Pasbana - Di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global, Indonesia memperoleh suntikan kepercayaan dari pasar internasional. Lembaga pemeringkat kredit S&P Global Ratings memutuskan mempertahankan peringkat utang (sovereign credit rating) Indonesia di level BBB untuk jangka panjang dan A-2 untuk jangka pendek dengan outlook stable, sebuah sinyal bahwa fondasi ekonomi nasional masih dinilai cukup tangguh menghadapi tekanan.
Keputusan tersebut menjadi kabar yang melegakan setelah berbagai tantangan menekan kondisi fiskal dan eksternal Indonesia. S&P menilai pelemahan yang dipicu tingginya harga energi, suku bunga global, depresiasi rupiah, ketidakpastian kebijakan, hingga peningkatan utang bersifat sementara.
Risiko tersebut diperkirakan dapat diredam melalui kenaikan harga komoditas, efisiensi belanja negara, serta kebijakan pemerintah yang semakin konsisten dan dapat diprediksi.
Pandangan ini juga menandai perubahan sikap S&P dibandingkan evaluasi pada akhir Mei 2026. Kala itu, rencana sentralisasi ekspor dinilai berpotensi meningkatkan risiko terhadap profil kredit Indonesia.
Kini, lembaga tersebut justru melihat perbaikan prospek seiring harapan bahwa reformasi tata kelola sektor komoditas mampu mengurangi kebocoran penerimaan negara dan memperkuat devisa ekspor. Komitmen pemerintah menjaga defisit APBN tetap di bawah 3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) juga dipandang sebagai jangkar disiplin fiskal yang penting.
Meski demikian, S&P masih mencatat sejumlah pekerjaan rumah. Pendapatan per kapita Indonesia dinilai masih relatif rendah, basis penerimaan negara dan ekspor belum cukup luas, sementara pasar keuangan domestik masih membutuhkan pendalaman agar pembiayaan pemerintah menjadi lebih efisien.
Di sisi lain, prospek pertumbuhan ekonomi yang solid, kebijakan makroekonomi yang pruden, serta rasio utang pemerintah yang relatif rendah tetap menjadi kekuatan utama Indonesia dibandingkan negara-negara sekelasnya.
Respons pasar pun langsung terlihat.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melonjak 1,92 persen pada perdagangan Senin (13/7), mencerminkan optimisme investor atas keputusan S&P. Namun, rupiah masih berada di bawah tekanan dengan ditutup melemah 0,35 persen ke level Rp18.118 per dolar AS setelah sempat menyentuh Rp18.141 di perdagangan intraday.
Ke depan, perhatian investor diperkirakan beralih ke rilis data inflasi Amerika Serikat pada 14 Juli 2026. Angka tersebut akan menjadi petunjuk penting bagi arah kebijakan suku bunga global yang berpotensi memengaruhi arus modal, nilai tukar, dan sentimen terhadap pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Keputusan S&P menunjukkan bahwa kepercayaan investor tidak hanya dibangun oleh pertumbuhan ekonomi, tetapi juga oleh konsistensi kebijakan. Di tengah dinamika global yang masih bergejolak, menjaga kredibilitas fiskal dan kepastian regulasi akan menjadi modal utama agar optimisme pasar dapat bertahan dalam jangka panjang. (*)




