Pasbana - Ada masa ketika hidup terasa berjalan tanpa warna. Pekerjaan tetap menunggu, pesan terus berdatangan, target belum selesai, tetapi entah mengapa energi untuk mengerjakannya seperti menguap begitu saja.
Di tengah budaya yang sering memuja kesibukan, kondisi seperti ini mudah dianggap sebagai kemunduran. Kita dituntut selalu passionate, produktif, cepat, dan seolah harus punya alasan untuk terus bergerak.
Padahal, manusia bukan mesin.
Kehilangan spark atau percikan semangat sesekali bukan berarti seseorang kehilangan harapan. Bisa jadi tubuh dan pikiran sedang meminta jeda setelah terlalu lama digunakan tanpa cukup ruang untuk pulih.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat bahwa lingkungan kerja dengan beban berlebihan, rendahnya kendali terhadap pekerjaan, ketidakamanan kerja, serta minimnya dukungan dapat menjadi faktor risiko bagi kesehatan mental. WHO juga menegaskan bahwa burnout merupakan fenomena akibat stres kerja kronis yang tidak berhasil dikelola, bukan sekadar rasa malas atau kehilangan motivasi sesaat.
Karena itu, berhenti sebentar tidak selalu berarti menyerah.
American Psychological Association (APA) juga mencatat bahwa memberi ruang untuk beristirahat dan melepaskan diri sejenak dari pekerjaan dapat membantu pemulihan serta mendukung kinerja setelahnya. Produktivitas, dengan demikian, tidak semata-mata tentang berapa lama seseorang bekerja.
Mungkin hari ini kita memang belum kembali menjadi versi diri yang penuh tenaga. Tidak apa-apa.
Yang penting, jangan merasa harus membuktikan nilai diri kepada semua orang setiap saat. Selesaikan satu hal kecil. Berjalan sedikit. Istirahat ketika perlu.
Sebab, semangat tidak selalu hilang. Kadang ia hanya sedang redup.
Dan seperti api kecil yang dijaga agar tidak padam, spark itu bisa menyala kembali—pelan-pelan, ketika kita memberi diri sendiri kesempatan untuk bernapas.(*)




