Notification

×

Iklan

Iklan

Punya Saham Jangan Seperti Main Judi, Anggap Saja Seperti Punya Mobil dan Rumah

21 Juni 2026 | 07:27 WIB Last Updated 2026-06-21T00:27:29Z


Pasbana - Bayangkan membeli mobil baru seharga Rp400 juta. Setelah keluar dari showroom, nilainya langsung turun. Namun kebanyakan orang tidak panik. Mobil tetap dipakai karena manfaatnya lebih penting daripada harga jual hariannya.

Pola pikir yang sama sebenarnya bisa diterapkan dalam investasi saham. Bagi investor jangka panjang, saham bukan sekadar angka yang naik turun di layar aplikasi, melainkan aset produktif yang mampu menghasilkan arus kas melalui dividen.

Contohnya saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI). Dengan kepemilikan sekitar 1.000 lot, nilai investasinya memang setara harga sebuah mobil. Namun setiap tahun investor berpotensi memperoleh dividen yang dapat membantu membiayai kebutuhan sehari-hari.

Saham Bukan Uang Tunai, Tapi Mesin Penghasil Arus Kas


Banyak investor pemula terlalu fokus pada harga saham yang bergerak setiap hari. Padahal, aset produktif seharusnya dinilai dari manfaat yang dihasilkan.

Logikanya sederhana:
  • Mobil mengalami depresiasi dan membutuhkan biaya bensin, pajak, serta perawatan.
  • Rumah membutuhkan biaya renovasi dan perawatan rutin.

Saham perusahaan berkualitas justru bisa membagikan dividen setiap tahun.
Karena itu, sebagian investor memilih memandang portofolionya sebagai pengganti kepemilikan barang tertentu.

Dividen yang diterima dapat digunakan untuk membayar transportasi, sewa rumah, atau kebutuhan lainnya.

Mengapa Tidak Perlu Terlalu Panik dengan Harga Saham?

Kita tidak mengecek harga jual mobil di OLX setiap jam. Kita juga tidak buru-buru menjual rumah hanya karena harga pasar sedang turun.

Prinsip yang sama berlaku pada saham. Selama fundamental perusahaan tetap sehat, fluktuasi harga jangka pendek tidak selalu menjadi alasan untuk panik.

Namun penting dipahami, investasi saham tetap memiliki risiko. Dividen tidak dijamin selalu naik, dan harga saham bisa berfluktuasi mengikuti kondisi ekonomi serta kinerja perusahaan.

Menurut banyak praktisi pasar modal, kunci utama membangun kekayaan bukanlah menebak harga harian, melainkan memiliki aset produktif dalam jangka panjang dan membiarkan hasil investasinya bekerja.

Pilih Saham Sesuai Profil Risiko

BMRI hanya contoh, bukan rekomendasi investasi. Setiap investor memiliki tujuan dan toleransi risiko yang berbeda.

Yang terpenting, jangan melihat saham sebagai alat untuk cepat kaya. Anggaplah saham sebagai kepemilikan bisnis yang mampu membantu membiayai gaya hidup secara bertahap.

Karena pada akhirnya, literasi keuangan bukan tentang mengejar keuntungan instan, melainkan membangun aset yang bisa bekerja untuk kita selama bertahun-tahun.(*)

IKLAN

×
Kaba Nan Baru Update