Notification

×

Iklan

Iklan

Otto Toto Sugiri, Arsitek Sunyi di Balik Lahirnya Infrastruktur Digital Indonesia

24 Juli 2026 | 09:49 WIB Last Updated 2026-07-24T02:49:37Z



Pasbana - Di balik setiap transaksi digital, panggilan video, hingga kecerdasan buatan yang kini menjadi bagian keseharian, ada fondasi yang jarang disadari publik. Ia bukan aplikasi yang tampil di layar ponsel, bukan pula media sosial yang ramai diperbincangkan. Fondasi itu adalah pusat data—tempat miliaran informasi disimpan dan dijaga setiap detik.

Di antara para perintisnya berdiri satu nama yang selama bertahun-tahun lebih memilih bekerja dalam senyap: Otto Toto Sugiri. Sosok yang dikenal sebagai pendiri DCI Indonesia itu bukan sekadar membangun perusahaan, tetapi ikut meletakkan pondasi ekosistem digital yang menopang transformasi ekonomi Indonesia.

Lahir dari latar belakang teknik, Otto memasuki dunia teknologi ketika internet masih dianggap barang mewah. Pada era 1990-an, komputer belum hadir di setiap rumah, layanan berbasis cloud belum dikenal luas, sementara internet baru mulai merintis jalan di Indonesia. 

Di tengah ketidakpastian itu, ia justru melihat peluang yang belum mampu dibaca banyak orang.

Pengalamannya di Indonet, salah satu penyedia layanan internet pertama di Indonesia, mempertemukannya dengan sebuah keyakinan sederhana: masa depan tidak hanya membutuhkan aplikasi, tetapi juga infrastruktur yang membuat semuanya dapat berjalan.

Keyakinan itu kemudian diwujudkan melalui DCI Indonesia. Ketika ekonomi digital berkembang pesat, kebutuhan akan pusat data melonjak seiring meningkatnya transaksi perbankan, perdagangan elektronik, komputasi awan, hingga perkembangan kecerdasan buatan. 

Data berubah menjadi aset strategis yang menuntut keamanan, keandalan, dan kapasitas penyimpanan berskala besar.
Berbeda dengan perusahaan teknologi yang berhadapan langsung dengan konsumen, DCI membangun "rumah" bagi data. 

Gedung-gedung pusat data mungkin tampak sederhana dari luar, tetapi di dalamnya tersimpan infrastruktur yang menjaga layanan digital tetap hidup selama 24 jam tanpa henti.

Tak heran bila Otto kerap dijuluki "Bill Gates Indonesia". Julukan tersebut bukan karena bidang usahanya identik dengan pendiri Microsoft, melainkan karena kesamaan visi: sama-sama melihat teknologi sebagai penggerak perubahan peradaban. Jika Bill Gates membantu memopulerkan perangkat lunak, Otto berperan menyediakan fondasi agar teknologi itu dapat beroperasi dengan aman dan berkelanjutan.

Perjalanan bisnisnya juga membuktikan bahwa kekayaan besar sering kali merupakan hasil dari kesabaran jangka panjang. Infrastruktur digital bukan bisnis yang memberikan keuntungan instan. Ia membutuhkan investasi besar, kepercayaan, dan waktu bertahun-tahun sebelum manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat.

Kini, ketika Indonesia terus bergerak menuju ekonomi digital, keberadaan pusat data menjadi semakin vital. Layanan keuangan digital, pemerintahan elektronik, kecerdasan buatan, hingga industri berbasis data bergantung pada infrastruktur yang kokoh.

Kisah Otto Toto Sugiri mengajarkan bahwa peluang terbesar sering lahir dari keberanian membangun sesuatu yang belum dianggap penting. Ia membuktikan bahwa seorang visioner tidak selalu menjadi tokoh paling riuh di panggung, melainkan mereka yang menyiapkan fondasi agar masa depan dapat berdiri dengan kokoh.

Pelajaran terbesarnya sederhana: jangan hanya mengikuti tren. Bangunlah nilai, berpikir jauh ke depan, dan berani menanam fondasi. Sebab sejarah sering kali tidak mengingat siapa yang paling lantang berbicara, melainkan siapa yang membangun sesuatu yang tetap bertahan ketika zaman terus berubah.
Makin tahu Indonesia. (*)

IKLAN

×
Kaba Nan Baru Update