Oleh: Dr. Sulaiman Juned, S.Sn., M.Sn.
Pasbana - Ingin menjadi pembaca puisi yang andal? Siapa pun bisa melakukannya. Namun, membaca puisi bukan sekadar memilih puisi, kemudian berlatih membacakannya. Ada proses panjang yang harus dijalani dengan tekun melalui latihan dasar secara berkesinambungan.
Latihan dasar tersebut meliputi olah pernapasan, olah vokal, olah sukma, olah rasa, olah tubuh, serta meditasi. Semua itu merupakan bekal utama bagi seseorang yang ingin menjadi pembaca puisi. Latihan harus dilakukan secara konsisten karena tubuh perlu diperlakukan seperti tanah liat yang dapat dilenturkan, dibentuk, bahkan dipadatkan sesuai kebutuhan ekspresi.
Sementara itu, vokal menjadi kendaraan imajinasi untuk menyampaikan pesan puisi hingga ke telinga dan perasaan penonton. Oleh karena itu, perangkat ekspresi tubuh dan vokal harus dibentuk serta dilatih agar mampu menghadirkan karakter suara yang tepat.
Seorang pembaca puisi yang baik harus mampu membebaskan tubuhnya agar peka terhadap rangsangan pikiran dan perasaan. Kepekaan tersebut kemudian diolah melalui proses pernapasan, pengendalian emosi, dan pembentukan karakter vokal. Dengan demikian, setiap diksi dan larik yang diucapkan tidak sekadar terdengar, tetapi juga mampu menghadirkan makna dan suasana puisi secara utuh.
Selain penguasaan teknik dasar, pembaca puisi harus memiliki pemahaman dan interpretasi yang tepat terhadap puisi yang dibawakannya. Ia perlu menguasai makna, mengenali kata-kata kunci, serta menandai bagian-bagian penting yang membutuhkan penekanan emosional sesuai dengan jiwa puisi.
Teknik vokal dan pengucapan juga tidak boleh diabaikan. Kejelasan pelafalan huruf, suku kata, dan kata harus diperhatikan agar pesan puisi dapat diterima dengan baik oleh penonton. Begitu pula dengan intonasi, yakni pengaturan tinggi-rendah suara, tekanan, dinamika, dan tempo. Semua unsur tersebut berperan membangun suasana sekaligus memperkuat makna puisi.
Hal lain yang tidak kalah penting ialah pengaturan jeda (pause). Berhenti sejenak pada bagian tertentu dapat memberikan ruang bagi penonton untuk meresapi makna sebuah diksi atau larik. Demikian pula pengaturan jarak antarkata atau larik dalam pengucapan, baik rapat maupun renggang, dapat menciptakan irama yang lebih hidup. Pengolahan ruang dan jeda ini juga membuka kemungkinan tafsir yang beragam bagi pendengar atau penonton.
Dalam praktiknya, masih sering dijumpai pembaca puisi yang tidak lagi melihat teks karena telah menghafalkan puisi yang dibawakannya. Padahal, membaca puisi dan mendeklamasikan puisi merupakan dua pendekatan yang berbeda. Ketika teks puisi dihafalkan lalu divisualisasikan sepenuhnya melalui gerak tubuh, pembacaan tersebut cenderung mengarah pada deklamasi.
Dalam membaca puisi, teks tetap menjadi bagian penting dari proses pembacaan. Keberadaan teks bukanlah penghalang ekspresi, melainkan sarana untuk menjaga hubungan pembaca dengan kata-kata yang ditulis penyair. Dari teks itulah pembaca menelusuri makna, menghidupkan bunyi, dan membangun penafsiran.
Pembaca puisi juga harus mampu menguasai bahasa tubuh. Ekspresi wajah, kontak mata, sikap tubuh, dan gerak yang terukur dapat memperkuat penyampaian puisi. Seluruh unsur tersebut perlu menyatu dengan vokal sehingga pembacaan terasa utuh dan tidak kehilangan kekuatan.
Sayangnya, dalam sejumlah penampilan, suara pembaca puisi masih terdengar dibuat-buat, sementara tubuh tampak kaku dan tegang. Akibatnya, kelenturan ekspresi tidak tercapai dan kekuatan vokal gagal tersampaikan secara maksimal.
Padahal, ekspresi yang baik bukanlah ekspresi yang berlebihan, melainkan ekspresi yang lahir dari pemahaman, penghayatan, dan penguasaan teknik.
Seorang pembaca puisi semestinya mampu memikat, bahkan membius penonton melalui perpaduan suara dan tubuhnya.
Seorang pembaca puisi semestinya mampu memikat, bahkan membius penonton melalui perpaduan suara dan tubuhnya.
Untuk mencapai itu, ia perlu memahami musikalitas yang terkandung dalam puisi serta menangkap irama yang telah dibangun oleh penyairnya. Dengan begitu, puisi tidak hanya terdengar sebagai rangkaian kata, tetapi menjelma menjadi pengalaman batin yang dapat dirasakan bersama.
Pada akhirnya, menjadi pembaca puisi yang andal bukanlah perkara bakat semata. Ketekunan berlatih, kepekaan rasa, penguasaan teknik, dan kedalaman interpretasi merupakan unsur yang harus terus diasah. Puisi memiliki jiwa, dan tugas pembacalah menghadirkan jiwa itu melalui suara, tubuh, dan penghayatan.
Bravo!
Tentang Penulis
Dr. Sulaiman Juned, S.Sn., M.Sn., adalah sastrawan, esais, kolumnis, dan sutradara teater. Ia merupakan pendiri Sanggar Cempala Karya Banda Aceh (1986), pendiri UKM Teater Nol Universitas Syiah Kuala Banda Aceh (1990), serta pendiri UKM PersMa Pituluik ISI Padangpanjang. Ia juga mengajar di Jurusan Seni Teater dan Program Pascasarjana ISI Padangpanjang.
Karya-karyanya telah diterbitkan dalam berbagai buku puisi, cerpen, esai, kolom, dan naskah lakon, baik secara tunggal maupun bersama penulis lain. Ia juga dikenal sebagai pembaca puisi yang andal. Pada 2012–2015, ia menjadi Ketua Panitia Pendirian Kampus Seni ISBI Aceh. Saat ini, ia menjabat sebagai Ketua Umum Majelis Adat Aceh (MAA) Perwakilan Sumatera Barat.




