Notification

×

Iklan

Iklan

Inflasi RI Melonjak ke 3,08% — Harga Pangan Jadi Pemantik Utama

02 Juni 2026 | 11:33 WIB Last Updated 2026-06-02T04:33:11Z



Inflasi IHK (YoY)

3,08%

vs Apr: 2,42%

Inflasi IHK (MoM)

0,28%

vs Apr: 0,13%

Inflasi Inti (YoY)

2,59%

vs Apr: 2,44%

Target BI 2026

2,5±1%

✓ Dalam rentang target

Pendorong inflasi bulanan (MoM)

Makanan, minuman & tembakau+0,12 pp

Cabai merah · Minyak goreng · Bawang merah

Transportasi+0,07 pp

BBM non-subsidi · Tarif angkutan udara

Andil pangan terhadap inflasi tahunan: 1,43 percentage point dari total 3,08% YoY.


Pasbana - Ketika pasar sedang menghitung ulang ekspektasi, data terbaru justru datang lebih panas dari perkiraan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi indeks harga konsumen (IHK) Indonesia pada Mei 2026 menembus angka 3,08% secara tahunan — melampaui konsensus pasar yang mematok di 2,98%. 

Dalam dunia ekonomi, selisih 10 basis poin bisa tampak kecil, tapi sinyal di baliknya cukup besar untuk dicermati.

Penyumbang terbesar bukan sektor finansial atau energi fosil, melainkan sesuatu yang jauh lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari: meja makan. 

Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menyumbang 1,43 percentage point dari total inflasi tahunan. Secara bulanan, kenaikannya pun terasa — cabai merah, minyak goreng, dan bawang merah kompak naik, mendorong andil 0,12 poin terhadap inflasi MoM sebesar 0,28%.

Selain pangan, sektor transportasi ikut menekan. Kenaikan harga beberapa BBM non-subsidi dan tarif angkutan udara berkontribusi 0,07 poin secara bulanan — menjadikan mobilitas sebagai variabel kedua yang perlu diperhatikan, khususnya menjelang musim liburan sekolah.

Yang menarik, di balik angka yang tampak meresahkan ini, inflasi inti — indikator yang menyaring harga bergejolak dan harga diatur pemerintah — hanya tercatat 2,59% YoY. Artinya, tekanan inflasi masih bersifat supply-side, bukan cerminan permintaan yang memanas secara luas. 

Bank Indonesia pun dapat sedikit bernapas: angka 3,08% masih berada dalam pita target 2,5% ± 1% yang telah ditetapkan untuk 2026.
Pertanyaannya kini bukan sekadar "seberapa tinggi inflasi bulan ini?", melainkan: seberapa lama ketahanan pangan kita mampu menjaga harga tetap dalam kendali — sebelum dompet rakyat yang pertama kali merasakannya?
(*)

IKLAN

×
Kaba Nan Baru Update