Oleh : Chayara Mukhbita Mulyadi
Mahasiswa Sastra Inggris
Universitas Andalas
(2510732038)
“Bagaimana jika dari seluruh kenangan masa kecilmu, yang tersisa justru satu penghinaan?”
Pasbana - Pada saat melakukan kunjungan ke Baltimore, Maryland, Amerika Serikat, seorang anak laki-laki berusia delapan tahun mengalami kejadian tidak mengenakkan setelah tersenyum kepada anak-anak lain di lingkungan tersebut. Dalam puisi “Incident” karya Countee Cullen, kejadian singkat tersebut terjadi karena warna kulit sang anak dan akhirnya menjadi pengalaman yang paling membekas dari kunjungannya ke Baltimore.
Pada awalnya sang anak datang dengan perasaan senang dan menikmati pengalaman barunya di kota tersebut. Namun, sebuah pertemuan sederhana dengan anak lain mengubah suasana perjalanan itu.
Setelah ia tersenyum kepada anak tersebut, ia justru menerima sebuah penghinaan rasial. Peristiwa itu berlangsung sangat singkat dan tidak melibatkan pertengkaran besar atau kekerasan, tetapi dampaknya jauh lebih panjang. Dari seluruh pengalaman yang dialaminya selama berada di Baltimore, penghinaan tersebut justru menjadi bagian yang paling kuat dalam ingatannya.
“Incident” diterbitkan dalam kumpulan puisi Color pada tahun 1925. Cullen merupakan penyair Afrika-Amerika yang berkaitan dengan Harlem Renaissance, periode penting dalam perkembangan seni dan sastra Afrika-Amerika di Amerika Serikat. Dalam puisi ini, Cullen menggunakan sudut pandang seorang anak untuk menggambarkan diskriminasi rasial melalui pengalaman yang sederhana tetapi menyakitkan.
Sang anak tidak digambarkan sedang mencari konflik atau melakukan sesuatu yang dapat memicu pertengkaran. Ia hanya sedang menikmati perjalanan dan mencoba berinteraksi dengan anak lain.
Namun, warna kulitnya membuatnya menjadi sasaran penghinaan. Penggunaan sudut pandang anak membuat pengalaman tersebut terasa sederhana, tetapi sekaligus memperlihatkan bagaimana diskriminasi dapat hadir dalam kehidupan seorang anak tanpa harus melalui peristiwa yang besar.
Bagi sang anak, kejadian itu mungkin sulit dipahami sepenuhnya pada saat terjadi, tetapi perasaan yang muncul dari kejadian tersebut tetap melekat dalam ingatannya.
Pengalaman dalam puisi tersebut dapat dilihat kembali melalui hasil wawancara dengan tiga narasumber yang merupakan mahasiswa/mahasiswi di Perguruan Tinggi di Kota Padang, yaitu Reza, Salma, dan Zila, mengenai pandangan mereka terhadap diskriminasi rasial.
Pengalaman dalam puisi tersebut dapat dilihat kembali melalui hasil wawancara dengan tiga narasumber yang merupakan mahasiswa/mahasiswi di Perguruan Tinggi di Kota Padang, yaitu Reza, Salma, dan Zila, mengenai pandangan mereka terhadap diskriminasi rasial.
Ketika ditanya mengenai pengertian diskriminasi rasial, Reza menjelaskan, “I think racial discrimination is treating someone badly because of their race or skin color.”
Menurut Reza, diskriminasi rasial terjadi ketika seseorang diperlakukan dengan buruk karena ras atau warna kulitnya. Pandangan tersebut memiliki hubungan dengan pengalaman yang dialami tokoh anak dalam “Incident”.
Ia tidak menerima penghinaan karena sesuatu yang dilakukannya, tetapi karena identitas rasialnya. Hal ini menunjukkan bahwa diskriminasi dapat terjadi bahkan dalam interaksi yang sangat singkat. Bagi seorang anak, pengalaman seperti itu dapat menjadi sesuatu yang membingungkan karena ia mungkin belum memahami mengapa warna kulitnya menjadi alasan seseorang memperlakukannya dengan buruk. Namun, meskipun tidak sepenuhnya memahami alasan di balik perkataan tersebut, ia tetap dapat merasakan bahwa dirinya telah diperlakukan secara berbeda.
Dampak diskriminasi pada masa kanak-kanak juga menjadi perhatian ketika ketiga mahasiswa tersebut ditanya apakah pengalaman diskriminasi rasial dapat memengaruhi seseorang ketika dewasa. Reza menjawab, “Children can remember bad experiences for a long time. It can also make them feel less confident.”
Salma juga menjelaskan bahwa anak-anak masih dalam proses belajar memahami diri sendiri dan orang lain sehingga pengalaman diskriminasi dapat memengaruhi cara mereka melihat diri sendiri maupun lingkungan di sekitarnya. Pandangan tersebut dapat dikaitkan dengan pengalaman sang anak dalam “Incident” yang baru berusia delapan tahun ketika menerima penghinaan tersebut.
