SUMATRA TENGAH, pasbana – Penelitian terbaru berbasis data satelit dan pengamatan GNSS mengungkap adanya akumulasi energi tektonik yang signifikan di sejumlah wilayah Sumatra Tengah. Temuan ini memperlihatkan bahwa kerak bumi di kawasan tersebut terus mengalami deformasi akibat aktivitas tektonik.
Riset yang melibatkan peneliti dari Institut Teknologi Sumatera (ITERA), Institut Teknologi Bandung (ITB), dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) itu diterbitkan dalam jurnal Geodesy and Geodynamics pada 2026. Penelitian menggunakan data dari 35 stasiun GNSS yang dihimpun sejak 2018 hingga pertengahan 2021.
Energi Gempa Menumpuk di Dua Kawasan
Peneliti utama, Irwan Meilano dari ITB, menjelaskan Sumatra Tengah berada di wilayah dengan aktivitas tektonik tinggi. Lempeng Indo-Australia terus bergerak dan menunjam ke bawah Lempeng Sunda. Pada bagian tertentu, pergerakan tersebut terhambat sehingga tegangan dapat terakumulasi dalam waktu lama.
“Alih-alih bergeser dengan mulus, bagian tersebut tersangkut, menyebabkan akumulasi tegangan selama beberapa dekade atau abad hingga akhirnya dilepaskan secara tiba-tiba sebagai gempa bumi,” ujar Irwan.
Hasil pengamatan menunjukkan tekanan kerak paling kuat teridentifikasi di sekitar Pulau Siberut, Kepulauan Mentawai, serta sejumlah bagian Zona Sesar Sumatra di daratan.
Pada segmen Siberut Utara, pemodelan penelitian memperkirakan energi yang tersimpan secara teoritis dapat menghasilkan gempa hingga magnitudo 8,98. Sementara Siberut Selatan memiliki potensi teoritis mencapai magnitudo 8,79.
Namun, angka tersebut bukan ramalan bahwa gempa dengan kekuatan tersebut pasti terjadi dalam waktu dekat. Penelitian tidak dapat menentukan kapan gempa akan terjadi.
Peringatan untuk Kesiapsiagaan
Penelitian juga menemukan aktivitas pada segmen Sianok, bagian dari Zona Sesar Sumatra, yang bergerak sekitar 16,5 milimeter per tahun dan masih terkunci hingga kedalaman sekitar 15 kilometer.Temuan ini menjadi pengingat penting bagi pemerintah dan masyarakat untuk memperkuat mitigasi, mulai dari tata ruang, standar bangunan, jalur evakuasi hingga edukasi kebencanaan. Tujuannya bukan memprediksi hari terjadinya gempa, melainkan memahami wilayah berisiko dan meningkatkan kesiapan sebelum bencana terjadi. (*)




