Notification

×

Iklan

Iklan

Rupiah Ditutup Melemah ke Rp17.943 per Dolar AS, Dibayangi Lonjakan Harga Minyak

26 Juli 2026 | 09:28 WIB Last Updated 2026-07-26T02:28:40Z


Pasbana - Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada penutupan perdagangan akhir pekan. Mata uang Garuda ditutup melemah 0,16% ke level Rp17.943 per dolar Amerika Serikat (AS), mencerminkan kehati-hatian pelaku pasar di tengah meningkatnya risiko eksternal yang berasal dari lonjakan harga energi global. 

Pelemahan rupiah terjadi ketika investor mencermati dampak harga minyak mentah yang masih bertahan di level tinggi. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran bahwa biaya impor energi Indonesia dapat meningkat sehingga berpotensi memperlebar defisit fiskal maupun neraca perdagangan apabila tren ini berlangsung dalam waktu lama. 

Harga Minyak Jadi Sentimen Utama

Meski pada perdagangan sore hari harga minyak Brent terkoreksi sekitar 1,97% menjadi US$98,72 per barel, level tersebut masih tergolong tinggi dibandingkan rata-rata historis. Situasi ini membuat pelaku pasar tetap mewaspadai risiko inflasi global dan dampaknya terhadap kebijakan moneter di berbagai negara. 

Tingginya harga minyak juga memicu gejolak di pasar obligasi dunia. Investor cenderung mengalihkan portofolionya ke aset yang dinilai lebih aman sambil menunggu arah kebijakan bank sentral dan perkembangan kondisi geopolitik yang memengaruhi pasokan energi global. 

Bagi Indonesia yang masih mengimpor sebagian kebutuhan minyak, kenaikan harga komoditas energi berpotensi meningkatkan tekanan terhadap kebutuhan devisa. Dampaknya dapat tercermin pada pelemahan nilai tukar rupiah apabila permintaan dolar AS untuk kebutuhan impor terus meningkat.

Pelaku Pasar Waspadai Risiko Eksternal

Pergerakan rupiah dalam beberapa waktu terakhir menunjukkan bahwa sentimen global masih menjadi faktor dominan. Selain perkembangan harga minyak, investor juga mencermati dinamika pasar obligasi internasional serta prospek kebijakan suku bunga di negara-negara maju yang dapat memengaruhi arus modal ke pasar negara berkembang. 

Dengan kondisi tersebut, pelaku pasar diperkirakan akan tetap bersikap selektif pada awal pekan mendatang. Selama harga minyak bertahan pada level tinggi dan volatilitas pasar global belum mereda, ruang penguatan rupiah dinilai masih terbatas sehingga pergerakan nilai tukar akan sangat bergantung pada perkembangan sentimen eksternal. (*)

IKLAN

×
Kaba Nan Baru Update