Notification

×

Iklan

Iklan

Jejak Rasa dari Empat Etnis, Mimpi Padang Menuju Kota Gastronomi UNESCO 2027

17 Juni 2026 | 15:39 WIB Last Updated 2026-06-17T08:39:32Z


Padang, pasbana - Di Kota Padang, aroma rempah bukan sekadar penggugah selera. Di balik semangkuk soto hangat, sepotong martabak, atau sepiring rendang, tersimpan kisah panjang perjumpaan budaya yang telah berlangsung selama berabad-abad.

Di kota pelabuhan yang sejak lama menjadi tempat singgah berbagai bangsa itu, rasa tumbuh dari keberagaman. Minangkabau, Tionghoa, India, dan Nias hidup berdampingan, lalu perlahan saling memengaruhi. Dari percampuran itulah lahir identitas kuliner Padang yang kini ingin diperkenalkan kepada dunia.

Pemerintah Kota Padang tengah mempersiapkan langkah besar. Bukan sekadar mengejar prestise internasional, tetapi menjadikan kekayaan kuliner sebagai kekuatan ekonomi dan diplomasi budaya. Targetnya jelas: membawa Padang masuk dalam jaringan UNESCO Creative Cities Network (UCCN) sebagai Kota Gastronomi Dunia pada 2027.

Kepala Dinas Pariwisata Kota Padang, Yenni Yuliza, mengatakan gastronomi merupakan perpaduan antara seni kuliner, sejarah, tradisi, dan budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.

“Gastronomi adalah perpaduan antara budaya dan kuliner yang menjadi kekayaan warisan budaya kita. Saat ini seluruh elemen bergerak bersama untuk memperkuat identitas Padang agar diakui dunia sebagai kota gastronomi,” ujarnya.

Kekuatan itu berakar dari filosofi “Padang Jalan Berempat”, simbol harmonisasi empat etnis utama yang membentuk denyut kehidupan kota. Akulturasi tersebut tidak hanya melahirkan Tari Balanse Madam, musik Gamad, hingga Barongsai, tetapi juga menghadirkan kekayaan rasa yang unik.

Jejak budaya Tionghoa masih terasa di kawasan Kampung Pondok melalui ragam kuliner peranakan. Sementara pengaruh India Tamil tercermin dari penggunaan rempah yang kuat pada berbagai hidangan legendaris seperti Soto Garuda, Soto Rajawali, hingga martabak khas Malabar.

Bagi Padang, status Kota Gastronomi UNESCO bukan semata soal pengakuan. Label tersebut diyakini mampu mendorong pertumbuhan UMKM, memperluas lapangan kerja, serta meningkatkan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.

Saat ini, persaingan menuju UNESCO berlangsung ketat. Dari 17 kota kreatif di Indonesia yang dinilai, hanya dua kota yang akan mewakili Indonesia di tingkat dunia. Namun, optimisme tetap menyala.

Jika impian itu terwujud pada 2027, Padang tak hanya dikenal sebagai rumah rendang dan masakan Minang. Kota ini akan dikenang sebagai contoh bagaimana warisan budaya mampu diolah menjadi kekuatan ekonomi sekaligus jembatan yang menghubungkan Indonesia dengan dunia.

Di tengah derasnya modernisasi, cita rasa yang diwariskan leluhur ternyata masih memiliki satu kemampuan istimewa: menyatukan manusia dan membawa nama sebuah kota melintasi batas negara.

Karena dari dapur sederhana, sebuah identitas bangsa bisa berbicara kepada dunia.
Makin tahu Indonesia. (*)

IKLAN

×
Kaba Nan Baru Update