![]() |
Sharing Session dan Pemutran Karya Film Unggulan FKI XII ISI Padangpanjang, (Dok. Istimewa, 2026) |
Pemutaran Karya Film Unggulan FKI XIII di ISI Padangpanjang
Padangpanjang, pasbana — Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang menjadi ruang apresiasi dan dialog kreatif melalui kegiatan Pemutaran Karya Film Unggulan pada kegiatan Festival Kesenian Indonesia (FKI) XIII yang diikuti delegasi perguruan tinggi seni anggota Badan Kerja Sama Perguruan Tinggi Seni Indonesia (BKS-PTSI) dari berbagai wilayah di Indonesia.
Selama tiga hari pelaksanaan, sekitar 30 judul film ditayangkan sebagai representasi kreativitas dan keberagaman karya mahasiswa, alumni dan dosen.
Pemutaran film ini menjadi salah satu rangkaian kegiatan FKI XIII yang mengusung tema Art, Folklore and Ecology.
Karya-karya yang ditampilkan memperlihatkan beragam pendekatan dalam menerjemahkan persoalan seni, tradisi, budaya, dan lingkungan ke dalam bahasa sinema. Setelah melalui proses kurasi di masing-masing perguruan tinggi, film dokumenter cukup mendominasi karya yang didelegasikan. Meski demikian, film fiksi dan animasi tetap menunjukkan keberagaman eksplorasi ide, bentuk, dan pendekatan visual para pembuatnya.
![]() |
Sharing Session dan Pemutran Karya Film Unggulan FKI XII ISI Padangpanjang, (Dok. Istimewa, 2026) |
Tidak sekadar menjadi ruang pemutaran, kegiatan ini juga menghadirkan sharing session bersama para pembuat film. Sesi tersebut membahas proses kreatif dalam mengembangkan ide, mulai dari gagasan awal, teks hingga menjadi bahasa visual yang dapat disampaikan melalui medium film. Diskusi ini melibatkan mahasiswa Program Studi Film dan Televisi dari ISI Padangpanjang dan ISI Yogyakarta, sehingga membuka ruang pertukaran pengalaman, perspektif, serta produksi pengetahuan mengenai proses penciptaan karya sinema.
Penanggung Jawab (PIC) Pemutaran Karya Film Unggulan, Hery Sasongko, berharap kegiatan ini dapat menjadi wadah pengembangan kreativitas sekaligus memperkuat dan mendukung perkembangan ekosistem perfilman di lingkungan perguruan tinggi seni.
Menurutnya, pemutaran film unggulan perlu terus dikembangkan agar tidak hanya menjadi kegiatan pendukung festival, tetapi juga dapat ditetapkan sebagai salah satu agenda utama dalam penyelenggaraan FKI pada tahun-tahun mendatang. Dengan demikian, karya film mahasiswa alumni dan dosen memiliki ruang apresiasi yang berkelanjutan, sekaligus membuka peluang kolaborasi dan memperkuat jejaring antar kampus.
Pelaksanaan FKI XIII di ISI Padangpanjang berlangsung ditengah kondisi kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Kegiatan pemutaran film ini juga menjadi salah satu bentuk dukungan kampanye kepedulian lingkungan yang sedang melanda khusunya diwilayah Sumatera, terutama ketika tema ekologi menjadi salah satu gagasan utama yang diangkat. Film tidak hanya hadir sebagai karya artistik, tetapi juga sebagai medium untuk mengamati, merefleksikan, dan menyampaikan beragam persoalan yang berkaitan dengan kehidupan serta lingkungan.
Melalui pemutaran sekitar 30 film selama tiga hari, FKI XIII di ISI Padangpanjang menegaskan pentingnya ruang pertemuan bagi para sineas muda untuk berbagi gagasan, mengapresiasi keberagaman karya, dan membangun dialog kreatif lintas perguruan tinggi.
Kegiatan ini diharapkan menjadi pijakan bagi penyelenggaraan pemutaran film unggulan yang lebih terstruktur dan berkelanjutan pada pelaksanaan FKI berikutnya. Pemutaran Karya Film Unggulan FKI XIII bukan sekadar menghadirkan film kepada penonton, melainkan juga merawat ruang tumbuh bagi kreativitas, kolaborasi, dan masa depan sinema Indonesia. (dabpeyi)





