Notification

×

Iklan

Iklan

Tol Sumbar: Jalan Raya atau Jalan Pikiran?

30 Juli 2026 | 10:04 WIB Last Updated 2026-07-30T03:04:17Z


Pasbana - Membangun jalan tol di Sumatera Barat bukan semata urusan membelah bukit, menghampar aspal, lalu memangkas waktu tempuh. Tantangan sesungguhnya justru terletak pada bagaimana pembangunan mampu berjalan seiring dengan adat, alam, dan rasa memiliki masyarakat. 

Di Ranah Minang, setiap jengkal tanah menyimpan sejarah, bukan sekadar angka di sertifikat.

Di sinilah perdebatan tentang jalan tol kerap tersendat. Sebagian melihatnya sebagai ancaman terhadap tanah ulayat, sawah, hingga tatanan sosial. 

Kekhawatiran itu sah. Namun, menutup mata terhadap persoalan kemacetan, tingginya biaya logistik, dan lambatnya mobilitas juga bukan pilihan bijak.

Karena itu, diskusinya semestinya bergeser dari sekadar "setuju atau menolak" menjadi "bagaimana membangun dengan benar".

Teknologi konstruksi kini memungkinkan jalan layang, terowongan, hingga viaduk yang lebih ramah terhadap bentang alam dan meminimalkan pembebasan lahan. Dengan perencanaan matang, pembangunan tak harus menjadi lawan bagi adat maupun lingkungan.

Manfaat ekonominya pun sulit diabaikan. Jalur yang lebih cepat akan menekan biaya distribusi hasil pertanian, memperkuat sektor pariwisata, serta membuka peluang tumbuhnya pusat-pusat ekonomi baru di sekitar akses tol. 

Tentu, semua itu hanya bernilai jika ditata dengan visi, bukan sekadar mengejar deretan ruko tanpa arah.

Yang lebih penting lagi adalah memastikan masyarakat tidak hanya menjadi penonton. Gagasan agar pemerintah daerah, koperasi, pelaku usaha lokal, hingga perantau ikut berpartisipasi dalam pembiayaan maupun kepemilikan proyek layak dipertimbangkan. Ketika masyarakat merasa memiliki, rasa curiga perlahan berubah menjadi tanggung jawab bersama.

Namun, pembangunan juga harus menjaga keadilan. Jalan nasional maupun jalan provinsi tetap wajib dirawat agar masyarakat memiliki pilihan mobilitas yang layak. Jalan tol seharusnya menjadi pelengkap, bukan pemaksa.

Pada akhirnya, jalan tol bukan sekadar infrastruktur, melainkan ujian kedewasaan berpikir. Sumatera Barat tidak membutuhkan pembangunan yang tergesa-gesa, tetapi juga tidak boleh terjebak dalam romantisme masa lalu. 

Yang dibutuhkan adalah keberanian merancang kemajuan dengan menghormati adat, menjaga alam, dan memastikan manfaat ekonominya benar-benar kembali kepada masyarakat. 

Sebab kemajuan akan terasa lebih bermakna ketika rakyat menjadi bagian dari perjalanan itu, bukan sekadar menyaksikannya dari tepi jalan. (Redaksi)

IKLAN

×
Kaba Nan Baru Update