Limapuluh Kota, pasbana— Ancaman bencana abrasi di Jorong Buluh Kasok, Nagari Sarilamak, Kecamatan Harau, kian mencapai titik kritis. Meski pihak Pemerintah Kabupaten Limapuluh Kota melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) telah melayangkan surat resmi, hingga kini belum ada langkah nyata dari Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera untuk menangani kerusakan tebing sungai yang kian meluas di wilayah tersebut.
Kondisi di lapangan menunjukkan bahwa dampak luapan sungai di Buluh Kasok bukan lagi sekadar genangan air, melainkan ancaman nyata terhadap aset fisik dan nyawa. Kepala Jorong Buluh Kasok, Edison, Kamis (14/5/2026) menegaskan bahwa keresahan warga kini berlipat ganda. Tidak hanya rumah tinggal yang terancam jatuh ke dasar sungai, tetapi juga akses transportasi publik yang sangat vital.
Edison menjelaskan bahwa pihaknya sudah mengirimkan surat ke Walinagari dan sudah ditembuskan ke BPBD. Pihaknya sangat mengharapkan perhatian serius pemerintah pusat melalui BWS karena saat ini bukan hanya tebing sungai yang dikhawatirkan, tetapi kondisi jembatan di Buluh Kasok juga sudah sangat mengkhawatirkan dan terancam ambruk jika dibiarkan begitu saja.
Senada dengan hal tersebut, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Limapuluh Kota, Zaimar Hakim, menyatakan bahwa pihaknya telah menjalankan prosedur kedaruratan dengan menyurati BWS Sumatera. Namun, ia menyayangkan lambatnya respons di lapangan meskipun bencana lanjutan terus terjadi di wilayah tersebut. Pihaknya mengaku sudah menyurati Balai Wilayah Sungai, akan tetapi sampai saat ini belum ada realisasi dan masih menunggu tindakan nyata dari BWS untuk menangani titik-titik rawan di Buluh Kasok.
Bencana susulan akibat hujan deras baru-baru ini bahkan telah merobohkan pohon durian besar di belakang kediaman Yulinar (58), warga Buluh Kasok. Bagi Yulinar, setiap gemuruh air kini menjadi teror yang mengancam rumah tempatnya bernaung. Tanah penyangga di belakang rumahnya terus terkikis, menciptakan jurang abrasi yang kini tepat berada di bibir dinding bangunan.
Tokoh masyarakat setempat, Dodi Putra Dt. Gindo, menilai keterlambatan penanganan dari pihak berwenang bisa berakibat fatal bagi nagari mereka. Ia berpendapat bahwa persoalan ini bukan lagi bicara soal tanah yang jatuh ke sungai, tapi soal hilangnya rasa aman warga.
"Jika BWS tidak segera bertindak melakukan normalisasi atau penguatan tebing, warga hanya tinggal menunggu waktu sampai infrastruktur jembatan putus dan rumah warga di Buluh Kasok lenyap terbawa arus," tuturnya.
Kini, tambahnya, masyarakat Jorong Buluh Kasok hanya bisa berharap agar birokrasi tidak memperlambat penyelamatan ruang hidup mereka. Kehadiran BWS Sumatera sangat dinantikan sebelum tangisan di bibir sungai ini berubah menjadi duka permanen akibat terputusnya akses dan hilangnya tempat tinggal warga. (Bayu)




