Notification

×

Iklan

Iklan

Tugu Jong Sumatranen Bond, Tugu Kecil yang Menyimpan Jejak Besar Pemuda Sumatra

Rabu, 02 September 2026 | 14:52 WIB
 


Padang, pasbana - Di tengah Padang yang terus meninggi, sebuah tugu tua berdiri nyaris tanpa suara. Letaknya di Jalan Gereja, kawasan Belakang Tangsi. Bangunannya tidak besar. 

Namun, hampir satu abad lalu, di tempat inilah gagasan tentang persatuan pemuda Sumatra pernah mendapatkan panggungnya.

Tugu itu adalah Tugu Jong Sumatranen Bond (JSB), monumen yang berkaitan erat dengan Kongres Pertama Jong Sumatranen Bond di Padang pada 4–6 Juli 1919. Kongres tersebut bukan sekadar pertemuan organisasi pemuda. 

Ia memperlihatkan bagaimana anak-anak muda dari berbagai daerah di Sumatra mulai mencari identitas bersama di tengah kehidupan kolonial. 

Jong Sumatranen Bond sendiri lahir di Batavia pada 9 Desember 1917. Organisasi ini menjadi ruang pertemuan pemuda dan pelajar asal Sumatra yang berada di perantauan. Dalam perkembangannya, cabang-cabang muncul di sejumlah kota, termasuk Padang dan Bukittinggi. 

Padang dipilih sebagai lokasi kongres pertama karena sebagian besar anggota JSB berasal dari Sumatra Barat. Pada hari pertama, sekitar 3.000 orang hadir. Residen Sumatera Barat J.D.L. LeFebvre juga datang dan dikenal bersimpati kepada gerakan kaum muda. 

Kongres membicarakan hal-hal yang jauh melampaui urusan organisasi: cita-cita Sumatra, asas perkumpulan, tugas pemuda, pendidikan perempuan, hingga bahasa Melayu. Bahder Djohan menjadi salah satu tokoh penting dalam penyelenggaraannya. Kelak ia dikenal sebagai dokter dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. 




Pada penghujung kongres, sebuah tanda peringatan ditanamkan di tanah Padang. Peletakan batu pertama dilakukan pada 6 Juli 1919 oleh Mevrouw M.J.J. Ahrends Overgauw, istri Asisten Residen yang merangkap sebagai Wali Kota Padang. Tugu itu kemudian menjadi salah satu monumen awal yang berkaitan dengan pergerakan pemuda di Indonesia. 

Dari lingkungan JSB pula muncul nama-nama yang kemudian memainkan peran penting dalam perjalanan Indonesia: Mohammad Hatta, Mohammad Yamin, Bahder Djohan, Adnan Kapau Gani, hingga Sutan Takdir Alisjahbana. Mereka datang dari latar berbeda, tetapi pengalaman berorganisasi mempertemukan mereka dalam satu ruang pemikiran: pendidikan, kebudayaan, persatuan, dan masa depan tanah air.

Beberapa tahun kemudian, semangat organisasi-organisasi pemuda semakin mengarah pada gagasan persatuan Indonesia. JSB akhirnya melebur bersama gerakan pemuda lain ke dalam Indonesia Muda pada 1930. 

Kini, tugu itu berdiri di antara bangunan dan lalu lintas kota yang berubah. Ukurannya kecil dibandingkan gedung-gedung modern di sekitarnya. Tetapi sejarah memang tidak selalu datang dalam bentuk yang megah.

Kadang, ia hanya berupa sebuah tugu tua yang menunggu seseorang berhenti sejenak dan bertanya: berapa banyak gagasan besar bangsa ini yang sebenarnya pernah tumbuh di tempat-tempat sederhana seperti ini? Makin tahu Indonesia. (*)

IKLAN

×
Kaba Nan Baru Update