Notification

×

Iklan

Iklan

Neraca Dagang Indonesia Diproyeksi Kembali Defisit, Impor Masih Melonjak

| 16:07 WIB Last Updated 2026-08-02T09:07:44Z


Pasbana - Badan Pusat Statistik (BPS) dijadwalkan mengumumkan kinerja perdagangan luar negeri Indonesia pada Senin (3/8/2026). Menjelang rilis resmi tersebut, pelaku pasar menyoroti potensi berlanjutnya tekanan terhadap neraca dagang nasional seiring tingginya pertumbuhan impor yang belum diimbangi pemulihan ekspor. 

Berdasarkan konsensus ekonom yang dihimpun Bloomberg, Indonesia diperkirakan kembali mencatatkan defisit neraca dagang pada Juni 2026. Kondisi tersebut dipengaruhi lonjakan impor yang tetap kuat, sementara ekspor diprediksi masih berada di zona kontraksi meski menunjukkan tanda-tanda perbaikan dibanding bulan sebelumnya. 

Impor Diperkirakan Tumbuh Stabil

Survei Bloomberg memperkirakan nilai impor Indonesia pada Juni 2026 meningkat sekitar 22,3% secara tahunan (year-on-year/yoy). Angka tersebut hampir tidak berubah dibanding realisasi Mei 2026 yang tercatat tumbuh 22,16%.

Kenaikan impor yang tetap tinggi mencerminkan masih besarnya kebutuhan barang dari luar negeri, baik untuk bahan baku industri, barang modal, maupun kebutuhan konsumsi. Di sisi lain, pertumbuhan impor yang lebih cepat dibanding ekspor berpotensi memperlebar tekanan terhadap keseimbangan perdagangan Indonesia. 

Ekspor Mulai Membaik Meski Masih Negatif

Sementara itu, kinerja ekspor diperkirakan belum sepenuhnya pulih. Konsensus Bloomberg memproyeksikan ekspor Indonesia masih mengalami kontraksi sekitar 0,4% yoy pada Juni 2026.

Meski demikian, laju penurunannya diperkirakan jauh lebih ringan dibanding Mei 2026 yang mencatat kontraksi 5,73%. Perbaikan tersebut memberi sinyal bahwa tekanan terhadap sektor ekspor mulai mereda, meskipun belum cukup kuat untuk kembali mencatat pertumbuhan positif.

Pelaku pasar kini menantikan data resmi BPS untuk mengukur arah perdagangan Indonesia pada pertengahan tahun. Hasil rilis tersebut juga dinilai penting sebagai indikator kekuatan permintaan domestik, daya saing ekspor, serta prospek pertumbuhan ekonomi nasional pada semester kedua 2026.

Selain memengaruhi persepsi terhadap kondisi ekonomi, data perdagangan juga berpotensi menjadi salah satu sentimen utama bagi pergerakan nilai tukar rupiah dan pasar keuangan domestik dalam beberapa hari ke depan. (*)

IKLAN

×
Kaba Nan Baru Update