Pasbana - Gempuran era digital abad ke-21 membawa tantangan kultural yang luar biasa bagi masyarakat modern. Arus informasi tanpa sekat tidak sekadar menawarkan kemudahan, tetapi juga memicu pergeseran moralitas publik yang cenderung superfisial dan instan.
Fenomena ini sering kali memicu disorientasi psikis pada individu modern. Banyak orang mengalami penurunan kontrol diri akibat paparan stimulasi media sosial yang konstan. Kita terjebak dalam gaya hidup konsumtif yang melelahkan batin.
Secara historis, dakwah Islam di Nusantara sangat akrab dengan media seni dan kebudayaan lokal. Para ulama terdahulu menggunakan pertunjukan seni dan sastra sebagai medium dialogis yang damai untuk menyebarkan ajaran tauhid di tengah masyarakat.
Seiring berjalannya waktu, terjadi percampuran antara ritual murni (mahdhah) dengan kreativitas budaya (muamalah). Hal ini memicu suburnya praktik sinkretisme yang mengaburkan kemurnian akidah akibat sisa-sisa kepercayaan animisme masa lalu.
Kehadiran Muhammadiyah pada tahun 1912 di Yogyakarta merupakan jawaban atas realitas tersebut. Mengusung misi pemurnian (purifikasi) dan pembaruan (tajdid), gerakan ini fokus mengikis praktik syirik, bidah, dan khurafat di masyarakat.
Namun, fokus gerakan pemurnian ini sering disalahpahami oleh sebagian kalangan sosiolog. Muhammadiyah kerap dituduh kaku, antipati terhadap seni tradisional, serta dianggap merusak tatanan kearifan lokal yang sudah mapan.
Tuduhan tersebut tentu keliru jika kita melihat sejarah secara jernih. KH. Ahmad Dahlan, sang pendiri persyarikatan, secara terbuka mengapresiasi musik biola sebagai instrumen komunikasi budaya dan dakwah yang sangat efektif pada masanya.
Dalam teologi Muhammadiyah, kebudayaan dipandang sebagai wilayah kemasyarakatan yang mubah untuk dikembangkan. Seni merupakan anugerah fitrah dari Allah yang Maha Indah, selama ia dibimbing oleh nilai ketauhidan agar tidak melanggar moral.
Sastrawan Muhammadiyah, Kuntowijoyo, merumuskan konsep kebudayaan profetik melalui proses objektifikasi. Nilai Islam diterjemahkan ke dalam tiga pilar universal: memanusiakan manusia (humanisasi), membebaskan (liberasi), dan kesadaran ilahi (transendensi).
Melalui kacamata psikologi kognitif, kelelahan batin akibat tekanan zaman modern dikenal dengan istilah ego depletion. Ketika energi kontrol diri terkuras habis, individu menjadi sangat rentan melakukan tindakan impulsif dan menyimpang.
Di sinilah seni dan sastra profetik hadir sebagai media restorasi psikologis yang sehat. Menikmati karya estetis yang sarat pesan spiritual mampu menurunkan hormon stres, mengaktifkan ketenangan batin, dan mengisi kembali energi psikis yang layu.
Dalam perspektif psikologi Islam, proses ini sejalan dengan konsep penyucian jiwa (tazkiyatun nafs). Karya seni yang higienis dapat melunakkan kekerasan hati dan membimbing jiwa menuju tingkat kematangan yang damai (nafs al-mutma'innah).
Muhammadiyah tidak memilih jalan benturan frontal saat menghadapi tradisi lokal yang bias mistis. Organisasi ini menerapkan tiga skema taktis yang ramah: akomodasi sosial, purifikasi teologis, dan revitalisasi seni tradisi.
Jika suatu tradisi lokal didominasi oleh nilai kemaslahatan sosial seperti sedekah bumi atau silaturahmi, Muhammadiyah menerimanya dengan baik. Dimensi keindahan sosial tersebut dirawat sebagai bentuk kearifan lokal yang positif.
Namun, jika ditemukan praktik mistisisme yang menyimpang, Muhammadiyah mengambil peran edukatif. Pendekatan yang digunakan mengedepankan dialog yang logis, persuasif, dan penuh kelembutan tanpa merendahkan martabat pelaku budaya.
Langkah konkret yang paling menonjol adalah melakukan revitalisasi seni tradisional. Muhammadiyah melahirkan alternatif seni baru yang bebas dari syirik, namun tetap menjaga akar kebudayaan luhur warisan nenek moyang kita.
Seni bela diri Tapak Suci adalah contoh nyata revitalisasi ini. Semua unsur mantra gaib dibuang sepenuhnya, lalu digantikan dengan metode pelatihan fisik yang ilmiah, modern, serta berlandaskan pada ketauhidan yang kokoh.
Dalam dunia sastra, novel-novel profetik karya Buya Hamka tampil memikat. Keindahan bahasa roman digunakan secara cerdas untuk mendobrak adat kolot, sekaligus menanamkan nilai-nilai keimanan yang mendalam bagi pembacanya.
Secara neuropsikologis, membaca karya sastra yang mendalam terbukti menstimulasi bagian otak depan (prefrontal cortex). Hal ini meningkatkan fleksibilitas kognitif agar kita tidak reaktif di tengah riuhnya dunia digital.
Pada akhirnya, strategi kebudayaan Muhammadiyah berhasil membuktikan bahwa purifikasi agama tidak harus memberangus seni. Kebudayaan yang bertauhid justru menjadi oase yang memulihkan jiwa manusia dari kepenatan dunia modern. (")




