Surakarta, pasbana— Kabar membanggakan datang dari dunia pendidikan tinggi seni Indonesia. Dosen Program Studi Seni Musik Fakultas Seni Pertunjukan ISI Padangpanjang, Rozalvino, S.Sn., M.Sn., berhasil meraih gelar Doktor Seni setelah lulus dalam Ujian Terbuka Pertanggungjawaban Karya Seni Program Doktor Penciptaan Seni Pascasarjana ISI Surakarta.
Pada ujian yang berlangsung di Teater Besar Gendhon Humardhani ISI Surakarta, Jumat (5/6/2026), Rozalvino dinyatakan lulus dengan predikat sangat memuaskan dan memperoleh Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,94.
Disertasi karya seni yang dipertanggungjawabkan berjudul “Saluak Sang Sako: Interpretasi Multi-Pentatonis dalam Komposisi Musik.” Karya tersebut merupakan hasil penelitian artistik yang mengembangkan sistem penciptaan komposisi musik berbasis pengetahuan budaya Minangkabau, khususnya yang berkaitan dengan relasi kekerabatan, sistem komunikasi adat, serta nilai-nilai budaya yang hidup dalam masyarakat Minangkabau.
Sidang ujian dipimpin oleh Dr. Aris Setiawan, S.Sn., M.Sn. sebagai Ketua Penguji dan Dr. Aries Budi Marwanto, S.Sn., M.Sn. sebagai Sekretaris. Tim promotor terdiri atas Prof. Dr. Bambang Sunarto, S.Kar., M.Sn. sebagai Promotor, Prof. Dr. Andar Indrasastra, S.Kar., M.Hum. sebagai Ko-Promotor I, dan Prof. Dr. Pande Made Sukerta, S.Kar., M.Si. sebagai Ko-Promotor II. Tim penguji juga menghadirkan sejumlah akademisi dan seniman terkemuka, yaitu Dr. Asep Saeful Haris, S.Sn., M.Sn., Dr. Agastya Rama Listya, MSM., Ph.D., Dr. Febri Yulika, S.Ag., M.Hum., serta Dr. Aloysius Suwardi, S.Kar., M.A.
Keberhasilan tersebut menandai berakhirnya proses pendidikan doktoral yang panjang sekaligus membuka babak baru bagi pengembangan seni musik, penelitian artistik, dan pendidikan tinggi seni di Indonesia, khususnya di lingkungan ISI Padangpanjang.
Perjalanan Akademik dan Komitmen pada Musik Berbasis Budaya
Pencapaian Rozalvino tidak hadir secara tiba-tiba. Gelar doktor yang diraih merupakan hasil dari perjalanan panjang sebagai akademisi, peneliti, dan seniman musik yang selama bertahun-tahun menempatkan kebudayaan Minangkabau sebagai sumber utama eksplorasi artistiknya.
Selama menjalankan tugas sebagai dosen di Program Studi Seni Musik ISI Padangpanjang, Rozalvino dikenal sebagai akademisi yang aktif mengembangkan berbagai kajian dan praktik penciptaan musik yang berangkat dari tradisi lokal. Perhatiannya tidak hanya tertuju pada pelestarian bentuk-bentuk musikal tradisional, tetapi juga pada upaya menemukan kemungkinan-kemungkinan baru yang dapat menghubungkan warisan budaya dengan perkembangan seni kontemporer.
Ketertarikan tersebut mendorongnya untuk melanjutkan studi pada Program Doktor Penciptaan Seni ISI Surakarta. Lingkungan akademik di program tersebut memberikan ruang bagi pengembangan pendekatan penelitian artistik yang memungkinkan praktik penciptaan seni menjadi sarana produksi pengetahuan.
Bagi Rozalvino, tradisi bukan sekadar sumber inspirasi artistik. Tradisi mengandung sistem berpikir, nilai, konsep, serta pengetahuan yang dapat menjadi landasan penciptaan seni baru. Pandangan tersebut kemudian menjadi fondasi utama dalam pengembangan disertasi karya seni Saluak Sang Sako.
Proses pendidikan doktoral yang dijalaninya tidak hanya menghasilkan sebuah karya pertunjukan musik, tetapi juga melahirkan model konseptual yang menawarkan cara baru dalam memahami hubungan antara budaya lokal dan praktik penciptaan musik kontemporer.
