Notification

×

Iklan

Iklan

Kuflet Gelar Diskusi Wacana Seni, Bahas Pemikiran Kant hingga Deleuze

Sabtu, 19 September 2026 | 23:07 WIB
 


PADANG PANJANG, pasbana — Komunitas Seni Kuflet kembali menggelar diskusi rutin pada Sabtu petang (19/9/2026). Kali ini, diskusi mengangkat tema “Wacana Seni: dari Kant sampai Deleuze” dengan menghadirkan dosen Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang, Dr. Sn. Ediantes, S.Sn., M.Sn., sebagai narasumber.

Diskusi tersebut turut dihadiri Pendiri Komunitas Seni Kuflet, Dr. Sulaiman Juned, M.Sn., dan dimoderatori Noveliza. Kegiatan diikuti sejumlah anggota Kuflet sebagai bagian dari agenda rutin komunitas dalam membangun ruang diskusi dan pertukaran gagasan tentang seni.

Ketua Harian Kuflet, Nofa Dwi Saputra, mengatakan diskusi tersebut menjadi salah satu agenda rutin komunitas untuk memperluas wawasan anggota mengenai perkembangan pemikiran dan praktik seni.

Dalam pemaparannya, Ediantes mengungkapkan keresahannya terhadap perkembangan seni saat ini. Menurutnya, karya seni yang semestinya hadir sebagai art justru kerap diposisikan sebagai craft atau kerajinan yang dibuat berdasarkan pesanan dan kepentingan tertentu.

“Seni memiliki esensi tersendiri yang membedakannya dari sekadar kerajinan atau produk pesanan,” paparnya.

Ediantes kemudian mengaitkan pembahasan tersebut dengan pemikiran Immanuel Kant, filsuf Jerman yang dikenal memiliki pemikiran penting dalam perkembangan estetika filsafat.

Menurut Ediantes, seni dan kritik seni lahir dari pandangan manusia yang berkaitan dengan kehendak bebas. Ia menjelaskan, Kant memandang keindahan sebagai kesenangan tanpa kepentingan. Karena itu, seni tidak semata-mata lahir dari struktur teknis, tetapi juga berangkat dari rasa dan pengalaman manusia.




“Keindahan adalah hasil pemikiran manusia dalam mewujudkan gagasan. Dari inti sari sebuah fenomena, kemudian diangkat menjadi seni sehingga melahirkan keterikatan tersendiri sebagai sebuah karya seni,” tuturnya.

Ia juga membedakan craft dan art. Craft, menurutnya, cenderung berkaitan dengan karya yang dibuat karena pesanan atau kepentingan tertentu. Sementara art tidak semata-mata dibentuk secara sengaja untuk memenuhi kepentingan tersebut.

Menjawab pertanyaan Fadhil mengenai representasi dan reinterpretasi dalam mewujudkan ide menjadi karya seni serta batas nilai keindahan yang tersublim dalam penelitian budaya, Ediantes menjelaskan bahwa keindahan memiliki wujud sekaligus rasa yang muncul dari pola-pola yang ditangkap manusia dan kemudian menjadi fenomena.

Menurutnya, keindahan dapat hadir melalui kesengajaan yang menghasilkan efek representasi. Sementara kesenangan merupakan salah satu efek dari kesengajaan tersebut.

Selanjutnya, Ediantes memaparkan pandangan seni menurut filsuf Prancis Gilles Deleuze. Ia menjelaskan bahwa pembicaraan mengenai seni pada era kontemporer tidak lagi terbatas pada pemahaman klasik, tetapi dapat dikaitkan dengan gagasan seperti “tubuh tanpa organ”.

Menurut Ediantes, seni tidak sekadar dipresentasikan melalui bentuk, tetapi dapat berbicara dan menghadirkan maknanya sendiri. Ia juga mengaitkan pembahasan tersebut dengan konsep humanisme dan pascahumanisme.

“Konsep humanis hadir untuk membantu kemanusiaan dan lingkungan hidup karena segala sesuatu yang dibuat manusia bergantung pada kebutuhan manusia itu sendiri. Sementara pascahumanisme mengajak manusia melampaui batas dirinya sendiri sehingga dapat menjadi solusi terhadap pemahaman manusia yang lebih luas,” ucapnya.




Ketika menjawab pertanyaan Naufal mengenai alur sebagai alih bentuk dari naskah, Ediantes menekankan pentingnya proses berpikir sebelum menentukan bentuk karya.

Menurutnya, proses berkarya seharusnya berangkat dari pemikiran dan ketertarikan terhadap sesuatu, kemudian disesuaikan dengan konsep serta teori akademis, bukan sebaliknya.

“Dalam berkarya seni, seniman tidak terlebih dahulu memikirkan bentuk, melainkan ide dan ketertarikan terhadap sesuatu. Kesenangan dan ketertarikan itulah yang kemudian menghadirkan sesuatu tanpa bentuk yang kaku,” ujarnya.

Ediantes menjelaskan, goresan dalam proses berkarya lahir dari rasa yang kemudian berkembang menjadi pemikiran dan dimanifestasikan dalam bentuk karya seni. Dengan demikian, karya merupakan perpaduan antara pikiran dan hati.

Ia juga menjelaskan perbedaan antara artistik dan estetik. Artistik berkaitan dengan bagaimana sebuah karya dibuat, sedangkan estetik berkaitan dengan apa yang dibuat dan bagaimana nilai keindahan hadir dalam karya tersebut.

Sementara itu, Pendiri Komunitas Seni Kuflet, Dr. Sulaiman Juned, M.Sn., mengatakan diskusi tentang seni merupakan agenda rutin yang dilaksanakan setiap Sabtu petang.

“Biasanya setiap Sabtu, seluruh anggota saling bergantian menjadi narasumber. Semua anggota Kuflet harus mampu memaparkan pikirannya,” kata Sulaiman.

Ia menjelaskan, selain diskusi internal yang menghadirkan anggota sebagai narasumber secara bergantian, Kuflet juga mengundang pakar dari luar komunitas setiap tiga bulan sekali untuk memberikan perspektif dan pengetahuan baru.

“Setiap tiga bulan sekali kami mengundang para pakar untuk menjadi narasumber. Kali ini kami berkesempatan menghadirkan Dr. Sn. Ediantes, S.Sn., M.Sn., yang berbagi ilmu dengan kami. Beginilah rutinitas di Kuflet,” ujar sastrawan, teaterawan, sekaligus dosen Seni Teater ISI Padangpanjang tersebut.
(Yasmin)

IKLAN

×
Kaba Nan Baru Update