KERINCI, pasbana— Di kaki Gunung Kerinci, sampah tak selalu berakhir sebagai sesuatu yang dibuang. Di Kayu Aro, benda-benda anorganik yang dikumpulkan warga dan pendaki justru bisa ditukar dengan sesuatu yang lebih harum: kopi Kerinci.
Gagasan itu hadir melalui program One KG One Pack, gerakan yang menukar satu kilogram sampah anorganik dengan satu bungkus kopi. Sederhana, tetapi membawa pesan yang lebih besar: menjaga lingkungan sekaligus memberi penghargaan kepada masyarakat.
Program tersebut menjadi bagian dari gerakan Bersama Petani Lindungi Gunung Kerinci yang melibatkan ALKO, Uminomuko Coffee, Resona Bank, komunitas, masyarakat, serta pengelola kawasan konservasi.
Perwakilan Uminomuko Coffee, Mizuhu Sigemuro, mengatakan kolaborasi yang telah berjalan sejak 2024 itu tidak ingin berhenti pada aksi memungut sampah. Pendidikan lingkungan dan pemberdayaan masyarakat menjadi bagian penting dari agenda berikutnya.
Salah satu sasarannya adalah anak-anak sekolah dasar di kawasan Kayu Aro. Kesadaran menjaga alam, menurut Mizuhu, perlu ditanamkan sejak usia dini.
Kolaborasi juga diarahkan ke ranah kreatif. Uminomuko Coffee tengah menjajaki kerja sama dengan seniman Jepang untuk membuat proyek seni bersama masyarakat sekaligus menyampaikan pesan konservasi dengan cara yang lebih dekat dan menarik.
Persoalan sampah di Gunung Kerinci memang bukan perkara baru. Pada Januari 2026, pengelola kawasan bersama relawan, pemandu, porter, dan masyarakat bahkan menjadwalkan aksi pembersihan jalur pendakian.
Upaya tersebut sejalan dengan strategi pengelolaan TNKS yang mendorong pemanfaatan sampah melalui prinsip 4R—reduce, reuse, recycle, dan replace—serta pembersihan jalur trekking secara berkala.
Gunung Kerinci sendiri menjulang hingga 3.805 meter di atas permukaan laut dan merupakan gunung tertinggi di Sumatera. Kawasannya berada dalam bentang Taman Nasional Kerinci Seblat yang kaya keanekaragaman hayati.
Karena itu, secangkir kopi dari program tersebut bukan sekadar minuman. Ia menjadi simbol bahwa sampah, ketika dikelola bersama, dapat berubah menjadi nilai—bagi lingkungan, petani, dan masyarakat.
Di Gunung Kerinci, menjaga alam ternyata bisa dimulai dari hal sederhana: memungut satu kilogram sampah, lalu pulang membawa secangkir cerita. Makin tahu Indonesia. (*)