Ia masih berada pada tahap memahami dunia di sekitarnya, termasuk bagaimana orang lain memperlakukan dirinya. Dalam puisi, sang anak mengatakan bahwa ia berada di Baltimore dari bulan Mei hingga Desember.
Namun, dari berbagai pengalaman yang mungkin ia dapatkan selama berada di kota tersebut, penghinaan rasial itulah yang paling ia ingat. Hal tersebut memperlihatkan bagaimana pengalaman yang berlangsung hanya beberapa saat dapat meninggalkan kesan yang jauh lebih lama dalam ingatan seseorang.
Kuatnya pengaruh perkataan tersebut juga dapat dilihat dari cara sang anak mengingat Baltimore. Ia tidak menceritakan berbagai tempat yang dikunjungi atau pengalaman menyenangkan yang mungkin terjadi selama berada di kota tersebut. Sebaliknya, yang paling melekat justru satu kejadian ketika ia menerima penghinaan rasial. Zila menjelaskan mengapa perkataan atau lelucon mengenai ras dapat menyakiti anak-anak. Ia mengatakan, “Because children may not understand that it is just a joke. They may remember the words and how they felt at that moment.”
Menurut Zila, anak-anak mungkin tidak memahami bahwa suatu perkataan dimaksudkan sebagai candaan. Mereka justru dapat mengingat kata-kata tersebut sekaligus perasaan yang muncul ketika mendengarnya.
Hal ini membuat pengalaman dalam “Incident” terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari. Sebuah perkataan yang dianggap sebagai lelucon oleh orang yang mengucapkannya tidak selalu diterima dengan cara yang sama oleh orang yang menjadi sasaran.
Terlebih lagi, ketika perkataan tersebut diterima oleh seorang anak yang masih membentuk pemahaman tentang dirinya sendiri dan orang lain.
Pengalaman dalam “Incident” juga memperlihatkan bahwa diskriminasi rasial tidak selalu muncul dalam bentuk konflik besar. Terkadang, diskriminasi dapat muncul melalui ejekan, perkataan, atau lelucon yang dianggap sederhana. Bagi orang yang mengucapkannya, hal tersebut mungkin hanya berlangsung beberapa detik dan kemudian dilupakan.
Namun, bagi orang yang menjadi sasaran, perkataan tersebut dapat menjadi pengalaman yang terus diingat. Dalam kasus sang anak, sebuah pertemuan singkat akhirnya menjadi bagian utama dari ingatannya tentang Baltimore.
Karena itu, cara orang berbicara kepada anak-anak menjadi hal yang penting. Anak-anak mungkin belum memiliki kemampuan untuk memahami seluruh konteks dari sebuah perkataan, tetapi mereka dapat mengingat bagaimana perkataan tersebut membuat mereka merasa.
Pengalaman seperti ini juga menunjukkan bahwa diskriminasi bukan hanya persoalan antara orang yang melakukan dan orang yang menjadi sasaran, tetapi juga berkaitan dengan lingkungan tempat anak tumbuh dan belajar memahami perbedaan.
Keluarga dan sekolah memiliki peran dalam membantu mengurangi diskriminasi rasial sejak masa kanak-kanak. Reza berpendapat bahwa orang tua perlu mengajarkan anak untuk menghormati semua orang, sementara sekolah dapat memberikan pemahaman mengenai berbagai budaya. Salma juga menekankan pentingnya orang tua dan guru berbicara kepada anak-anak mengenai perbedaan serta mengajarkan mereka untuk tidak menghakimi orang lain.
Sementara itu, Zila menyarankan agar sekolah membuat kegiatan yang mempertemukan anak-anak dari berbagai latar belakang sehingga mereka dapat saling mengenal dan belajar satu sama lain. Dengan mengenal perbedaan secara langsung, anak-anak dapat belajar bahwa ras, warna kulit, dan latar belakang seseorang bukan alasan untuk memperlakukannya dengan buruk.
Pendidikan mengenai perbedaan juga dapat membantu anak memahami bahwa setiap orang memiliki pengalaman dan latar belakang yang berbeda sehingga perbedaan tersebut perlu dihargai, bukan dijadikan alasan untuk mengejek atau merendahkan orang lain.
Pada akhirnya, “Incident” bukan hanya cerita tentang seorang anak yang mengunjungi Baltimore. Puisi ini memperlihatkan bagaimana satu kejadian yang berlangsung hanya beberapa saat dapat menjadi kenangan yang bertahan jauh lebih lama. Melalui pengalaman seorang anak berusia delapan tahun, Countee Cullen menggambarkan bagaimana penghinaan rasial dapat meninggalkan kesan mendalam pada masa kanak-kanak.
Kisah tersebut juga mengingatkan bahwa perkataan yang dianggap sepele oleh seseorang belum tentu terasa sepele bagi orang lain. Apa yang hanya membutuhkan beberapa detik untuk diucapkan dapat menjadi sesuatu yang terus diingat oleh orang yang mendengarnya. Baltimore mungkin hanya menjadi tempat yang dikunjungi sang anak, tetapi pengalaman yang ia alami di sana menjadi kenangan yang ia bawa pulang.(*)




