Notification

×

Iklan

Iklan

Di Balik "Ketangguhan" Perempuan Dalam The Drover's Wife

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 17:58 WIB



Ditulis oleh: Keisya Davina Rizal


Pasbana - Dalam cerita pendek The Drover's Wife karya Murray Bail, Hazel, seorang perempuan yang tinggal di daerah pedalaman Australia, memutuskan untuk 
meninggalkan suaminya, Gordon, setelah bertahun-tahun hidup dalam kesepian dan 
kurang mendapatkan perhatian secara emosional. 

Keputusan tersebut diambil karena Hazel merasa kehidupan rumah tangganya membuat dirinya tertekan dan tidak bahagia. Alih-alih terus bertahan, Hazel memilih pergi bersama seorang penggembala sapi untuk mendapatkan kembali kebebasan dan kendali atas hidupnya.

Perempuan sering dianggap kuat ketika mampu bertahan dalam keadaan sulit, 
tetap sabar, dan rela berkorban untuk keluarga. Namun, pandangan seperti ini terkadang justru menjadi beban. Perempuan bisa merasa harus terus mengalah dan bertahan meskipun dirinya sedang terluka atau tidak bahagia. 

Hal tersebut terlihat dalam kehidupan Hazel. Rumah yang seharusnya menjadi tempat untuk merasa aman justru membuatnya semakin kesepian karena Gordon tidak benar-benar memahami perasaan istrinya.

Perasaan Hazel tidak banyak disampaikan melalui perkataan. Rasa frustrasinya 
justru terlihat dari tindakan sederhana, seperti ketika ia membelah kayu bakar hingga tangannya menjadi kapalan. Tindakan tersebut menunjukkan bahwa Hazel menyimpan banyak tekanan yang tidak pernah benar-benar ia ungkapkan.

Dalam cerita ini, masalah Hazel bukan hanya berasal dari kehidupan di pedalaman, tetapi juga dari rumah tangganya sendiri. Rumah memang dapat melindunginya secara fisik, tetapi tidak memberikan rasa nyaman karena Gordon kurang memahami kebutuhan emosional istrinya.

Pada akhirnya, Hazel memilih pergi bersama seorang penggembala sapi. 
Keputusan tersebut bukan hanya tentang meninggalkan Gordon, tetapi juga tentang 
keinginannya untuk menentukan jalan hidupnya sendiri. Reaksi Gordon setelah Hazel pergi semakin menunjukkan bahwa ia tidak memahami keadaan istrinya.

Alih-alih mencoba memahami alasan Hazel pergi, Gordon justru memperhatikan hal kecil seperti ukuran koper yang dibawa Hazel. Ia tidak menyadari betapa kesepian dan tertekannya Hazel selama ini.

Ayra Naila Mashel, seorang mahasiswa Sastra Inggris, menilai keputusan Hazel 
untuk pergi tidak bisa langsung dianggap sebagai tindakan egois. Menurutnya, Hazel 
sudah terlalu lama merasa tidak nyaman dalam rumah tangganya. “Kalau aku lihat dari Hazel, dia itu sebenarnya udah lama ngerasa sendiri. Jadi pas akhirnya dia pergi, aku nggak merasa dia jahat atau egois. Mungkin memang itu yang dia rasa paling baik buat dirinya saat itu. Soalnya kalau dia terus bertahan juga, belum tentu keadaannya bakal jadi lebih baik,” kata Ayra.

Kisah Hazel menunjukkan bahwa menjadi perempuan tangguh tidak selalu berarti harus mampu menahan penderitaan. Terkadang, keberanian justru terlihat ketika 
seseorang berani meninggalkan sesuatu yang membuat dirinya tidak bahagia.

Melalui Hazel, Murray Bail menunjukkan bahwa perempuan tidak harus selalu sabar dan mengorbankan dirinya demi keluarga. Keputusan Hazel untuk pergi menjadi cara untuk mendapatkan kembali kebebasan dan menentukan kehidupannya sendiri.(*)

IKLAN

×
Kaba Nan Baru Update