Pasbana - Seorang ayah mungkin rela bekerja hingga larut malam demi memastikan anak-anaknya memiliki kehidupan yang lebih baik. Ia menyiapkan rumah, pendidikan, makanan, dan segala kebutuhan keluarga. Namun, ada satu warisan besar yang kerap luput dari perhatian: lingkungan tempat anak-anak itu akan menjalani kehidupannya kelak.
Sebab, apa gunanya membangun masa depan anak dengan susah payah jika hutan terus kehilangan pepohonan, sungai tercemar, tanah rusak, dan udara semakin sulit dihirup? Masa depan bukan hanya soal apa yang disiapkan orang tua di dalam rumah, tetapi juga tentang bagaimana mereka menjaga dunia di luar rumah.
Di sinilah makna keayahan semestinya melampaui urusan domestik.
Menjadi ayah bukan sekadar mengajarkan anak berkata jujur, menghormati orang lain, dan berani membela kebenaran. Seorang ayah juga perlu memperlihatkan nilai-nilai itu melalui tindakan nyata, termasuk ketika berhadapan dengan persoalan lingkungan.
Anak-anak adalah pengamat yang jujur. Mereka mungkin belum memahami persoalan investasi, industri, kebijakan pembangunan, atau kepentingan ekonomi. Namun, mereka bisa melihat apakah orang tuanya berani bersuara ketika sesuatu yang tidak benar terjadi.
Diam memang terkadang terasa lebih aman. Ada kekhawatiran kehilangan jabatan, terganggunya bisnis, rusaknya hubungan, atau berhadapan dengan orang-orang berpengaruh. Tetapi tanggung jawab sosial tidak semestinya berhenti hanya karena ada kepentingan pribadi yang harus dijaga.
Terlebih, kerusakan lingkungan bukan persoalan yang dampaknya berhenti di satu tempat. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), polusi udara berkaitan dengan jutaan kematian dini setiap tahun. Sementara perubahan iklim dan kerusakan ekosistem turut mengancam kesehatan, ketahanan pangan, serta kualitas hidup generasi mendatang.
Tentu, bersikap kritis tidak berarti harus membenci seseorang. Mengkritik kebijakan bukan berarti memusuhi pejabat. Meminta pertanggungjawaban perusahaan bukan berarti menolak dunia usaha. Justru, kritik yang berbasis fakta, disampaikan secara santun, dan disertai solusi merupakan bagian penting dari kepedulian masyarakat.
Lalu, apa yang bisa dilakukan seorang ayah?
Mulailah dari hal sederhana: mengajarkan anak menjaga lingkungan, mengurangi sampah, menghemat air, dan menghargai alam. Lebih jauh, berani menyampaikan aspirasi, mendukung kebijakan yang berpihak pada kelestarian lingkungan, serta mengawasi kegiatan pembangunan di sekitar tempat tinggal.
Pada akhirnya, gerakan keayahan tidak cukup hanya membicarakan kedekatan emosional antara ayah dan anak. Ia juga perlu menghadirkan kepedulian terhadap kehidupan sosial dan lingkungan.
Sebab, warisan seorang ayah bukan hanya rumah, tabungan, atau pendidikan. Ada tanah, air, udara, dan alam yang juga akan diwariskan kepada anak cucunya.
Jangan sampai suatu hari anak-anak bertanya bukan tentang apa yang telah kita berikan kepada mereka, melainkan mengapa kita memilih diam ketika tempat mereka hidup sedang kehilangan masa depannya.
Menjadi ayah berarti menjaga kehidupan, hari ini dan untuk generasi yang belum lahir.
"Jangan mengaku sedang menyiapkan masa depan anak, jika hari ini kita memilih diam ketika tanah, air, dan udara yang akan mereka warisi sedang dirusak."
(*)