Menempatkan Minangkabau sebagai Sumber Pengetahuan Musik
Salah satu kontribusi penting penelitian Rozalvino terletak pada keberhasilannya menempatkan budaya Minangkabau sebagai sumber pengetahuan penciptaan musik. Selama ini, berbagai karya berbasis budaya lokal umumnya memanfaatkan unsur-unsur tradisi sebagai materi artistik, seperti penggunaan alat musik tradisional, motif melodi daerah, atau simbol-simbol budaya tertentu. Pendekatan tersebut penting, tetapi sering kali masih menempatkan tradisi sebagai objek yang dikutip atau direpresentasikan.
Penelitian Rozalvino mengambil langkah yang berbeda. Fokus utama penelitian tidak berada pada penggunaan unsur-unsur tradisi secara langsung, melainkan pada upaya memahami bagaimana sistem pengetahuan yang hidup dalam masyarakat Minangkabau dapat diterjemahkan menjadi logika komposisi musik.
Perhatian utama diarahkan pada dinamika relasi kekerabatan Minangkabau, khususnya posisi sumando yang kerap dimetaforakan melalui ungkapan abu di ateh tunggua. Ungkapan tersebut menggambarkan posisi yang selalu berada dalam ruang negosiasi sosial, antara kedekatan dan jarak, antara penerimaan dan batas-batas tertentu yang ditentukan oleh sistem adat.
Selain itu, penelitian juga mengkaji sistem komunikasi adat kato nan ampek dan praktik kato malereng yang selama ini menjadi bagian penting dalam tata hubungan sosial masyarakat Minangkabau. Sistem komunikasi tersebut kemudian dibaca bukan sebagai objek kajian budaya semata, melainkan sebagai prinsip relasional yang dapat diterapkan dalam penyusunan struktur musikal.
Pendekatan tersebut menghasilkan sebuah sistem komposisi yang menempatkan hubungan antarbunyi sebagai pusat perhatian. Bunyi tidak lagi bergerak secara hierarkis berdasarkan pusat tonal tunggal, tetapi membangun relasi yang lebih cair, dialogis, dan saling bernegosiasi sebagaimana hubungan sosial yang menjadi sumber inspirasinya.
Saluak Sang Sako: Dari Konsep Budaya Menjadi Komposisi Musik
Karya Saluak Sang Sako diwujudkan dalam bentuk komposisi musik pertunjukan yang terdiri atas tiga bagian utama, yaitu Sako, Sang, dan Saluak. Ketiga bagian tersebut merepresentasikan tahapan-tahapan relasi kekerabatan yang terus bergerak melalui proses interaksi, adaptasi, ketegangan, hingga pembentukan makna baru.
Bagian Sako menghadirkan fondasi hubungan sosial yang berakar pada struktur adat. Bagian Sang menampilkan dinamika interaksi yang penuh negosiasi dan perubahan. Bagian Saluak menjadi ruang refleksi yang menghadirkan kemungkinan-kemungkinan pemaknaan ulang terhadap relasi yang telah terbentuk.
Secara artistik, sistem komposisi dibangun melalui penggunaan empat nada tanpa penegasan pusat tonal yang dominan. Pilihan tersebut menghasilkan ruang musikal yang terbuka dan memungkinkan terjadinya berbagai bentuk interaksi bunyi yang tidak bersifat hierarkis.
Konstruksi harmoni mikrotonal, teknik interlocking lintas sukat, serta penggunaan notasi grafis menjadi perangkat utama dalam membangun struktur karya. Menariknya, prinsip-prinsip tersebut tidak lahir dari upaya mengadopsi teori musik modern semata, tetapi berangkat dari interpretasi terhadap sistem komunikasi adat Minangkabau yang kemudian ditransformasikan ke dalam bahasa musikal.
Melalui proses tersebut, budaya tidak hadir sebagai dekorasi artistik, melainkan sebagai sumber logika penciptaan yang membentuk keseluruhan struktur karya.
Kontribusi bagi Pengembangan Musik Kontemporer Indonesia
Penelitian Rozalvino menawarkan kontribusi penting bagi pengembangan musik kontemporer Indonesia. Perkembangan seni kontemporer saat ini berlangsung dalam situasi yang semakin global. Arus pertukaran gagasan, teknologi, dan metode penciptaan bergerak sangat cepat. Kondisi tersebut membuka peluang yang luas, tetapi sekaligus menghadirkan tantangan berupa kecenderungan homogenisasi praktik artistik.
