Notification

×

Iklan

Iklan

Pesona Puncak Kabun: Menjemput Senja dari Negeri di Atas Awan

10 Mei 2026 | 16:00 WIB Last Updated 2026-05-10T09:00:49Z


Agam, pasbana - Sore belum sepenuhnya turun ketika kabut tipis mulai merayap di lereng perbukitan. Angin berembus pelan, membawa aroma tanah basah dan suara riuh rendah pengunjung yang menunggu satu momen yang sama: matahari tenggelam perlahan di ufuk barat. Di sinilah pesona Puncak Kabun bekerja—diam, sederhana, tetapi meninggalkan kesan mendalam.

Terletak di wilayah Kabupaten Agam, destinasi ini bukan sekadar tempat wisata baru. Ia seperti panggung alami raksasa yang membuka panorama 360 derajat tanpa jeda. Dari satu titik pandang, mata menangkap lanskap Kota Bukittinggi yang tampak sibuk di kejauhan, siluet megah Gunung Marapi, hingga kilau tenang Danau Singkarak yang membentang seperti lukisan alam.

Puncak Kabun berdiri di kaki Gunung Singgalang, kawasan yang sejak lama dikenal berhawa dingin. Tak heran, banyak pengunjung menyebutnya sebagai “negeri di atas awan.” Pada pagi hari, kabut kerap menutupi lembah, sementara sore menghadirkan pertunjukan cahaya emas yang menjadi magnet utama wisatawan.
Fenomena wisata alam seperti ini sebenarnya sejalan dengan tren pariwisata nasional pascapandemi. 

Kementerian Pariwisata beberapa tahun terakhir mencatat peningkatan minat wisata berbasis alam terbuka, terutama destinasi dengan ruang luas dan pengalaman visual kuat. Puncak Kabun seolah menjawab kebutuhan itu: sederhana, dekat, tetapi menghadirkan pengalaman emosional.

Waktu terbaik datang adalah sekitar pukul 16.00 hingga 17.00 WIB. Saat golden hour tiba, langit berubah jingga keemasan, perlahan meredup menjadi ungu. Banyak pengunjung memilih duduk santai di gazebo atau menikmati kopi hangat sambil menunggu matahari tenggelam—aktivitas “nyore” yang kini menjadi ritual baru wisatawan lokal.

Menariknya, kawasan ini dulunya hanyalah lahan perkebunan warga di Nagari Cingkariang, Kecamatan Banuhampu. Transformasinya menjadi destinasi wisata menunjukkan bagaimana potensi lokal bisa tumbuh dari inisiatif masyarakat. 

Jalan menuju lokasi sudah beraspal, area parkir luas tersedia, lengkap dengan kedai kopi, kuliner ringan, hingga wahana ATV bagi pengunjung yang ingin pengalaman lebih aktif.

Media sosial turut mempercepat popularitasnya. Foto-foto panorama yang beredar di Instagram menjadikan Puncak Kabun bukan hanya tempat berlibur, tetapi juga ruang berbagi cerita visual tentang Sumatera Barat.

Namun pada akhirnya, daya tarik terbesar Puncak Kabun bukanlah fasilitas atau spot foto. Ia terletak pada perasaan sederhana ketika seseorang berdiri di ketinggian, memandang hamparan alam luas, lalu menyadari—kadang yang dibutuhkan untuk menenangkan diri hanyalah senja, udara sejuk, dan waktu yang berjalan sedikit lebih lambat. Makin tahu Indonesia. (*)

IKLAN

×
Kaba Nan Baru Update