Pasbana- Kita sering berbicara tentang Indonesia Emas 2045 dengan penuh optimisme. Angka pertumbuhan ekonomi dihitung, kualitas pendidikan dipacu, dan infrastruktur terus dibangun. Namun, ada satu fondasi yang kerap luput dari perhatian: kesehatan jiwa.
Alarm itu kini berbunyi semakin keras. Kasus bunuh diri yang meningkat, gangguan mental pada anak dan remaja, hingga tekanan sosial yang semakin kompleks bukan lagi sekadar berita sesaat. Ia adalah cermin bahwa ada sesuatu yang sedang retak dalam kehidupan kita.
Pesan itulah yang disampaikan Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah, saat menghadiri pelantikan Pengurus PDSKJI Sumbar periode 2025–2028. Seruannya sederhana, tetapi sarat makna: kesehatan mental tidak boleh lagi ditempatkan di ruang sunyi yang hanya dibicarakan ketika tragedi terjadi.
Ironisnya, kita hidup di era ketika anak-anak semakin mahir mengoperasikan gawai, tetapi semakin sedikit yang tahu kepada siapa mereka harus bercerita. Media sosial membuat semua orang tampak bahagia, padahal di balik layar, tidak sedikit yang sedang berjuang melawan kecemasan, kesepian, bahkan keputusasaan.
Karena itu, kehadiran para psikiater tidak cukup hanya di rumah sakit. Layanan kesehatan jiwa harus hadir lebih dekat ke sekolah, keluarga, nagari, hingga ruang-ruang komunitas. Pencegahan jauh lebih murah daripada penyesalan.
PDSKJI Sumatera Barat memikul peran penting dalam membangun kesadaran bahwa gangguan mental bukan aib, melainkan persoalan kesehatan yang membutuhkan penanganan profesional. Kolaborasi dengan pemerintah, tenaga kesehatan, dunia pendidikan, dan masyarakat menjadi kunci agar layanan semakin mudah dijangkau.
Di sisi lain, gagasan menjadikan Sumatera Barat sebagai tuan rumah berbagai agenda nasional kesehatan juga patut diapresiasi. Selain memperkuat pengembangan ilmu kedokteran, langkah ini dapat menggerakkan ekonomi daerah melalui sektor pariwisata, perhotelan, kuliner, dan UMKM.
Indonesia Emas tidak hanya membutuhkan generasi yang cerdas dan produktif. Bangsa ini juga memerlukan generasi yang sehat jiwanya, kuat menghadapi tekanan, dan tidak merasa sendirian ketika hidup terasa berat. Sebab, masa depan yang gemilang tidak dibangun oleh manusia yang sekadar bertahan hidup, melainkan oleh mereka yang mampu hidup dengan harapan.(*)