Situasi tersebut menuntut para seniman dan akademisi untuk menemukan strategi penciptaan yang mampu menjaga relevansi lokal tanpa kehilangan kemampuan untuk berdialog dengan perkembangan global.
Karya Saluak Sang Sako memperlihatkan bahwa tradisi budaya Nusantara masih menyimpan potensi besar sebagai sumber inovasi artistik. Tradisi tidak harus dipertentangkan dengan modernitas. Sebaliknya, tradisi dapat menjadi sumber metodologi yang mampu melahirkan bentuk-bentuk penciptaan baru.
Temuan Rozalvino menunjukkan bahwa sistem komunikasi adat dan struktur sosial budaya dapat ditransformasikan menjadi logika komposisi musik yang produktif. Perspektif ini memperluas cakupan penelitian musik Indonesia yang selama ini lebih banyak berfokus pada dokumentasi tradisi atau analisis bentuk musikal.
Kontribusi tersebut juga memperkuat posisi practice-based research sebagai salah satu pendekatan penting dalam pendidikan tinggi seni. Pengetahuan tidak hanya lahir melalui analisis terhadap objek yang telah ada, tetapi juga melalui proses penciptaan yang menghasilkan pengalaman artistik baru.
Perkembangan semacam ini menjadi sangat penting bagi masa depan pendidikan seni Indonesia yang membutuhkan model-model penelitian yang mampu menjembatani praktik dan teori secara setara.
Makna Strategis bagi ISI Padangpanjang
Keberhasilan Rozalvino meraih gelar doktor merupakan capaian personal yang patut diapresiasi. Namun maknanya jauh melampaui keberhasilan individu semata.
Kembalinya Rozalvino ke Program Studi Seni Musik Fakultas Seni Pertunjukan ISI Padangpanjang membawa potensi besar bagi penguatan kapasitas akademik institusi. Kehadiran dosen bergelar doktor di bidang penciptaan seni musik akan memperkaya proses pembelajaran, meningkatkan kualitas penelitian, serta memperluas kemungkinan kolaborasi akademik di tingkat nasional maupun internasional.
Perguruan tinggi seni saat ini menghadapi tuntutan yang semakin besar untuk menghasilkan inovasi berbasis riset sekaligus menjaga relevansi dengan akar budaya masyarakat. Tantangan tersebut membutuhkan sumber daya manusia yang mampu bergerak secara simultan sebagai pendidik, peneliti, dan pencipta seni.
Pengalaman akademik yang diperoleh Rozalvino selama menjalani pendidikan doktoral diharapkan dapat memperkuat pengembangan kurikulum, pembimbingan mahasiswa, penciptaan karya seni, publikasi ilmiah, serta pengembangan jaringan akademik yang lebih luas.
Keberhasilan ini juga menjadi indikator positif bagi perkembangan sumber daya manusia ISI Padangpanjang dalam membangun ekosistem pendidikan seni yang unggul dan berdaya saing.
Peningkatan jumlah dosen berkualifikasi doktor merupakan salah satu fondasi penting dalam memperkuat posisi institusi sebagai pusat pengembangan seni, budaya, dan pengetahuan yang berakar pada kekayaan tradisi Nusantara.
Menyongsong Masa Depan Pendidikan Seni Berbasis Pengetahuan Lokal
Pencapaian Rozalvino memperlihatkan bahwa kebudayaan lokal masih memiliki ruang yang sangat luas untuk dikembangkan sebagai sumber inovasi akademik dan artistik.
Karya Saluak Sang Sako menjadi contoh bagaimana sistem pengetahuan yang hidup dalam masyarakat dapat diterjemahkan menjadi praktik penciptaan seni yang relevan dengan perkembangan zaman. Pendekatan semacam ini tidak hanya memperkaya khazanah musik kontemporer Indonesia, tetapi juga memperkuat posisi budaya Nusantara dalam percakapan seni global.
Kelulusan Rozalvino sebagai Doktor Seni dari ISI Surakarta menandai berakhirnya satu perjalanan akademik sekaligus membuka perjalanan baru dalam pengembangan pendidikan seni, penelitian artistik, dan penciptaan musik berbasis budaya Indonesia.
ISI Padangpanjang menyambut kembali Rozalvino dengan harapan bahwa pengalaman, pengetahuan, dan capaian akademik yang diraih selama studi doktoral akan memberikan kontribusi nyata bagi penguatan pendidikan seni, pengembangan riset artistik, serta kemajuan kebudayaan Indonesia pada masa mendatang. (*)






