Padang Panjang, pasbana - Di sebuah gang sederhana di Kelurahan Silaing Bawah, Kota Padang Panjang, suara mesin bentor kerap terdengar pelan di pagi hari. Bukan pedagang keliling atau kurir paket. Di balik kemudi itu, ada David Koto—petugas kebersihan yang pelan-pelan mengubah cara warga memandang sampah.
Bagi David, sampah bukan sekadar sisa aktivitas rumah tangga. Ia melihatnya sebagai peluang perubahan.
Sejak bergabung dengan Aljero Waste Management pada Juli 2024, David menggagas program sederhana namun berdampak: jemput bola sampah terpilah. Ia menggunakan bentor pribadinya untuk mengambil donasi sampah warga yang sudah dipilah dari rumah.
“Tidak semua orang punya waktu mengantar sampah,” begitu prinsip yang ia pegang. Maka, jika warga sudah memilah, David yang datang menjemput.
Langkah kecil ini ternyata menjawab masalah klasik pengelolaan sampah di kota-kota Indonesia: kesadaran masyarakat sering sudah tumbuh, tetapi akses pengelolaan masih terbatas. Data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menunjukkan sebagian besar sampah rumah tangga masih berakhir di tempat pembuangan akhir karena minimnya sistem pemilahan berkelanjutan di tingkat warga.
David mencoba memutus rantai itu dari lingkungannya sendiri.
Tak hanya menjemput sampah, ia bahkan menyediakan lahan di samping rumahnya sebagai gudang baru bank sampah. Tempat sederhana itu kini menjadi titik kumpul berbagai pilahan—mulai dari plastik, kertas, hingga barang daur ulang bernilai ekonomi.
Model kerja berbasis komunitas seperti ini sebenarnya sejalan dengan konsep zero waste city yang mulai berkembang di berbagai daerah. Pendekatannya sederhana: mendekatkan solusi kepada warga, bukan menunggu warga mendekati sistem.
Gerakan David juga menunjukkan bahwa perubahan lingkungan tidak selalu lahir dari program besar pemerintah. Kadang, ia tumbuh dari inisiatif personal yang konsisten.
Bagi warga Padang Panjang yang sudah memilah sampah tetapi bingung harus ke mana, kini jawabannya ada di Silaing Bawah. Sampah bisa diantar langsung ke Bank Sampah Aljero WM di RT 10 Gang Manunggal, atau cukup menunggu bentor David datang menjemput.
Pesannya sederhana namun kuat: Anda pilah, ia menjemput.
Di tengah isu krisis sampah nasional, kisah David Koto menjadi pengingat bahwa solusi lingkungan sering bermula dari halaman rumah sendiri—dari seseorang yang memilih bergerak, bukan menunggu perubahan datang. (*)




