PDIP Gabung, Bumerang bagi Mulyadi dan peluang Mahyeldi -->

Iklan Semua Halaman


PDIP Gabung, Bumerang bagi Mulyadi dan peluang Mahyeldi

Admin Minangkabau
03 September 2020
Oleh : El Husein (*


Pasbana.com -- Baru-baru ini kancah perpolitikan Sumatera Barat dibuat buncah oleh salah seorang elit politik Nasional yang berasal dari Partai PDI P yaitu Puan Maharani, sesaat setelah mengantarkan SK dukungannya kepada salahsatu pasangan Cagub-cawagub dari Partai Demokrat yaitu Bapak Ir. Mulyadi-Ali Mukhni. 


Karena beliau mengeluarkan pernyataan "Semoga Sumatera Barat menjadi provinsi yang memang mendukung negara Pancasila"  hal ini sangat tidak mengenakan bahkan serasa disambar petir disiang bolong bagi orang Minangkabau, sehingga salah seorang senator Sumbar anggota DPD RI  yaitu bapak Alirman Sori mengritik pernyataan tersebut. 


Penyataan Puan ini sangatlah menyakitkan dan tidak berdasar,  seolah-olah terkesan Masyarakat Minangkabau selama ini bukan pendukung Negara Pancasila seperti yang perkataan oleh Politisi PDIP tersebut. 


Padahal kalau ditarik lagi kebelakangan dalam sejarah pergulatan bangsa, maka kita akan menemukan tokoh-tokoh pendiri bangsa dari Ranah Minang yang sumbangsih pemikiranya tidak sedikit untuk mendirikan negara Pancasila ini, mungkin Puan kurang baca atau sengaja pura-pura tidak tahu dengan sejarah ini,  tapi ini "sangat mustahil rasanya" sebab Puan adalah cucunya sang Proklamator dan anaknya Megawati.


Saya takutnya pernyataan itu sengaja dibuat untuk mendegradasi elektabilitas paslon yang didukungnya, sebab jika kita telaah ruang Politik Nasional beberapa Periode belakangan PDIP dan Demokrat cukup lama berseberangan, bahkan salingkritik diantara kedua kubu tidak sulit kita temukan di media-media cetak ataupun digital. 


Dan ingat,  Ir Mulyadi merupakan salahsatu tokoh senior di Partai Demokrat, jangan sampai masuknya PDIP untuk mendukung paslon ini seolah-olah menjadi duri dalam daging,  ibarat pepatah minang "Manguntiang dalam lipatan, manundo kawan sairiang". 


Kalau seandainya benar seperti yang disangkakan di atas, maka sangat disayangkan elektabilitas Ir Mulyadi yang dilihat dari beberapa survey belakang cukup tinggi,  kalau tidak nomor satu maka beliau nomor urut dua, bersaing ketat dengan Buya Mahyeldi.


Elektabilitas yang sudah susah payah dibangun bisa jadi malah terjun bebas dan tambah mengangkat elektabilitas Buya Mahyeldi yang jadi pesaingan terdekat dan terberatnya. Jika lawan politik yang saat ini elektabilitas mereka cukup rendah bisa memainkan isu ini ditengah-tengah masyarakat Minang yang sedikit sensitif dengan PDIP,  apalagi ditambah dengan pernyataan baru-baru ini dari Puan maka sudah terbayangkan apa yang terjadi, saya rasa bapak Ir Mulyadi pun paham dengan pepatah "alun takilek alah takalam". 


Apalagi dikubu Gerindra melalui Andre Rosiade sudah mulai mengangkat isu ini dengan mengatakan bahwa Paslon mereka lebih Pancasila dari paslon yang didukung oleh PDIP tersebut.  Hal ini wajar saja dilakukan, sebab Andre sangat faham isu ini begitu sensitif ditelinga Masyarakat sumbar dan ini juga bisa sedikit banyaknya mengangkat kembali elektabilitas NA-IC yang diusung oleh Gerindra. 


Imbas dari pernyataan politisi PDIP tersebut sangat diprediksi berdampak banyak pada paslon yang mereka dukung. Kenapa demikian, berawal dari Pilpres sebelumnya paslon yang diusung oleh PDIP sangat tidak disukai oleh masyarakat Minangkabau, buktinya Bapak Jokowi  sedikit mendapatkan suara di sumbar meskipun bapak Presiden sudah berulang kali datang kesini untuk melakukan pendekatan ataupun kunjungan kerja atau apalah namanya.  Itu artinya orang minangkabau adalah masyarakat yang memiliki prinsip yang kuat terhadap pilihan pemimpin. 


Maka dimulai dari Merapatnya PDIP ke paslon Ir. Mulyadi-Ali Mukhni dan keluarnya pernyataan PDIP ini, maka saya prediksi kita akan melihat perubahan peta politik Pilgub dalam beberapa bulan kedepan kalau seandainya Paslon Ir Mulyadi-Ali Mukhni ini tidak bergerak cepat mencarikan formula jitu untuk meredam sensitifitas ini, dan ingat Isu ini akan jadi isu hangat bagi paslon lawan dan seksi ditelinga Masyarakat Minangkabau. (*)


*) Penulis adalah Pemerhati Perpolitikan