Notification

×

Iklan

Iklan

Emas Rebound ke US$4.030, Saham Emiten Tambang Ikut Bergerak: Ini Pemicunya

Kamis, 05 November 2026 | 10:45 WIB


Pasbana - Harga emas dunia kembali menunjukkan taringnya. Pada perdagangan intraday Rabu (4/11/2026), emas spot melonjak hingga 2,5 persen ke kisaran US$4.030 per troy ounce. Kenaikan ini menjadi penguatan intraday tertinggi sejak Agustus 2026 sekaligus menandai rebound 3,9 persen dari titik terendah tahun ini di US$3.870 per ounce pada 30 Oktober.

Namun, reli tersebut belum sepenuhnya menghapus tekanan yang membayangi pasar emas. Sejak awal 2026, harganya masih terkoreksi 6,9 persen dan berada sekitar 28 persen di bawah rekor tertinggi US$5.595 per ounce yang tercatat pada 28 Januari 2026.

Pemicu utama penguatan kali ini datang dari pelemahan dolar AS dan penurunan imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat. Keduanya menjadi faktor penting bagi emas karena logam mulia ini tidak memberikan bunga atau kupon seperti instrumen obligasi.

Sentimen pasar berubah setelah Partai Demokrat memenangkan kendali atas Kongres AS dalam pemilu paruh waktu atau midterm election. Investor menilai dominasi Demokrat berpotensi membatasi agenda fiskal Presiden Donald Trump, termasuk ruang penerbitan utang baru.

Dampaknya terlihat pada pasar keuangan. Yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun sempat turun 7 basis poin menjadi 4,89 persen. Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) melemah ke 101,41, level terendah dalam sebulan.

Tekanan terhadap dolar juga dipengaruhi kekhawatiran bahwa pengetatan regulasi kecerdasan buatan (AI) dapat menghambat pertumbuhan ekonomi AS, yang belakangan banyak ditopang belanja terkait teknologi tersebut.

Sebelumnya, emas kehilangan hampir 7 persen sepanjang Oktober dan sempat jatuh di bawah US$4.000 per ounce. Inflasi AS yang kembali memanas, ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed, serta lonjakan harga minyak Brent hingga US$117 per barel menjadi kombinasi tekanan bagi logam mulia.

Rebound emas turut menggerakkan saham sejumlah emiten tambang di Bursa Efek Indonesia. ANTM menguat 8,33 persen, ARCI 6,75 persen, PSAB 3,57 persen, dan EMAS 2,91 persen. Sebaliknya, BRMS turun 6,67 persen. AMMN dan MDKA juga melemah masing-masing 1,46 persen dan 0,27 persen, seiring penurunan harga tembaga hingga 1,5 persen.

Ke depan, arah emas akan banyak ditentukan oleh dua faktor: perkembangan inflasi AS dan kebijakan suku bunga The Fed, serta negosiasi AS-Iran. Harga Brent memang turun ke sekitar US$104 per barel, tetapi risiko konflik geopolitik masih membayangi pasar.

Bagi investor, rebound emas belum otomatis menjadi sinyal reli berkelanjutan. Pergerakan dolar, obligasi, minyak, dan logam industri tetap perlu dicermati sebelum mengambil keputusan pada saham-saham pertambangan. (*)

IKLAN

×
Kaba Nan Baru Update