Pasbana - Ada masa dalam hidup ketika segalanya terasa berat. Pintu-pintu seakan tertutup, rencana berantakan, dan hati seperti kehilangan arah. Banyak orang pernah berada di fase ini—tetap tersenyum di luar, namun diam-diam berjuang menghadapi gelapnya pikiran sendiri.
Fenomena ini bukan sekadar perasaan pribadi. Data World Health Organization (WHO) menyebutkan bahwa jutaan orang di dunia mengalami tekanan mental akibat beban hidup, kesepian, hingga rasa putus asa. Menariknya, dalam berbagai kajian psikologi modern, spiritualitas justru terbukti menjadi salah satu sumber ketahanan mental paling kuat (spiritual coping).
Dalam tradisi Islam, kisah Nabi Yunus menjadi refleksi yang relevan sepanjang zaman. Ketika berada di titik terendah—terperangkap di dalam perut paus, di kedalaman laut tanpa cahaya—Nabi Yunus tidak lagi mengandalkan kekuatan diri.
Beliau memilih berserah melalui doa yang sederhana namun penuh makna:
“Lā ilāha illā anta, subḥānaka innī kuntu minaẓ-ẓālimīn.”
“Lā ilāha illā anta, subḥānaka innī kuntu minaẓ-ẓālimīn.”
(Tidak ada Tuhan selain Engkau, Mahasuci Engkau, sungguh aku termasuk orang-orang yang zalim.)
Al-Qur’an dalam Surah Al-Anbiya ayat 87–88 mencatat bahwa pengakuan tulus tersebut menjadi titik balik keselamatan. Para ulama tafsir menjelaskan, doa itu bukan hanya permohonan pertolongan, tetapi juga bentuk kesadaran diri dan penerimaan atas keadaan—dua hal yang dalam psikologi modern dikenal sebagai self-awareness dan acceptance.
Pesannya sederhana: bahkan di ruang paling gelap sekalipun, harapan tetap ada.
Sering kali manusia merasa harus menemukan solusi sendirian. Padahal, kekuatan terbesar justru lahir saat seseorang berhenti melawan keadaan dan mulai mempercayakan langkahnya kepada Tuhan. Penelitian dalam jurnal Journal of Religion and Health menunjukkan bahwa individu yang memiliki keyakinan spiritual cenderung lebih resilien menghadapi tekanan hidup.
Mungkin hari ini bukan hari terbaik kita. Mungkin langkah terasa berat dan doa terasa lambat dijawab. Namun sejarah iman mengajarkan satu hal: tidak ada kegelapan yang abadi.
Seperti Nabi Yunus yang menemukan cahaya di tempat paling mustahil, setiap manusia pun memiliki peluang untuk bangkit. Pelan saja melangkah. Karena sering kali, pertolongan datang bukan saat kita kuat, tetapi saat kita berserah.(*)




