Notification

×

Iklan

Iklan

Sumbangsih Besar Sang Photographer Untuk Kemerdekaan RI

19 Agustus 2016 | 00.15 WIB Last Updated 2016-08-19T02:27:13Z
            

Berbanggalah kita yang berprofesi atau menekuni hobi photografi. Karena ternyata cukup besar jasa Photographer dalam meraih kemerdekaan Republik Indonesia ini. Dokumentasi paling berharga dalam sejarah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945 adalah foto-foto kala Naskah Proklamasi dibacakan oleh Bung Karno dengan didampingi oleh Bung Hatta, foto naskah proklamasi, dan momen dikala Bendera Sang Saka Merah Putih dikibarkan di Jalan Pegangsaan Timur waktu itu.
Tanpa foto-foto tersebut, maka keabsahan dari momen bersejarah dan pengakuan terhadap legalitas Proklamasi itu sendiri akan mengalami kendala.

Dibalik karya-karya foto yang monumental dan bersejarah tersebut, banyak orang terlupa oleh sebuah nama sang Photographer nya. Bahkan mungkin di dalam buku sejarah Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama maupun Sekolah Menengah Atas jarang disebutkan nama dan jasa Sang Photographer Momen Proklamasi Kemerdekaan RI pada tahun 1945. Dialah Soemarto Frans Mendoer.

Biografi Frans Soemarto Mendoer
Frans Soemarto Mendur lahir tahun 1913 dan  meninggal tahun 1971 pada umur 57/58 tahun, sementara tanggal tepatnya tidak tercatat dengan jelas. Frans Soemarto adalah salah satu dari para fotografer yang mengabadikan detik-detik proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia 17 Agustus 1945. Bersama saudara kandungnya, Alex Mendur, mereka turut mengabadikan persitiwa bersejarah ini.
            

Frans Mendur bersama Alex Mendur, Justus Umbas, Frans "Nyong" Umbas, Alex Mamusung dan Oscar Ganda, kemudian mendirikan IPPHOS (Indonesia Press Photo Service) pada 2 Oktober 1946.


Tokoh Pemotret Peristiwa Proklamasi 
Frans Mendur mendengar kabar dari sumber di harian Asia Raya bahwa ada peristiwa penting di kediaman Soekarno. Alexius Impurung Mendur, abangnya yang menjabat kepala bagian fotografi kantor berita Jepang Domei, mendengar kabar serupa. Kedua Mendur bersaudara ini lantas membawa kamera mereka dan mengambil rute terpisah menuju kediaman Soekarno. Kendati Jepang telah mengaku kalah pada sekutu beberapa hari sebelumnya, kabar tersebut belum diketahui luas di Indonesia. Radio masih disegel Jepang dan bendera Hinomaru masih berkibar di mana-mana. Patroli tentara Jepang masih berkeliaran dan bersenjata lengkap.  Dengan mengendap-endap, Mendur bersaudara berhasil merapat ke rumah di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56, Cikini, Jakarta, tatkala jam masih menunjukkan pukul 05.00 pagi.


Fotografer Peng- abadi Momen Proklamasi Kemerdekaan RI
Pukul 08.00, Soekarno masih tidur di kediamannya lantaran gejala malaria. Soekarno juga masih lelah sepulang begadang merumuskan naskah proklamasi di rumah Laksamana Maeda, Jalan Imam Bonjol Nomor 1.



 Dibangunkan dokternya untuk minum obat, Soekarno lantas tidur lagi dan bangun pukul 09.00. Di Jakarta, pukul 10.00 pada hari Jumat pagi itu Soekarno dan Mohammad Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Upacara proklamasi kemerdekaan berlangsung sederhana, tanpa protokol. Hanya Mendur bersaudara yang hadir sebagai fotografer pengabadi peristiwa bersejarah Indonesia.

Frans berhasil mengabadikan tiga foto, dari tiga frame film yang tersisa. Foto pertama, Soekarno membaca teks proklamasi. Foto kedua, pengibaran bendera Merah Putih oleh Latief Hendraningrat, anggota PETA (Pembela Tanah Air). Foto ketiga, suasana upacara dan para pemuda yang menyaksikan pengibaran bendera.

Add caption

Sempat Diburu Tentara Jepang Dan Bertaruh Nyawa Untuk Foto
Setelah menyelesaikan tugas jurnalisnya itu, Frans langsung bergegas meninggalkan rumah kediaman Soekarno, karena menyadari bahwa tentara Jepang tengah memburunya.
Frans menjadi satu-satunya orang yang mengabadikan momen sakral itu dan sangat berjasa, karena "Alex Alexius Impurung Mendoer", kakak kandungnya yang juga sempat memotret prosesi bersejarah tersebut, harus merelakan kameranya dirampas oleh tentara Jepang.



