Notification

×

Iklan

Iklan

Perupa Berempati dalam Rupa dan Makna

02 Juni 2026 | 20:25 WIB Last Updated 2026-06-02T13:41:56Z



Oleh: Sulaiman Juned *)

Padang Panjang, pasbana - Pameran Senirupa Dosen dan Mahasiswa Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) ISI Padangpanjang pada 8-9 April 2026 di Galeri Hoeridjah Adam Institut Seni Indonesia (ISI) bertajuk Harmoni dalam Rupa ada yang menarik dari 10 Perupa karya dosen  Seni Murni dalam kurun waktu setahun ini yang gagasannya berangkat dari realitas sosial lingkungan sebagai ekspresi pribadi dalam merespon situasi dan kondisi. Hal ini tentu memberikan apresiasi dan informasi artistic dan makna kepada masyarakat sebagai transformasi moral.  



Perupa tidak hanya menarikan kuas di atas kanvas, namun 10 perupa ini menorehkan rasa yang direbutnya dari kondisi lingkungan termasuk air mata yang dirasakan perupa ketika menjadi penyaksi yang melukis dengan hati. Para perupa ini menitipkan harapan, luka, kasih sayang, kesepian, kemerdekaan dan rindu lewat kanvas ke dada penonton. 

Mari kita lihat karya-karya perupa ini yang membuat penonton menjadi manusia kepada manusia lain. Menyaksikan karya Ramadhani Kurniawan. 



Karya Ramadhani Kurniawan bertajuk Ornamen Media Lilit dan menyambut kawat-kawat qalvanis dan tembaga dalam ukuran 130 cm x 65 cm x 7 cm tahun 2023.  

Dhani sebagai perupa, meilihat dan meraba serta merasakan setiap tanda dan makna saling berhimpitan sehingga menyatu dengan gaya motif dalam pengulangan teks menjadi objek nyata dalam horamoni kata. 

Disinilah relasi tanda saling berkait dengan pengulangan tifografi. Pilihan material kawat sangat tepat untuk memberikan sensasi objek berdimensi dan meruang.
 
Kemudian mari kita baca karya Heruningrum yang berjudul 'Taguah Pandiaran".



Karya Heruningrum berjudul Taguah Pandirian Media Earthen Ware dalam ukuran 30 cm x 30 cm x 30 cm tahun 2018. Heru terinspirasi karaya dari bentu Teko sebagai symbol kehidupan yang dekat dengan aktivitas sehari-hari. 

Karya ini menegaskan keteguhan sikap bukan dari momen besar tetapi tercemin dalam kebiasan yang memang harus selalu dijaga.

Motif pucuak rabuang menjadi gambaran perihal pertumbuhan, keberlanjutan hidup dan semangat untuk tumbuh sepanjang masa. 

Keharmonisan juga terlihat karena menggunakan teknik kerawang sehingga muncul kesan ruang dan juga lobang kecil sehingga memiliki pola irama dengan bentuk segi tiga. 

Selanjutnya Karya perupa Jeki Aprisela.



Karya Jeki Aprisela berjudul Bahaso Kitao dalam ukuran (1 x t)  40 cm x 75 cm dengan media Reliefprint and Hand Colouring On Canvas tahun 2024. Bahaso Kitao (Bahasa Kita) berbicara perihal menariknya bahasa Kerinci yang memiliki dialek berbeda antara satu dusun atau antarwilayah adat. 

Bahasa Kerinci memiliki dialek tersendiri yang berbeda dengan suku-suku yang ada di Indonesia sekaligus terdapat keunikan tersendiri. Bahasa Kerinci terdapat 130 dielek (lebih kurang) yang berada di Kabupaten Kerinci dan Kota Sungai Penuh.

Karya ini juga mengajak semua pemangku kepentingan dan masyakarat untuk selalu menggunakan dan memelihara bahasa daerah yang memiliki kekuatan pada kearifan lokal.



Sementara Karya senirupanya Miswar bertajuk Rangkiang dengan ukuran 40 x 75 cm lewat media Akrilic pada kanvas tahun 2026. Karya Miswar terdapat warna puti dan biru sebagai latarbelakannya. Sedangkan tiga representasi Rangkiang pada sebelah kanan berwarna kuning dan orange.

Visualisasi pada bahagian tengah Rangkiang berwarna orange dengan gradasi coklat dan sebelah kirinya berwarna orange dengan gradasi berwana coklat serta atapnya berwarna hijau tua. 

Tampak pula empat batu karang yang menjulang dengan visualisasi rerumputan. Karya ini melambangkan kemandirian dan masyarakat harus memiliki cadangan kebutuhan pokok dan mampu mengelola sumber daya dalam kehidupan.  



Karya selanjutnya Elvis sebagai perupa bertajuk Gerhana Bulan dengan ukuran 100 cm x 100 cm memakai media akrilic pada kanvas tahun 2026. Karya Gerhana Bulan atau Cahaya Bulan  melambangkan keindahan alami. 

Ketenangan di malam haro menjadi sumber inspirasi untuk melahirkan ide-ide kreatif sepertinya bagi perupa Elvis untuk melahirkan karya senirupa terutama karya seni lukis. 

Hal ini dapat dilihat dari segi objek sinar lingkaran cahaya yang mampu memberikan kesan kedamaian. Elvis melalui karyanya juga melambangkan refleksi, keseimbangan sekaligus pengingat akan kekuasaan alam menjadi pelajaran dalam kehidupan.


