Notification

×

Iklan

Iklan

Sedekah Nilai Dalam Pendidikan Indonesia

18 Februari 2021 | 20:31 WIB Last Updated 2021-02-18T13:33:54Z

Oleh : Zulkarnaen, M. Sn. (*



Pasbana.com -- Suatu ketika dalam rapat antara kepala sekolah dan guru-guru di suatu sekolah membahas nilai siswa.Ini membuat hati dan pikiran saya merasa, ada hal yang ganjil karena  guru-guru dianjurkan sedekah nilai kepada siswa, alasan kepala sekolah nilai di dalam rapor atau  dalam buku penilaian itu,  tidak ada kaitannya dengan masa depan  siswa atau siswa.

Lanju cerita kepala sekolah dalam rapat,  bertemu dengan siswa yang pintar, etikanya kurang baik,  tidak menyapa tidak mau bersalaman dan pura-pura tidak kenal. Lalu di satu sisi, ada siswa dengan nilai yang rendah yang tidak pintar menyapa, dia mau bawa mobil pick up dan punya bisnis yang cukup baik. Siswa yang tidak pintar ini tidak bisa apa-apa di sekolah nilainya semuanya rendah. Suatu saat kepala sekolah bertanya,  kamu bisa apa? si siswa tidak bisa menjawab pertanyaan dari pelajaran beberapa guru. Siswa itu tidak bisa menyelesaikan tugas-tugasnya di sekolah, juga  dirumah. lalu untuk memberikan penilaian kepada siswa yang tidak bisa apa-apa ini,  kepala sekolah memberikan tugas di luar pelajaran yang diajarkan sekolah yang sifatnya kerja secara fisik, siswa tersebut dapat melakukannya. Saat memberikan tugas itu, kepala sekolah memberikan ceramah tentang  kehidupan.  Lalu nilai semua mata pelajaran yang gagal itu diubah menjadi nilai yang standar.

Dari apa yang dilakukan kepala sekolah,  pertanyaannya adalah, apakah nilai rendah itu bisa membawa masa depan atau nilai tinggi juga bisa menentukan masa depan?  kemudian pertanyaan berikutnya adalah bagaimsiswaah nilai kebenaran (kejujuran) diajarkan di bangku pendidikan? misal seberapa mampu siswa itu saja yang  ditulis.

Pertanyaan berikutnya apakah dia tinggal kelas atau dia gagal dalam sekolah itu bukan urusan sekolah?  Disisi lain sekolah tugasnya adalah membina siswa yang mau belajar mengerti tentang kehidupan bahwa kemampuan memperoleh nilai itu adalah suatu proses yang panjang dalam miniatur menjalankan kehidupan yang rumit ini atau menjalankan kehidupan yang kompleks ini.

Sehingga pada suatu saat keluar dari sekolah menghadapi dunia lain, dunia kerja, dunia bisnis,  dan bersosialisasi dengan masyarakat itu menjadi pelajaran yang telah didapat dari bangku pendidikan.  Jika apa yang didapatnya di sekolah adalah hal yang mudah semua, ini berkesan pemanjaan kepada siswa,  maka di masyarakat atau di tempat kerja si siswa tentu manja, tidak mau bekerja keras, tidak empati, tidak mengerti arti keadilan.

Suatu ketika saya bersama guru-guru pergi  untuk studi banding ke sekolah swasta tingkat SMA di Kota Medan. Apa yang saya dapat dari sekolah itu? pada level pertama (kelas 10) sekolah meninggalkan 15 orang dari 40 siswa tiap kelas. Artinya di dalam kelas itu semua terjaring dalam standar yang dibutuhkan oleh sekolah jika siswa tidak mampu, siswa harus belajar giat. Berusaha keras sehingga mencapai poin yang tinggi,  ini artinya usaha keras ini dipupuk  dan dibina  sejak di bangku pendidikan, tidak ada manja atau malas,  tidak ada sesuatu kesenangan yang diberikan secara gratis secara cuma-Cuma. Sejak dibangku pendidikan  yang bernama sekolah formal,  mengajarkan perjuangan itu penting,  kebenaran itu penting,  kebenaran (kejujuran)  diajarkan di bangku sekolah, jujurkan nilai yang diperoleh siswa atau hasil yang diperolehnya adalah nilai sedekah, bukan sesuatu yang diberikan begitu saja, atau sedekah. 

Kemudian pada level kedua (kelas 11)  siswa semuanya sudah terjaring dalam standar yang baik dan benar. Baik maksudnya siswa sudah menguasai pelajaran dilakukan sejak level pertama. Benar berarti hasil kerja siswa itu sendiri dari  siswa. Ini menggambarkan kebaikan dan kebenaran sudah diajarkan secara mandiri,  paham dengan apa yang dipelajari dan dikuasai itulah. Demikian  yang saya peroleh pada studi banding sekolah swasta di kota Medan tahun 2012.

Pada level ketiga (kelas 12) siswa tidak perlu lagi mengikuti bimbel karena bahan baku, bahan dasar yang diperoleh di kelas 10 sudah dikuasai, adanya penguasaan pembelajaran hingga tuntas pada level ketiga yang akhirnya di bangku kuliah siswa sudah siap dengan materi berikutnya atau pun jika tidak melanjutkan perkuliahan,  siswa sudah dibekali ilmu kehidupan yakni kebaikan dan kebenaran.

Setelah lulus kemudia bangku kuliah,  manusia yang telah ditempa ini,  sudah siap di dunia pekerjaan atau di dunia bisnis. Tanggung jawab sudah diajarkan,  sudah diperoleh sudah dipraktekkan saat dibangku pendidikan,  kebenaran sudah didapat lalu kerja keras sudah terbiasa. Demikian kata kepala sekolah tempat saya mengikuti studi banding . 

Sekarang disisi lain saya selalu mendapatkan pernyataan kepala sekolah bahwa bersedekah dengan nilai karena nilai tidak menentukan masa depan siswa,  karena nilai rapor tidak menentukan masa depan. Semua dinamika itu bisa saja terjadi yang menjadi masalah adalah ketika seorang guru SD atau ketika Sekolah Dasar memberikan nilai dengan begitu mudah,lalu siswa diluluskan,  masuk ke SMP, padahal siswa  tidak mampu membaca,  lalu sekolah SMP menerima siswa tersebut, membaca saja tidak mampu,  masih membaca seperti siswa TK,  kemudian di tingkat SMA begitu juga,  siswa tidak paham dengan dasar pelajaran di SMP,  lalu masuk ke sekolah SMA.  Begitulah lingkaran ini terjadi, Siswa SMA yang tidak mampu diterima di bangku perkuliahan Karena guru SMA-nya baik,  karena adanya sedekah nilai,  semuanya baik (?) memberikan nilai,  pertanyaan berikutnya  atau perguruan tinggi  bertanya,  ini kenapa siswa seperti ini,  yang sepertinya belum layak diterima  perkuliahan. Begitu seterusnya sampai ke dunia kerja dunia,  bisnis inilah efek dari sedekah nilai. 

Beginilah potret pendidikan, mungkin terjadi diseluruh Indonesia, karena dari berbagai diskusi dari beberapa sekolah di Indonesia, ya begini. Di satu sisi nilai tidak menentukan masa depan,di satu sisi nilai adalah bentuk perjuangan memperoleh kebaikan dan kebenaran.

*). Penulis adalah, Guru Seni Budaya SMPN Binsus Kota Dumai, Anggota Dewan Kesenian  Daerah Kota Dumai, penulis buku, dan  penulis diberbagai media online nasional.