Notification

×

Iklan

Iklan

Ekonomi RI Tumbuh 5,47%, tetapi Daya Beli dan Konsumsi Mulai Melemah

Jumat, 06 November 2026 | 10:31 WIB
 


Pasbana - Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III-2026 mencapai 5,47 persen secara tahunan (year-on-year/YoY), melampaui ekspektasi pasar yang berada di kisaran 5,2 persen. Angka ini sekaligus menjadi pertumbuhan tertinggi dalam beberapa kuartal terakhir, memperlihatkan bahwa aktivitas ekonomi nasional masih cukup tangguh di tengah tekanan daya beli dan ketidakpastian global.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pertumbuhan tersebut lebih tinggi dibandingkan kuartal II-2026 sebesar 5,29 persen dan periode yang sama tahun lalu sebesar 5,04 persen. Secara kumulatif, ekonomi Indonesia selama sembilan bulan pertama 2026 tumbuh 5,45 persen, sedangkan secara kuartalan ekonomi meningkat 1,59 persen.

Meski angka utama terlihat solid, struktur pertumbuhannya menyimpan sejumlah catatan. Akselerasi ekonomi pada kuartal III terutama ditopang oleh membaiknya kontribusi perdagangan luar negeri dan meningkatnya perubahan inventori. Sementara itu, beberapa mesin utama ekonomi justru menunjukkan perlambatan.

Konsumsi rumah tangga, yang selama ini menjadi tulang punggung PDB Indonesia, tumbuh 5,04 persen. Angka tersebut relatif stagnan selama dua kuartal terakhir dan melambat dari 5,52 persen pada kuartal I.

Pelemahan ini tercermin dari rata-rata Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Bank Indonesia yang turun menjadi 117,8 dari 120,6 pada kuartal sebelumnya. Secara kuartalan, konsumsi rumah tangga bahkan terkontraksi 0,57 persen.

Di sisi lain, konsumsi pemerintah masih tumbuh 8,9 persen, tertinggi di antara komponen pengeluaran. Belanja pegawai dan program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi pendorongnya. Namun, pertumbuhannya melambat dari 16 persen pada kuartal II seiring memudarnya efek basis rendah.

Investasi atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) juga melambat menjadi 6,06 persen dari 6,87 persen. Meski demikian, realisasi investasi tetap meningkat 7,6 persen secara tahunan menjadi Rp528,7 triliun.

Kabar lebih positif datang dari perdagangan luar negeri. Kontribusi negatif ekspor neto menyempit menjadi 0,3 poin persentase dari 0,9 poin persentase pada kuartal II. Neraca perdagangan bahkan berbalik surplus sekitar US$7 miliar, setelah sebelumnya defisit sekitar US$2 miliar. Ekspor nonmigas meningkat 9,4 persen secara kuartalan, sementara impor migas turun 22,7 persen.

Tantangan berikutnya berada pada kuartal IV-2026. Basis pertumbuhan yang lebih tinggi pada kuartal IV-2025 sebesar 5,39 persen dan tekanan daya beli akibat kenaikan harga pangan serta harga jual produsen berpotensi membatasi ekspansi ekonomi.

Artinya, pertumbuhan 5,47 persen memang menjadi kabar baik, tetapi keberlanjutannya akan sangat ditentukan oleh kemampuan menjaga konsumsi masyarakat, memperkuat investasi, dan mempertahankan kinerja ekspor. Sebab, pertumbuhan ekonomi yang sehat bukan hanya soal angka tinggi, melainkan juga kekuatan daya beli dan aktivitas produktif masyarakat.(*)

IKLAN

×
Kaba Nan Baru Update