Dan sewaktu tentara Jepang menemui Frans untuk meminta negatif foto Soekarno yang sedang membacakan teks proklamasi, Frans mengaku film negatif itu sudah diambil oleh Barisan Pelopor. Padahal negatif foto peristiwa yang sangat penting itu ia sembunyikan dengan cara menguburnya di tanah, dekat sebuah pohon di halaman belakang kantor harian Asia Raya.
Kalau saja saat itu negatif film tersebut dirampas oleh tentara Jepang, maka kemungkinan besar yang terjadi adalah generasi sekarang dan generasi yang akan datang tidak akan pernah tahu, seperti apa peristiwa sakral tersebut berlangsung.
Bahkan, mengenai kehadiran Frans di rumah Soekarno pada waktu itu, wartawan senior Alwi Shahab menulis, “Andaikata tidak ada Frans Mendoer, maka kita tidak akan punya satu foto dokumentasi pun dari peristiwa proklamasi kemerdekaan…”
Tulisan itu dimuat di harian Republika edisi Minggu, 14 Agustus 2005, tiga hari menjelang peringatan Hari Ulang Tahun Proklamasi Kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang ke-60.
Pencucian tiga buah foto bersejarah itu juga tidaklah mudah, karena dihalang-halangi pihak Jepang. Frans bersama Alex terpaksa secara diam-diam harus mengendap, memanjat pohon pada malam hari, dan melompati pagar di samping kantor Domei (sekarang kantor berita ANTARA) untuk bisa sampai ke sebuah lab foto guna mencetak foto-foto tersebut.
Padahal, bila dua bersaudara itu tertangkap oleh tentara Jepang, mereka sudah pasti akan dipenjara, bahkan bisa-bisa dihukum mati. Namun, dengan tekad yang kuat dan niat yang tulus, mereka dapat terselamatkan dalam aksinya itu.
Foto pembacaan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia itu pertama kali dimuat di harian Merdeka pada tanggal 20 Februari 1946, lebih dari setengah tahun setelah pembuatannya. Film negatif catatan visual itu sekarang sudah tak dapat ditemukan lagi.
Ada dugaan, bahwa negatif film itu ikut hancur bersama semua dokumentasi milik kantor berita Antara yang dibakar pada peristiwa di tahun 1965. Waktu itu, sepasukan tentara mengambil seluruh koleksi negatif film dan hasil cetak foto yang dimiliki Antara lalu membakarnya.


Foto Karya Mendur Adalah Dokumentasi Terpenting

Peringatan kemerdekaan 17 Agustus 1945 merupakan monumen kolektif terbesar yang secara efektif didistribusikan ke setiap kepala manusia Indonesia agar terus menerus diingat. Setiap orang, di kampung-kampung, di kota, di jalan raya, di pusat perbelanjaan dikepung mitos kemerdekaan. Di mana-mana, orang bergotong-royong membangun gapura di mulut gang, jalan kecil lengkap dengan bambu runcing, lalu beberapa sekuel ilustrasi pejuang yang berlumuran darah. Heroik. Tak ada yang berubah darah, ikat kepala merah-putih, dan bambu runcing kepalang menjadi penanda (ikon) bagi konstruksi mitos tersebut. Surat kabar nasional menurunkan ironi biografi pejuang yang sekarang hidup miskin. 

Kemerdekaan, atau tepatnya momen kemerdekaan sebagai monumen ingatan sesungguhnya bersanding dalam satu sisi dengan monumen lupa. Tentu, ingatan generasi sekarang akan jauh berbeda dengan ingatan generasi yang mengalami revolusi itu sendiri. Begitu pula kadar untuk melupakannya. Satu contoh ironi yang selalu dilupakan orang dalam “mengingat” peristiwa kemerdekaan adalah foto peristiwa proklamasi. Salah satu karya foto yang monumental dalam sejarah kemerdekaan Indonesia adalah foto yang dijepret oleh Frans Soemarto Mendur, seorang wartawan IPPHOS (Indonesia Press Photo Services). Foto tersebut memuat adegan pembacaan teks proklamasi dan pengibaran bendera merah putih sebagaimana yang kita saksikan di dalam buku-buku sejarah perjuangan. Itu adalah satu-satunya foto yang menjadi dokumentasi terpenting dalam sejarah kemerdekaan Indonesia. Sangat disayangkan dan sungguh ironis, tidak ada dokumentasi lain yang kita miliki seputar pemotretan proklamasi kemerdekaan selain jepretan Frans itu. Bayangkan kalau Frans luput menjepret. Jangan-jangan proklamasi kemerdekaan kita hanya berlalu dari mulut ke mulut. (*)

Sumber: 
Wikipedia.org
Guru sejarah.com
Fotografer.net

×
Berita Terbaru Update