Oleh: Wiko Antoni
Pasbana - Di tengah arus zaman yang bergerak cepat, nama Sulaiman Juned tetap berdiri sebagai salah satu tokoh penting yang menjaga denyut sastra dan teater di Sumatera. Ia bukan hanya penyair, sutradara, dosen, atau pendiri komunitas seni, melainkan juga penggerak literasi yang menjadikan sastra sebagai jalan kemanusiaan.
Perjalanan panjangnya di dunia seni tidak bisa dipisahkan dari lahirnya Komunitas Seni Kuflet di Padang Panjang, Sumatera Barat, pada 12 Mei 1997. Komunitas ini didirikan bersama sejumlah tokoh seni dan sastra, di antaranya Prof. Mursal Esten, Wiko Antoni, Maizul, Netti Herawati, dan tokoh seni lainnya.
Bagi Sulaiman Juned, sastra bukan sekadar estetika kata. Sastra adalah ruang pendidikan, perlawanan batin, dan upaya menjaga nilai kemanusiaan. Karena itu, sejak akhir 1990-an, ia memilih bertahan di Padang Panjang dan membangun ekosistem seni dari komunitas kecil yang kemudian berkembang menjadi salah satu ruang kreatif paling konsisten di Sumatera.
Kehadiran Kuflet kemudian menjadi rumah kreatif bagi banyak penulis muda.
Dari komunitas ini lahir diskusi sastra, pelatihan jurnalistik, pertunjukan teater, pembacaan puisi, hingga gerakan literasi lintas daerah. Sulaiman Juned menjadikan komunitas bukan sekadar organisasi, tetapi keluarga intelektual yang menjaga nyala sastra tetap hidup di daerah.
Dalam perjalanan itu, hubungan intelektual dan kreatifnya dengan Muhammad Subhan menjadi salah satu bagian penting perkembangan literasi Sumatera Barat. Muhammad Subhan dikenal sebagai penulis, pegiat literasi, serta pembina Komunitas Seni Kuflet. Hubungan keduanya tidak hanya sebatas sesama pegiat sastra, tetapi juga kolaborator dalam berbagai gerakan literasi dan kebudayaan.
Sulaiman Juned bahkan pernah menulis esai panjang mengenai novel Rinai Kabut Singgalang karya Muhammad Subhan. Dalam tulisannya, ia membaca karya tersebut sebagai refleksi kehidupan personal dan sosial pengarangnya. Ia melihat sastra sebagai kesaksian hidup manusia yang lahir dari luka, pengalaman, dan perjuangan sosial.
Kolaborasi mereka terus berkembang dalam berbagai kegiatan sastra, peluncuran buku, festival literasi, hingga gerakan “Tur Literasi Sumatera” yang dilakukan Kuflet. Dalam program ini, Sulaiman Juned dan Muhammad Subhan berkeliling ke sekolah, kampus, dan komunitas di berbagai wilayah Sumatera untuk berbagi pengalaman menulis, teater, puisi, dan jurnalistik.
Di sisi lain, hubungan Sulaiman Juned dengan Wiko Antoni memiliki akar historis yang panjang. Wiko Antoni termasuk generasi awal yang ikut mendirikan Komunitas Seni Kuflet bersama Sulaiman Juned pada 1997. Dari sinilah terbentuk jejaring sastra yang kemudian melampaui batas Sumatera Barat dan menjangkau ruang sastra nasional hingga internasional.
Dalam konteks sastra Melayu modern, hubungan antara Sulaiman Juned, Muhammad Subhan, dan Wiko Antoni memperlihatkan bagaimana komunitas menjadi kekuatan penting dalam membangun peradaban literasi di daerah. Mereka hadir bukan sebagai individu yang berjalan sendiri-sendiri, melainkan sebagai jejaring kebudayaan yang saling menguatkan.
Sulaiman Juned sendiri dikenal aktif membawa teater dan sastra Sumatera ke berbagai panggung nasional dan internasional. Sebagai sutradara, ia banyak mengangkat tema identitas budaya Aceh dan Melayu melalui pendekatan teater modern. Salah satu karya pentingnya adalah monolog Sang Maestro yang mengisahkan seniman tutur Aceh, Teungku Adnan PM TOH.
Tidak hanya di panggung seni, ia juga konsisten berada di ruang sosial. Dalam proyek antologi puisi Air Mata Sumatera, Sulaiman Juned menegaskan bahwa sastra harus hadir sebagai kesaksian terhadap penderitaan manusia. Baginya, puisi tidak hanya berbicara tentang keindahan bahasa, tetapi juga tentang empati, luka sosial, dan suara kemanusiaan.
Semangat itu pula yang membuatnya terus bergerak hingga hari ini. Di usia komunitas Kuflet yang hampir tiga dekade, ia masih aktif mengajar, membina generasi muda, mengadakan workshop sastra, dan menjalin kolaborasi lintas daerah, termasuk hingga ke Jambi melalui program Tur Literasi Sumatera.
Perjuangan Sulaiman Juned sesungguhnya adalah perjuangan menjaga manusia tetap memiliki nurani melalui sastra. Ia membuktikan bahwa kebudayaan tidak selalu lahir dari kota besar atau pusat kekuasaan, tetapi bisa tumbuh dari komunitas kecil yang dijaga dengan ketekunan, persahabatan, dan keyakinan pada kekuatan kata-kata.
Di tengah zaman digital yang serba cepat, Sulaiman Juned tetap percaya bahwa puisi, teater, dan literasi mampu menyelamatkan manusia dari kehilangan makna hidupnya. Dan dari Sumatera, ia terus menyalakan api itu. (*)
Tentang penulis:
Wiko Antoni adalah penyair Melayu asal Jangkat Timur, Merangin, Jambi, Indonesia, yang aktif memperkenalkan sastra Melayu ke ruang sastra internasional melalui platform digital dan komunitas sastra global. Ia dikenal sebagai salah satu generasi awal pendiri Komunitas Seni Kuflet di Padang Panjang bersama Sulaiman Juned dan sejumlah seniman Sumatera lainnya.
Dalam perkembangan sastra digital abad ke-21, Wiko Antoni aktif membagikan puisi, musikalisasi puisi, serta karya sastra sinematik berbasis AI di berbagai forum dan grup sastra dunia. Karya-karyanya dikenal membawa nuansa spiritualitas Melayu, alam Sumatera, kesunyian, dan kemanusiaan yang dipadukan dengan visual modern dan teknologi digital.
Melalui aktivitas online lintas negara, Wiko Antoni menjadi bagian dari gelombang baru penyair Nusantara yang memanfaatkan media global untuk memperkenalkan identitas sastra Melayu kepada pembaca internasional.




