Bogor, pasbana - Tingginya prevalensi faktor risiko stroke di Desa Nambo, Kecamatan Klapanunggal, Kabupaten Bogor, menjadi perhatian bagi kalangan akademisi dan tenaga kesehatan. Sebagai bentuk kepedulian terhadap kondisi tersebut, dosen dan mahasiswa Jurusan Fisioterapi Poltekkes Kemenkes Jakarta III melaksanakan program pengabdian kepada masyarakat berbasis komunitas selama April 2026.
Kegiatan ini difokuskan pada upaya promotif dan preventif guna meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kesehatan sejak dini. Berbagai rangkaian kegiatan dilaksanakan, mulai dari skrining kesehatan, edukasi mengenai stroke dan faktor risikonya, hingga pelatihan senam anti stroke sebagai aktivitas fisik sederhana yang dapat dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.
Dari hasil pelaksanaan kegiatan, ditemukan bahwa faktor risiko stroke masih cukup tinggi di lingkungan masyarakat. Kondisi seperti hipertensi, kurangnya aktivitas fisik, serta rendahnya kesadaran untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin menjadi tantangan utama dalam pencegahan penyakit tidak menular.
Sebagai tindak lanjut, tim pengabdian memberikan pendampingan dan edukasi secara langsung kepada warga. Masyarakat diberikan pemahaman mengenai pentingnya mengenali faktor risiko stroke, melakukan pemeriksaan tekanan darah, gula darah, dan kolesterol secara berkala, serta menerapkan pola hidup sehat melalui aktivitas fisik yang terukur dan berkesinambungan.
Tidak hanya itu, kader kesehatan bersama perwakilan warga juga mendapatkan pelatihan senam anti stroke agar nantinya dapat menjalankan kegiatan tersebut secara mandiri di lingkungan masing-masing.
Langkah ini dilakukan sebagai bentuk pemberdayaan masyarakat agar program kesehatan dapat terus berjalan meskipun kegiatan pengabdian telah selesai.
Pelaksanaan kegiatan dilakukan di beberapa lokasi, seperti rumah kader dan lapangan olahraga, dengan suasana yang interaktif dan melibatkan berbagai kelompok usia. Tingginya antusiasme warga terlihat dari partisipasi aktif dalam mengikuti pemeriksaan kesehatan, penyuluhan, hingga praktik senam bersama.
Selain program kesehatan, tim pengabdian juga melaksanakan program kerja nonkesehatan yang berfokus pada peningkatan kepedulian lingkungan masyarakat. Kegiatan tersebut meliputi edukasi mengenai pemilahan sampah organik dan anorganik, pengenalan incinerator sebagai salah satu metode pengelolaan sampah, serta pembuatan bak sampah untuk mendukung terciptanya lingkungan yang lebih bersih dan sehat.
Melalui kegiatan ini, masyarakat diajak untuk mulai menerapkan kebiasaan memilah sampah sejak dari rumahsebagai langkah sederhana dalam menjaga kebersihan lingkungan dan mengurangi penumpukan sampah.
Suasana semakin meriah ketika kelompok pengabdian mengajak anak-anak RW 002 untuk turut berpartisipasi dalam kegiatan pengecatan bak sampah. Melalui kegiatan kreatif tersebut, anak-anak tidak hanya diajak bermain dan berkreasi, tetapi juga dikenalkan sejak dini mengenai pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, memilah sampah sesuai jenisnya, serta membuang sampah pada tempat yang telah disediakan.
Kegiatan ini sekaligus menjadi sarana mempererat kebersamaan antara mahasiswa, warga, dan anak-anak di lingkungan Desa Nambo. Salah satu hasil penting dari program ini adalah terbentuknya Kelompok Peduli Stroke yang terdiri atas warga dan kader Desa Nambo.
Kelompok tersebut diharapkan dapat menjadi penggerak utama dalam menjaga keberlangsungan program melalui kegiatan senam rutin, pemantauan tekanan darah, gula darah, dan kolesterol, serta penyebaran edukasi kesehatan kepada masyarakat sekitar.
Dosen Jurusan Fisioterapi Poltekkes Kemenkes Jakarta III, dr. Ice menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya pada aspek Pendidikan dan Pengabdian kepada Masyarakat.
“Kami berharap kegiatan ini dapat mendorong masyarakat untuk lebih peduli terhadap kesehatan serta mampu menerapkan pola hidup sehat secara mandiri. Keberlanjutan program sangat penting agar manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang,” ungkap Restu, yang juga Dosen Jurusan Fisioterapi Poltekkes Kemenkes Jakarta III.
Ke depan, keberadaan Kelompok Peduli Stroke diharapkan mampu menjadi sarana pemberdayaan masyarakat dalam pengendalian faktor risiko penyakit tidak menular serta menjadi contoh penerapan program kesehatan berbasis komunitas di Desa. (*)




