Notification

×

Iklan

Iklan

Suahasil Nazara Masuk, Arah Fiskal Indonesia Mulai Berubah?

Sabtu, 19 September 2026 | 12:34 WIB


Pasbana - Pergantian Menteri Keuangan bukan sekadar pergantian nama di kursi fiskal. Bagi investor saham, obligasi, dan pasar valuta asing, sosok yang mengendalikan APBN dapat menentukan bagaimana pemerintah menjaga keseimbangan antara mengejar pertumbuhan dan mempertahankan kepercayaan pasar.

Pada 14 September 2026, Presiden Prabowo Subianto menunjuk Suahasil Nazara sebagai Menteri Keuangan menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa. Dalam pernyataan awalnya, Suahasil menekankan pentingnya APBN yang sehat dan kredibel, sekaligus menyatakan komitmen menjaga defisit 2026 pada target 2,85% terhadap PDB, di bawah batas legal 3%. 

Bagi pasar, latar belakang Suahasil menarik diperhatikan. Ia bukan figur baru di Kementerian Keuangan. Ekonom Universitas Indonesia itu meraih gelar doktor ekonomi dari University of Illinois dan menjadi profesor sejak 2009. Ia kemudian memimpin Badan Kebijakan Fiskal (BKF) dan menjabat Wakil Menteri Keuangan sejak 2019. Rekam jejak tersebut membuat pendekatannya sangat dekat dengan tradisi teknokrasi dan perumusan kebijakan fiskal. 

Karakter kebijakannya berpotensi berbeda dengan Purbaya. Selama menjabat, Purbaya mendorong pendekatan yang lebih ekspansif untuk menopang pertumbuhan dan likuiditas. Salah satu kebijakan pentingnya adalah penempatan dana pemerintah Rp200 triliun pada bank-bank BUMN untuk memperkuat likuiditas. Kebijakan tersebut bahkan tetap dilanjutkan setelah pergantian menteri. 

Sementara itu, sinyal awal Suahasil lebih menonjolkan kredibilitas fiskal, kualitas belanja, disiplin defisit, serta kesinambungan kebijakan. Namun, disiplin fiskal tidak otomatis berarti anti-pertumbuhan. Tantangannya justru bagaimana APBN tetap kredibel tanpa mengerem aktivitas ekonomi terlalu dalam.

Di sinilah kepentingan investor bertemu dengan kebijakan pemerintah. Jika kredibilitas fiskal menguat, tekanan terhadap yield SBN dan rupiah berpotensi lebih terkendali sehingga persepsi risiko Indonesia dapat membaik. Sebaliknya, konsolidasi fiskal yang terlalu agresif dapat mengurangi dorongan permintaan domestik dan berimbas pada prospek laba sejumlah emiten.

Karena itu, investor tidak perlu terburu-buru menyimpulkan pergantian Menkeu sebagai sinyal bullish atau bearish bagi IHSG.

Tiga indikator justru layak menjadi radar utama: defisit APBN, yield SBN, dan USD/IDR.

Dari ketiganya akan terlihat apakah pergantian Suahasil benar-benar menjadi titik balik kredibilitas fiskal Indonesia—atau sekadar pergantian figur di tengah tantangan ekonomi yang tetap sama.(*)

IKLAN

×
Kaba Nan Baru Update