Notification

×

Iklan

Iklan

500 Batang Lamang, Ketika Tradisi dan Maulid Nabi Menyatu di Lubuak Anau

Kamis, 10 September 2026 | 12:06 WIB
 
Pasaman Barat, pasbana - Asap perlahan mengepul dari batang-batang bambu. Di dalamnya, beras ketan yang dibungkus daun pisang dimasak bersama. Di Lubuak Anau, Kecamatan Kinali, Pasaman Barat, memasak lamang bukan sekadar urusan dapur.

Rabu (9/9), sebanyak 500 batang lamang dimasak masyarakat secara bersama-sama di lingkungan Masjid Raya Lubuak Anau. Tradisi malamang itu menjadi bagian dari rangkaian peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW sekaligus ruang untuk merawat warisan leluhur.

Bagi masyarakat setempat, malamang adalah tradisi yang memiliki lebih dari sekadar cita rasa. Di dalamnya ada pertemuan antara budaya, agama, dan semangat gotong royong.

Kepala Dinas Pariwisata Pasaman Barat Afrizal, mewakili bupati, mengapresiasi niniak mamak dan masyarakat Lubuak Anau yang masih mempertahankan tradisi tersebut.

Menurutnya, malamang memiliki nilai budaya, sosial, sekaligus keagamaan yang kuat. Tradisi yang terus dilakukan secara turun-temurun itu juga dinilai dapat menjadi bagian dari upaya menjaga warisan budaya takbenda.


Ketua TP PKK Pasaman Barat Ny. Sifrowati Yulianto turut menyaksikan proses memasak lamang. Ia secara khusus mengapresiasi keterlibatan kaum perempuan yang menjadi bagian penting dalam tradisi tersebut.

Dari aktivitas memasak itulah terlihat satu hal sederhana: sebuah tradisi akan tetap hidup ketika masyarakat masih mau mengerjakannya bersama.

Sifrowati bahkan membayangkan malamang basamo dapat berkembang menjadi agenda yang lebih besar. Pasaman Barat sendiri memiliki sejumlah warisan budaya takbenda yang telah mendapat pengakuan nasional, di antaranya Maapam dan Tari Salapan.

Ia berharap tradisi malamang dapat menginspirasi kecamatan lain hingga suatu saat digelar dalam skala lebih besar, bahkan mencapai 2.000 batang lamang.

Niniak Mamak Sinaro Nan Panjang Lubuak Anau Kinali, Daliyus K, mengatakan malamang biasanya dilakukan di rumah masing-masing. Namun kali ini masyarakat memilih memasaknya bersama di lingkungan masjid untuk memperingati Maulid Nabi.

Setelah lamang dimasak, rangkaian kegiatan berlanjut dengan penyembelihan sapi. Pada malam hari, masyarakat berkumpul untuk mengikuti peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Di titik itulah tradisi dan nilai keagamaan bertemu. Lamang yang dimasak bersama bukan hanya makanan untuk disantap, tetapi menjadi simbol kebersamaan sebelum masyarakat bersama-sama mengenang dan meneladani akhlak Rasulullah.

Pada akhirnya, menjaga tradisi tidak selalu membutuhkan sesuatu yang megah. Kadang ia cukup dimulai dari bambu, beras ketan, api yang menyala, dan banyak tangan yang bekerja bersama.

Malamang basamo di Lubuak Anau menunjukkan bahwa warisan budaya akan tetap bernapas selama generasi berikutnya bersedia memasak, berkumpul, dan mewariskannya. Makin tahu Indonesia. (*)

IKLAN

×
Kaba Nan Baru Update