Oleh: Kasbi, S.Pd, S.Pd.I, M.Pd.I (Ketua Yayasan Padang Panjang Madani)
Namun di balik popularitasnya, ada satu pertanyaan penting yang patut direnungkan: apakah hijrah hanya sebatas perubahan penampilan dan identitas, atau ada makna yang jauh lebih dalam?
Dalam Islam, hijrah bukan sekadar mengganti cara berpakaian, memperluas pergaulan yang religius, atau mengunggah kutipan dakwah di media sosial. Hakikat hijrah adalah perjalanan batin menuju ketaatan kepada Allah SWT.
Secara bahasa, hijrah berarti meninggalkan atau berpindah. Sejarah Islam mencatat hijrah Rasulullah ﷺ bersama para sahabat dari Makkah ke Madinah sebagai momentum besar untuk menjaga keimanan dan menegakkan agama Allah. Namun makna hijrah tidak berhenti pada perpindahan fisik. Rasulullah ﷺ menegaskan:
"Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah." (HR. Bukhari)
Hadis ini menjadi pengingat bahwa ukuran hijrah sejati terletak pada kemampuan seseorang meninggalkan dosa dan mendekat kepada kebaikan.
Di era digital, makna tersebut justru semakin relevan. Saat berbagai bentuk kemaksiatan dapat diakses hanya melalui layar ponsel, hijrah berarti berjuang menjaga diri dari ghibah di media sosial, penyebaran informasi palsu, tontonan yang merusak moral, hingga kelalaian dalam beribadah.
Tanda hijrah yang sesungguhnya bukan terletak pada simbol yang tampak, melainkan pada perubahan yang dirasakan. Shalat menjadi lebih terjaga, Al-Qur'an lebih sering dibaca, dan akhlak semakin baik kepada sesama.
Hijrah juga mengajarkan keseimbangan hidup. Banyak orang tenggelam dalam kesibukan mengejar karier, harta, dan prestasi hingga lupa pada tujuan akhir kehidupan. Padahal Allah SWT berfirman:
"Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu negeri akhirat, tetapi janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia." (QS. Al-Qashash: 77)
Ayat ini mengingatkan bahwa seorang muslim tidak diperintahkan meninggalkan dunia, melainkan menjadikan dunia sebagai jalan untuk meraih ridha Allah.
Lebih jauh, hijrah juga berarti keluar dari sikap individualistis menuju kepedulian sosial. Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, banyak orang sibuk dengan urusannya sendiri. Padahal kualitas keimanan juga tercermin dari sejauh mana seseorang memberi manfaat bagi orang lain. Hijrah yang benar akan melahirkan pribadi yang lebih peduli terhadap keluarga, tetangga, masyarakat, dan lingkungan sekitarnya.
Tantangan terbesar hijrah masa kini justru datang dari dalam diri sendiri. Tidak sedikit yang terjebak menjadikan hijrah sebagai pencitraan. Simbol-simbol perubahan sering kali lebih ditonjolkan daripada pembenahan hati dan amal. Padahal perjalanan menuju kebaikan tidak pernah instan. Ia membutuhkan kesabaran, keikhlasan, lingkungan yang baik, dan istiqamah yang terus dijaga.
Pada akhirnya, keberhasilan hijrah tidak diukur dari seberapa lama seseorang menyandang label "orang hijrah". Ukurannya adalah sejauh mana iman bertumbuh, akhlak membaik, dan manfaat yang diberikan kepada sesama semakin luas.
Karena itu, hijrah bukanlah tujuan akhir, melainkan perjalanan seumur hidup. Sebuah perjalanan untuk terus meninggalkan apa yang dimurkai Allah dan melangkah menuju segala yang dicintai serta diridhai-Nya.
Mari jadikan setiap hari sebagai langkah baru untuk memperbaiki diri, memperkuat iman, dan menebarkan kebaikan kepada sesama. Sebab hijrah terbaik adalah hijrah yang terus bergerak menuju ridha Allah SWT.(*)




