Notification

×

Iklan

Iklan

Sarjana Menganggur, Siapa yang Keliru: Pasar Kerja atau Cara Kita Mendidik?

28 Juli 2026 | 07:01 WIB Last Updated 2026-07-28T00:01:51Z


Pasbana - Indonesia tidak sedang kekurangan anak muda pintar. Yang justru berlimpah adalah lulusan yang menunggu kesempatan datang, sementara kesempatan itu menuntut mereka yang siap menciptakannya.

Angka jutaan pencari kerja, termasuk lulusan perguruan tinggi hingga pascasarjana, seharusnya menjadi alarm.

Ironisnya, sebagian dari mereka akhirnya menerima pekerjaan yang bahkan tidak membutuhkan pendidikan setinggi yang mereka tempuh. Gelar bertambah, tetapi ruang untuk berkarya justru menyempit.
Pemandangan ini bukan hanya terlihat dalam statistik. Cobalah berjalan ke kampung atau desa pada siang hari.

Banyak anak muda berkumpul, bercengkerama, menggulir layar telepon genggam, sementara di sekitar mereka lahan terbengkalai, potensi ekonomi terbuka, dan peluang usaha menunggu disentuh. Bukan karena mereka malas semata, melainkan karena banyak yang belum pernah benar-benar dilatih untuk bertindak.

Selama ini pendidikan terlalu sibuk menjawab pertanyaan apa yang harus diketahui. Padahal dunia kerja semakin sering bertanya, apa yang bisa Anda kerjakan hari ini?

Inilah jurang yang harus dijembatani. Kecerdasan akademik tetap penting. Karakter seperti disiplin, jujur, mampu bekerja sama, dan berkomunikasi juga tak kalah berharga. Namun, semua itu belum cukup tanpa keberanian mengeksekusi gagasan menjadi tindakan.

Dunia kerja masa depan membutuhkan generasi dengan X-Skills—kemampuan mengubah pengetahuan menjadi karya nyata. Mereka bukan hanya pandai merancang rencana, tetapi juga terbiasa menyelesaikan pekerjaan, menghadapi masalah, dan mengambil keputusan.

Sayangnya, kebiasaan itu tidak lahir dalam semalam. Ia dibentuk sejak rumah, ketika anak dibiasakan membantu pekerjaan sehari-hari. Ia dipupuk di sekolah melalui organisasi, kegiatan lapangan, proyek kolaboratif, hingga pembelajaran yang memberi ruang untuk mencoba, gagal, lalu bangkit kembali.

Program pemerintah membuka lapangan kerja tentu penting. Namun, solusi jangka panjang tidak cukup berhenti pada penciptaan pekerjaan. Yang jauh lebih mendesak adalah mencetak generasi yang tidak sekadar mencari pekerjaan, melainkan mampu menciptakan nilai dari setiap peluang yang ada.

Barangkali persoalan terbesar kita bukanlah banyaknya pengangguran. Melainkan terlalu banyak talenta yang belum pernah diajarkan bagaimana menjadi pelaku.(*) 

IKLAN

×
Kaba Nan Baru Update