 
Membaca karya rupa dari Hamzah bertajuk Sabda Alam dengan ukuran  100 cm x 80 cm memakai media Akrilik pada kanvas tahun 2026. Sepertinya perupa Hamzah merebut gagasan dari musibah atau bencana banjir, longsor dan galodo yang terjadi di Sumatera. 

Sesungguhnya bencana yang menimpa suatu wilayah akibat ulah dan perilaku manusia atau masyarakat di wilayah tersebut. Atas dasar itu, Hamzah lewat lukisannya menitipkan pesan agar bencana itu dapat dijadikan transformasi moral, menjadi renungan. 

Sebab apapun yang diwujudkan Tuhan di atas bumi ini tak pernah sia-sia, segalanya pasti ada maksud dan tujuan. Hamzah bertransformasi dalam lukisannya menjadi estetika tragis lewat kritik ekologi yang tidak sekedar mendokumentasikan trauma tetapi juga merekam kegagalan peradaban lewat sapuan kuasnya agar alam tidak dieksploitasi.  



Kemudian simaklah dengan seksama karya Yunis Muller yang bertajuk Maalau Itiak  dengan ukuran 40 cm x 60 cm  melalui media Oil On Canvas tahun 2024. Perupa meruangkan Bebek (itiak) pulang patang (Sore), sementara pengembalanya bergerak diantara tebing alam di wilayah Sumatera Barat melewati perbukitan yang berkabut dengan pohon tumbuhan yang hijau. 

Hal ini memiliki metafora Minangkabau perihal keteraturan, kebersamaan dan keserasian hidup bermasyarakat. Ini tentu perlu diterapkan dalam tata nilai kehidupan masyarakat kini. 



Perupa Mutia Budhi Utami bertajuk Alam Minangkabau dengan ukuran 50 cm x 50 cm memakai media Akrilik pada Kanvas tahun 2026 masih berbicara tentang Minangkabau. Perupa ini menyampaikan nilai adat, filosofi dan harmoni kehidupan di wilayah Minangkabau. 

Rumah Gadang berada di atas pepohonan, mencerminkan lanskap dari konsep alam takambang jadi guru. Sementara itu, Pohon besar mencerminkan keharmonisan dan rumah gadang yang menyatu dengan ranting dan daun melambangkan keterikatan erat antara manusia dengan adat dan alam.



Sedangkan Armen Nazaruddin karya rupanya bertajuk Bangkit dengan ukuran lewat Miyed Media tahun 2025. Armen memilih objek utama lambing Negara, yakni Burung Garuda dengan ukuran yang memenuhi bidang frontal  di tengah. Warna monochrome dan bercak-bercak merah, kuning dan putih di gores tersayat. 

Bagian atas sebelah kiri sayap garuda warna merah putih bendera Indonesia, latar belakang tekstur retak-retak pecah, dan bercak warna merah orange kuning dan putih. Baground warna coklat kuning menggambarkan situasi dan kondisi hari  Indonesia harapan bangsa agar negeri menjadi makmur dan sentosa.. 


Terakhir, karya yang ke sepuluh karya perupa Jufrinaldi. Karyanya bertajuk i,i,a. i (Iran), i (Israel), a (Amerika). Melukiskan sebuah kesan perang dan konflik Iran Versus Israel dan Amerika Serikat yang sedang berlangsung kini. Perang yang sedang bergejolak kini tentu sangat berimbas di setiap belahan dunia lahan secara ekonomi global. Kemudian yang sangat dicemaskan akan memicu terjadinya Perang Dunia ketiga.   

Sepuluh perupa ini menciptakan karyanya tidak hanya menggugah tetapi memang sungguh memukau, menyentuh mata batin penikmatnya utnuk menjadikan transformasi moral sekaligus pembelajaran hidup. Jadi, disinilah seni menemukan tugas yang paling mulia yakni membuat kesadaran manusia untuk menjadi manusia.

Selain itu, dapat menjadi nilai doa dalam ingatan umur sepanjang hidup melalui sapuan kuas yang sesuai dengan tema pameran Harmoni dalam Rupa. Mengatur komposisi melalui elemen visual dalam menciptakan keseimbangan dan harmoni. Sementara itu, juga sangat tepat dalam menggunakan warna sehingga terlihat dimensi emosional dan estetikanya.

Sedangkan teknik dapat menciptakan efek yang diinginkan. Atas dasar itu, kesepuluh perupa merefleksikan bagaimana hidup harus dijalani dengan bijak agar bermakna baik diri sendiri maupun bagi masyarakat. (*)



*) Penulis adalah Sastrawan, Kolumnis, Esais, Kurator Seni, Sutradara Teater, Dosen Jurusan Seni Teater ISI Padangpanjang, Pendiri/Penasihat Komunitas Seni Kuflet Kota Padangpanjang, Penerima Pin Emas Bidang Seni Budaya dan Adat Istiadat pada Tahun 2020 dari Pemerintahan Kota Padang Panjang, Ketua Panitia Pendirian ISBI Aceh (2012/2015), Ketua Umum Majelis Adat Aceh (MAA) Perwakilan Sumatera Barat.     
         

IKLAN

×
Kaba Nan Baru Update