Notification

×

Iklan

Iklan

Konglomerasi RI Berburu Bisnis Masa Depan, Sahamnya Jadi Sorotan

Jumat, 14 Agustus 2026 | 15:37 WIB


Pasbana - Di tengah perubahan lanskap ekonomi, konglomerasi Indonesia mulai menggeser sebagian fokus bisnis dari sektor komoditas menuju industri yang dianggap memiliki prospek jangka panjang: data center, infrastruktur digital, telekomunikasi, dan energi terbarukan.

Bagi investor ritel, fenomena ini ibarat melihat perusahaan lama membangun “mesin pertumbuhan baru”. Bukan berarti bisnis lama ditinggalkan, tetapi sumber pertumbuhan mulai diperluas agar perusahaan lebih siap menghadapi perubahan ekonomi dan teknologi.

Tiga sektor yang patut diperhatikan,

1. Infrastruktur digital: DSSA

PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), bagian dari Sinar Mas, menjadi salah satu contoh diversifikasi agresif. Setelah merger MyRepublic Indonesia dengan PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA) efektif pada 22 April 2026, terbentuk MoraRepublic sebagai entitas yang memperkuat bisnis konektivitas digital.

DSSA juga mencatat pendapatan bisnis infrastruktur digital dan teknologi sebesar US$69,1 juta pada kuartal I 2026, tumbuh 50% secara tahunan. Perseroan turut mengembangkan Metro Data Center SMX01 dengan kapasitas IT Load 18 MW yang ditargetkan beroperasi pada kuartal IV 2026. 


2. Energi terbarukan: BREN

Di sektor energi hijau, Barito Renewables Energy (BREN) menjadi salah satu representasi ekspansi Barito Group. Pergerakan saham BREN pada 20-24 Juli 2026 menunjukkan volatilitas sekaligus tingginya minat pasar. Pada 21-22 Juli, saham masing-masing menguat 4,17% dan 6%, sebelum terkoreksi dalam dua sesi berikutnya. 

Artinya, investor perlu membedakan antara prospek bisnis jangka panjang dan momentum harga saham jangka pendek.


3. Data center: Grup Salim


Salim Group juga memperkuat eksposur terhadap ekonomi digital melalui kemitraannya dengan DCI Indonesia. Fasilitas E1 di Jakarta memiliki kapasitas 18 MW IT Load dan 4.000 rak, sementara ekspansi di Karawang memperkuat ekosistem data center.

Apa yang perlu dilakukan investor?
Jangan sekadar mengejar saham konglomerasi karena namanya besar.

Periksa tiga hal:
- Pertumbuhan pendapatan: apakah bisnis baru benar-benar mulai berkontribusi?

- Belanja modal: apakah ekspansi didukung neraca yang sehat?

- Valuasi saham: apakah kenaikan harga sudah terlalu jauh dibanding fundamental?

Fenomena ini menunjukkan satu hal penting: konglomerasi sedang berlomba memiliki bisnis yang menjadi tulang punggung ekonomi digital dan energi masa depan.

Bagi investor pemula, pelajarannya sederhana: jangan hanya membeli cerita. Ikuti pertumbuhan laba, arus kas, utang, valuasi, dan realisasi proyek. Dengan begitu, keputusan investasi dibangun dari data—bukan sekadar euforia nama besar.(*)

IKLAN

×
Kaba Nan Baru Update