Notification

×

Iklan

Iklan

Urat Nadi Dakwah dan Cahaya Islam Di Kampung

Rabu, 04 November 2026 | 10:01 WIB


Guru Ngaji: Jarang Dihormati, tetapi Selalu Dibutuhkan

Oleh: Buya Zulhamdi

Pasbana - Ada sebuah kenyataan yang sering luput dari perhatian kita: guru ngaji adalah orang yang jarang mendapatkan penghormatan yang layak, tetapi selalu dibutuhkan kehadirannya. Mereka mungkin tidak selalu dilibatkan dalam pertemuan penting, tidak selalu didengar pendapatnya, bahkan terkadang dilupakan dalam berbagai kegiatan masyarakat. 

Namun, ketika anak-anak belum bisa membaca Al-Qur’an, ketika surau membutuhkan pengajar, dan ketika generasi muda perlu dibimbing dalam agama, masyarakat kembali mencari mereka.

Mereka mungkin tidak berada di panggung kehormatan, tetapi berada di garis depan menjaga kehidupan agama di kampung.

Padahal, kemuliaan guru ngaji tidak diukur dari jabatan, kedudukan, ataupun penghargaan manusia. Kemuliaannya terletak pada ilmu yang diajarkan, kesabaran membimbing murid, dan pengabdian menanamkan nilai-nilai Al-Qur’an. Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari). 

Inilah yang seharusnya menjadi kekuatan bagi setiap guru ngaji. Jangan biarkan minimnya penghargaan manusia membuat hati lelah dalam mengajarkan kebaikan.

Kepada Guru Ngaji


Kepada para guru ngaji, bersabarlah. Mungkin hari ini murid-murid masih terbata-bata membaca ayat suci, tetapi kelak mereka bisa menjadi imam, orang tua yang mengajarkan Al-Qur’an kepada anaknya, bahkan menjadi orang yang bermanfaat bagi umat. 

Tidak semua hasil pengabdian harus disaksikan hari ini. Ada amal yang tumbuh perlahan, tetapi pahalanya terus mengalir. Namun, ingatlah, sabar bukan berarti membiarkan diri diperlakukan semena-mena. Guru ngaji juga manusia yang memiliki keluarga, kebutuhan hidup, dan hak untuk mendapatkan penghargaan yang layak.

Kepada Masyarakat; 


Kepada masyarakat, sadarilah bahwa guru ngaji adalah urat nadi dakwah di kampung. Melalui merekalah tradisi mengaji diwariskan, anak-anak mengenal Al-Qur’an, dan nilai-nilai agama tetap hidup di tengah masyarakat. Jika guru ngaji kehilangan semangat, surau bisa kehilangan pengajar, dan perlahan-lahan mata rantai pendidikan agama bisa terputus. 

Karena itu, jangan hanya membutuhkan guru ngaji ketika ada kegiatan keagamaan. Hormati mereka, libatkan dalam kehidupan sosial, dengarkan nasihatnya, dan perhatikan kesejahteraannya.

Jangan sampai kita begitu mudah mengeluarkan biaya untuk kegiatan seremonial, tetapi terlalu sulit memberikan perhatian kepada orang-orang yang setiap hari menjaga pendidikan agama anak-anak kita. 

Keikhlasan guru ngaji jangan dijadikan alasan untuk mengabaikan kesejahteraan mereka. Penghormatan tidak cukup dengan pujian dan ucapan terima kasih, tetapi harus diwujudkan melalui kepedulian dan tindakan nyata.

Ada ungkapan yang patut direnungkan: “Guru ngaji itu jarang dihormati, tetapi selalu dibutuhkan. Ada orang dihormati karena posisinya, tetapi guru ngaji dibutuhkan karena kontribusinya.” 

Maka, kepada guru ngaji, teruslah menyalakan cahaya pengabdian. Kepada masyarakat, jangan menunggu surau sepi untuk menyadari pentingnya mereka. Sebab kampung yang masih memiliki guru ngaji sesungguhnya masih memiliki penjaga cahaya. Jangan sampai kita kehilangan penjaga dakwah hanya karena terlalu lama lupa menghargai pengabdiannya.(*)

IKLAN

×
Kaba Nan Baru Update