Pasbana - Menjadi ayah bukan hanya tentang pulang membawa uang, memastikan dapur tetap mengepul, atau memenuhi kebutuhan pendidikan anak.
Ada tanggung jawab yang lebih dalam: menjaga iman keluarga, menanamkan akhlak, dan mendampingi anak tumbuh menjadi manusia yang mengenal Tuhannya.
Pesan itu ditegaskan dalam Al-Qur’an surah At-Tahrim ayat 6, yang memerintahkan orang beriman untuk menjaga diri dan keluarganya dari api neraka. Ayat ini mengingatkan bahwa tanggung jawab orang tua tidak berhenti pada kesejahteraan duniawi, tetapi juga mencakup pendidikan spiritual keluarga.
Tanggung jawab tersebut bukan berarti ayah harus selalu kuat tanpa pernah merasa lelah. Ayah juga manusia yang bisa menghadapi kecemasan, tekanan ekonomi, dan ketidakpastian hidup.
Dalam situasi demikian, surah Ar-Ra’d ayat 28 mengingatkan bahwa dengan mengingat Allah, hati menjadi tenteram. Sementara itu, surah Al-Baqarah ayat 286 menegaskan bahwa Allah tidak membebani seseorang melampaui kesanggupannya.
Kekuatan seorang ayah bukan terletak pada kemampuannya menyembunyikan semua masalah, melainkan pada kesungguhannya menghadapi masalah tanpa kehilangan arah dan tanggung jawab.
Dalam mendidik anak, Al-Qur’an menghadirkan teladan melalui kisah Luqman. Nasihatnya kepada sang anak dalam surah Luqman ayat 13 dimulai dengan panggilan penuh kasih sayang, “Yā bunayya”—wahai anakku tersayang—sebelum mengingatkan tentang larangan mempersekutukan Allah.
Teladan lain terlihat dalam kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Ketika menghadapi ujian besar, Ibrahim mengajak putranya berdialog. Kisah dalam surah Ash-Shaffat ayat 102 memperlihatkan pentingnya komunikasi dalam pendidikan keluarga, bukan sekadar perintah satu arah.
Karena itu, keberhasilan ayah tidak cukup diukur dari banyaknya harta atau tingginya pendidikan anak. Anak yang menghafal Al-Qur’an pun tetap membutuhkan pendampingan agar hafalannya terjaga, ilmunya diamalkan, dan akhlaknya berkembang.
Rasulullah SAW juga mengajarkan bahwa setiap orang adalah pemimpin yang akan dimintai pertanggungjawaban atas mereka yang berada dalam tanggungannya. Prinsip ini diriwayatkan dalam Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim.
Pada akhirnya, warisan terbaik seorang ayah bukan hanya rumah, tabungan, atau jabatan yang ditinggalkan. Warisan itu juga berupa iman yang kokoh, akhlak yang baik, doa yang terus dipanjatkan, dan keteladanan yang hidup dalam diri anak-anaknya.
Maka, sesibuk apa pun seorang ayah mencari nafkah, jangan sampai ia lupa menyediakan waktu untuk mendengar cerita anak, membimbing ibadah, meminta maaf ketika salah, dan mendoakan keluarganya. Sebab, anak tidak hanya membutuhkan ayah yang hadir untuk memenuhi kebutuhannya, tetapi juga ayah yang hadir untuk menuntun perjalanan hidupnya.(*)




