Notification

×

Iklan

Iklan

IHSG Dibayangi Sinyal Hawkish The Fed, Pasar Bersiap Hadapi Gejolak Baru

18 Juni 2026 | 09:39 WIB Last Updated 2026-06-18T02:39:41Z


JAKARTA, pasbana Harapan penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Kamis (18/6/2026) masih tertahan. Di tengah ketidakpastian global, pasar kini menghadapi kombinasi sentimen yang tidak ringan: sinyal kenaikan suku bunga Amerika Serikat dan potensi pengetatan kebijakan moneter di dalam negeri.

Federal Reserve (The Fed) memang mempertahankan suku bunga acuannya di level 3,5%-3,75%. Namun, di bawah kepemimpinan Ketua The Fed Kevin Warsh, bank sentral AS memberikan pesan yang lebih penting bagi investor: era suku bunga tinggi berpotensi bertahan lebih lama, bahkan peluang kenaikan kembali pada Oktober mulai terbuka.

Bagi pasar negara berkembang seperti Indonesia, arah kebijakan bank sentral global bukan sekadar angka. Suku bunga yang lebih tinggi di AS biasanya memperkuat dolar, memengaruhi nilai tukar rupiah, dan berpotensi mendorong arus dana asing keluar dari pasar domestik.

Analis Teknikal BRI Danareksa Sekuritas Reza Diofanda menilai perhatian investor kini tertuju pada dua agenda utama, yakni arah kebijakan The Fed serta hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang diperkirakan menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,75%.

Menurutnya, keputusan tersebut akan menentukan pergerakan rupiah, aliran modal asing, serta sentimen pasar dalam jangka pendek. Secara teknikal, IHSG diperkirakan bergerak terbatas dengan kecenderungan melemah dan berkonsolidasi pada area support 6.071-5.931 serta resistance 6.300-6.350.

“Selama bertahan di atas area support, tren rebound menengah masih terjaga meskipun volatilitas diperkirakan meningkat menjelang berbagai agenda pasar pekan ini,” ujar Reza dalam risetnya.

Selain keputusan suku bunga, investor juga menanti sejumlah agenda penting seperti MSCI Global Market Accessibility Review, rebalancing FTSE, dan MSCI Annual Market Classification Review yang dapat memengaruhi arus investasi global.
Pilarmas Sekuritas melihat tekanan eksternal masih dominan. Proyeksi terbaru The Fed atau dot plot menunjukkan median Fed Rate tahun ini naik menjadi 3,75%, lebih tinggi dibanding proyeksi sebelumnya.

Sementara proyeksi tahun depan dan dua tahun mendatang juga mengalami kenaikan.
Menariknya, kekhawatiran pasar muncul ketika peluang kenaikan suku bunga justru meningkat di saat harga minyak dunia telah turun di bawah US$80 per barel. Probabilitas kenaikan suku bunga pada September bahkan diperkirakan mencapai 50,4%.

Kondisi tersebut langsung tercermin di Wall Street. Indeks S&P 500 turun sekitar 1,5%, sementara imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor dua tahun melonjak menjadi 4,21% dan dolar AS menguat.

“Pesan yang lebih penting datang dari proyeksi suku bunga. Pasar sudah bersiap menghadapi suku bunga yang lebih tinggi, tetapi para pembuat kebijakan tampaknya bersedia mempertahankan sikap yang lebih hawkish dibandingkan perkiraan investor,” kata Bret Kenwell dari eToro.

Di dalam negeri, Bank Indonesia diperkirakan akan menaikkan suku bunga menjadi 5,75% demi menjaga stabilitas rupiah, mengendalikan inflasi, serta mempertahankan daya tarik aset domestik di tengah gejolak global.

Dalam jangka pendek, pasar saham Indonesia tampaknya masih akan bergerak hati-hati. Di tengah suku bunga yang berpotensi bertahan tinggi dan meningkatnya volatilitas global, kemampuan menjaga stabilitas menjadi faktor kunci. Bagi investor, situasi ini menjadi pengingat bahwa pasar tidak hanya digerakkan oleh kinerja emiten, tetapi juga oleh arah kebijakan moneter yang menentukan aliran likuiditas dunia. (*)

IKLAN

×
Kaba Nan Baru Update