di Sumatera Barat. Salah satu destinasi yang paling ramai diserbu wisatawan adalah Istano Basa Pagaruyung, ikon sejarah Minangkabau yang berdiri megah di Kabupaten Tanah Datar.

Sejak pagi hingga sore, halaman istana dipadati pengunjung dari berbagai daerah, bahkan mancanegara. Arsitektur rumah gadang bertingkat dengan gonjong menjulang seolah menjadi magnet visual sekaligus pintu masuk memahami sejarah Kerajaan Pagaruyung, pusat pemerintahan Minangkabau pada masa lalu.

Dewi, wisatawan asal Batam, mengaku takjub saat pertama kali melihat langsung bangunan istana. Baginya, pengalaman berfoto dengan latar rumah gadang dan panorama perbukitan menghadirkan sensasi berbeda dibandingkan destinasi wisata lain.

Image


Hal serupa dirasakan Indah, wisatawan dari Teluk Kuantan, Riau. Ia sengaja mengenakan busana adat Minangkabau untuk merasakan atmosfer budaya yang autentik. “Rasanya seperti kembali ke masa kerajaan,” ujarnya.

Daya tarik Istano Basa Pagaruyung juga menjangkau wisatawan luar negeri, khususnya Malaysia. Yusuf, salah seorang pelancong, mengaku terpukau dengan kekayaan budaya Minangkabau. Selama berada di Tanah Datar, ia juga mengunjungi Nagari Pariangan, yang pernah dinobatkan sebagai salah satu desa terindah di dunia, serta kawasan Tan Kayo Malalo.

Pengalaman menikmati minuman tradisional kawa daun menjadi pelengkap perjalanan budayanya.



Menurut data Pemerintah Kabupaten Tanah Datar, jumlah kunjungan selama libur Lebaran mencapai sekitar 10 ribu orang dalam sehari. Bupati Eka Putra memastikan keamanan, kebersihan fasilitas, dan kenyamanan wisatawan tetap menjadi prioritas utama.

Secara nasional, tren wisata berbasis budaya memang terus meningkat. Data Kementerian Pariwisata menunjukkan wisatawan kini cenderung mencari pengalaman autentik dan edukatif, bukan sekadar rekreasi.

Di tengah arus modernisasi, Istano Basa Pagaruyung membuktikan satu hal: warisan budaya tidak hanya hidup dalam sejarah, tetapi juga menjadi daya tarik ekonomi dan identitas yang terus dirayakan—terutama saat Lebaran, ketika orang kembali pulang untuk mengenal akar budayanya. Makin tahu Indonesia. (*)

IKLAN

×
Kaba Nan Baru Update